Kamis, 27 Maret 2014

Korupsi dan Kekuasaan

Rasanya melegakan ternyata partainya bukanlah merupakan partai yang terkorup. Itulah yang nampak dari komentar Dewan Pembina Partai Demokrat dan juga peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, Pramono Edhie Wibowo, terkait rilis indeks korupsi partai politik 2002-2014 yang dikeluarkan oleh Indonesia Coruption Watch (ICW) “partai demokrat bukanlah partai terkorup”. Menurut indeks korupsi yang dirilis oleh ICW perode 2002-2014 (www.antikorupsi.org) sebagai berikut : 1. PDIP (7.7), 2. PAN (5.5), 3. Golkar (4.9), 4. PKB (3.3), 5. PPP (2.7), 6. PKPI (2.1), 7 Gerindra (1.9), 8. Demokrat (1.7), 9. PBB (1.6), 10. Hanura (1.5), 11. PKS (0.3). Pada kesempatan lain, Ruhut Sitompul mengatakan, meski kader Demorat banyak yang terjerat korupsi namun ternyata bukan partai yang terkorup.
            “Aku ada news, terima kasih ICW menyatakan partai terkorup itu Golkar, kedua PDI-P. Yang lain-lain termasuk kami (Demokrat) memang ada korupnya tapi dikit rupanya. Kami partai yang tak main-main dengan korupsi.” ujar Ruhut di KPK (www.merdeka.com, 12/3).
            Itulah rasa syukur dari partai ini. Sederet nama kader partai ini tersandung kasus korupsi. Bahkan belakangan ini kasus korupsi ketua umum demokrat cukup menghebohkan, slogan ‘anti korupsi’ yang didengungkan pun hanya menjadi sekedar slogan. Khawatir citra partainya akan menurun, tapi merasa terselamatkan dengan survey ICW. Namun survey tersebut tidaklah menunjukkan peluang korupsi partai. Apakah partai yang tingkat korupnya tinggi berpeluang korupsi yang lebih besar ? Partai yang tingkat korupnya rendah pun berpeluang korupsi yang besar. Atau apakah parpol yang tingkat korupnya rendah berpeluang korupsinya bertambah sedikit ? Parpol yang tingkat korupnya tinggi pun berpeluang korupsinya bertambah sedikit. Hal tersebut tidaklah pasti. Yang pasti adalah bahwa setiap parpol berpeluang korupsi.
            Persoalan korupsi tak bisa dipungkiri telah berakar dan menjalar di negara ini. Jika diibaratkan akar, maka akarnya tidaklah berakar serabut, namun berakar tunggang. Kader partai politik yang menguasai hampir semua jabatan publik justru telah membangun organisasi untuk saling mendukung tindak korupsi mereka. Bahkan lebih jauh lagi, penguasa bekerja sama dengan pengusaha pada penentuan proyek yang menggunakan dana APBN/APBD. Inilah politik transaksional.
            Tiga pilar utama yang disebut trias politika yang seharusnya menjadi lembaga yang saling mengawasi berubah menjadi trias corruptica, lembaga yang berkomplot melakukan tindak korupsi. Banyaknya kader-kader partai yang terjerat kasus korupsi berimbas pada ketidakpercayaan rakyat kepada partai. Hal ini ditunjukkan pada semakin besarnya angka golput dari pemilu ke pemilu dan dari pilpres ke pilpres. Bahkan kerap kali golput menjadi pemenang pemilu dan pilpres.
            Saat ini, korupsi tak sekedar virus. Karena jika ia virus, maka masih ada kemungkinan mengobatinya. Namun ini merupakan cacat bawaan lahir dari demookrasi. Demokrasi beranggapan bahwa terpusatnya kekuasaan adalah penyebab korupsi. Oleh karena itu, dirumuskanlah trias politica sebagai konsep pemerintahan. Konsep dasarnya adalah kekuasaan di suatu negara tidak boleh dilimpahkan pada satu struktur kekuasaan politik melainkan harus terpisah di lembaga-lembaga negara yang berbeda. Pemisahan kekuasaan tersebut kepada 3 lembaga yang berbeda yaitu : legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Legislatif adalah lembaga untuk membuat undang-undang, eksekutif yang melaksanakan undang-undang, dan yudikatif yang mengawasi jalannya pemerintahan dan negara secara keseluruhan. Menurut demokrasi, dengan terpisahnya 3 kewenangan di 3 lembaga yang berbeda tersebut, diharapkan jalannya pemerintahan negara tidak timpang, terhindar dari korupsi pemerintah oleh suatu lembaga, dan akan memunculkan mekanisme check and balances (saling koreksi, saling mengimbangi).
Hanya saja pemisahan kekuasaan ini tidak serta merta menghilangkan korupsi. Sebab masalahnya bukan dari terpusatnya kekuasaan, melainkan dari asal muasal kekuasaan. Apakah kekuasaan itu terpusat atau terbagi, kalau kekuasaan masih berasal dari rakyat/ kelompok yang penuh dengan kepentingan, maka penyalahgunaan akan selalu terjadi dan korupsi akan semakin marak. Berbeda halnya jika kekuasaan itu berasal dari amanah sang pencipta maka pengawasan tidak hanya bersifat duniawi tapi juga ukhrawi.
Kekuasaan dewasa ini, lebih terlihat sebagai sebuah tempat untuk menghasilkan pundi-pundi kekayaan. Gaji para penguasa terbilang cukup besar ditambah lagi dengan fasilitas-fasilitas mewah yang diberikan negara. Sehingga wajar, kekuasaan hanyalah sebagai tempat memperkaya diri. Kekuasaan dipandang pekerjaan yang diberikan oleh rakyat kepada penguasa dengan memberikan penguasa tersebut sejumlah gaji yang besar.
Terlihat sekali perbedaannya dengan kekuasaan dalam Islam, yang memandang bahwa kekuasaan adalah amanah Sang Pencipta. Pencipta mengamanahkan kekuasaan kepada penguasa dengan menjadi pelayan umat tanpa mendapat gaji hanya tunjangan sandang, pangan, dan papan saja.  Sebab, kekuasaan adalah amanah pencipta maka yang akan membalas semuanya adalah pencipta pula.
Dalam hal kekuasaan, Islam memberikan ketetapan sebagai beri­kut:
Pertama, kekuasaan legislatif hanyalah milik Allah semata, bukan milik manusia. Hanya Allah Swt sajalah Yang menjadi Musyarri‘ (Pembuat Hukum); Yang menetapkan hukum-hukum dalam segala sesuatu, baik dalam masalah ibadah, mua­malah, uqubat (peradilan), dan sebagainya. Tidak boleh sama sekali seorang pun menetapkan hukum, walaupun hanya satu hukum. Firman Allah Swt:
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
Menetapkan hukum hanyalah hak Allah. (TQS. al-An‘âm [6]: 57)
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ
Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. (TQS. al-A‘râf [7]: 54)
Yang dimiliki oleh rakyat adalah kekuasaan atau pemerintahan, bukan kedaulatan. Rakyatlah yang berhak memilih serta mengangkat penguasa. Namun demikian, syariat telah menetapkan bahwa pihak yang berhak memilih dan menetapkan hukum-hukum yang merupakan keharusan bagi pengatu­ran urusan rakyat dan pemerintahan adalah Khalifah saja, bukan yang lain. Ijma sahabat Nabi saw menetapkan bahwa hanya Khalifah sajalah yang berhak memilih dan menetapkan hukum-hukum syariat sebagai undang-undang dasar dan undang-undang lainnya. Dalam hal ini, Khalifah tidak berarti memegang kekuasaan legislatif. Khalifah tidak membuat hukum sendiri, tetapi hanya mengambil hukum-hukum syariat yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya berdasarkan kriteria kekuatan dalil melalui proses ijtihad yang benar. Khalifah tidak boleh menetapkan dan memilih hukum kecuali berupa hukum Allah semata.
Kedua, kekuasaan eksekutif adalah bersumber dari rakyat. Kekuasaan adalah milik umat/rakyat yang dijalankan secara real oleh Khalifah—dan para aparatnya—sebagai wakil rakyat untuk melaksanakan hukum-hukum syariat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan kata lain, umatlah yang berhak memilih para penguasa untuk menjalankan segala perintah dan larangan Allah dalam pemerintahannya. Hadits-hadits tentang bai’at menunjukkan bahwa kekuasaan adalah milik umat. Artinya, bai’at adalah berasal dari kaum Muslim untuk Khalifah, bukan dari Khalifah untuk kaum Muslim. Nabi saw bersabda: 
«بَايَعْنَا رَسُوْلَ اللهِ B عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِيْ المَنْشَطِ وَ الْمَكْرِهِ»
Kami telah membai’at Rasulullah saw untuk didengar dan ditaati, dalam hal yang kami sukai maupun yang tidak kami sukai. (HR. al-Bukhârî, hadits no. 7199)
Ketiga, kekuasaan yudikatif hanyalah dipegang oleh khalifah atau orang yang mewa­kilinya untuk menjalankan kekuasaan tersebut. Khalifahlah yang berhak dan berwenang untuk mengangkat para qâdhî (hakim). Tidak ada seorang pun dari rakyat—baik secara individu­al maupun secara kolektif—yang berhak mengangkat para qâdhî. Hak ini hanya dimiliki oleh Khalifah, bukan yang lain. Nash-nash syariat telah menunjukkan bahwa Rasulullah saw sebagai kepala negara telah memegang sendiri urusan peradilan dan memberikan keputusan di antara orang-orang yang bersengketa. Rasulullah saw, misalnya, telah mengangkat ‘Alî bin Abî Thâlib r.a. sebagai hakim (qâdhî) di Yaman dan mengangkat ‘Abdullâh ibn Nawfal r.a. sebagai qâdhî di Madinah. Semua ini menunjukkan bahwa kekuasaan yudikatif berada di tangan Khalifah dan mereka yang mewakilinya dalam urusan ini.
Keempat, apabila penguasa kaum Muslim berlaku zalim, merampas hak-hak rakyat, melalaikan kewajiban mereka terhadap rakyat, melalaikan salah satu urusan rakyat, atau menyalahi hukum-hukum Islam, maka syariat telah memberikan pemecahannya; yaitu dengan mewajibkan kaum Muslim untuk melakukan koreksi (muhâsabah) dan amar makruf nahi mungkar terhadap para penguasa, bukan melakukan pemisahan kekuasaan sebagaimana dalam konsep Trias Politica. Di dalam sebuah riwayat disebutkan demikian:
«سَتَكُوْنُ أُمَرَاءٌ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنَّ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوْا أَفَلاَ نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: لاَ، مَا صَلُّوْا»
Akan ada para amir (penguasa), lalu di antara kalian ada yang mengakui perbuatan mereka, dan ada pula yang mengingkari mereka. Siapa saja yang mengakui tindakan mereka (karena tidak bertentangan dengan syariat), maka dia tidak diminta tanggung jawabnya. Siapa saja yang mengingkari perbuatan mereka (karena bertentangan dengan syariat), maka dia selamat. Akan tetapi, siapa saja yang ridha (dengan tindakan mereka yang bertentangan dengan syariat) serta mengikuti mereka, maka dia berdosa. Para sahabat bertanya, ‘Apakah kita tidak memerangi mereka? Jawab Nabi saw, ‘Tidak, selama mereka mendirikan shalat’. (HR. Muslim, hadits no. 1854)
Rasulullah saw telah mewajibkan kaum Muslim untuk mengoreksi para penguasa dengan mengingkari mereka tatkala mereka melakukan penyimpangan dengan berbagai sarana yang memungkinkan; baik dengan tangan, lisan, maupun hati—bila tidak mampu dengan tangan dan lisan. Rasulullah saw menetapkan bahwa, siapa saja yang tidak mengingkari penguasa tersebut, berarti dia telah ikut bersama-sama memikul dosa penguasa itu. 
Dengan demikian, Islam tidak mengaitkan masalah pemyimpangan penguasa dengan masalah pemisahan kekuasaan. Penyimpangan penguasa telah dipecahkan oleh nash-nash syariat tertentu, sedang masalah kekuasaan telah dijelaskan oleh nash-nash syariat yang lain. 
Kaum Muslim wajib mengambil pemecahan dari syariat apabila penguasa berlaku menyimpang, yakni melakukan koreksi dan amar makruf nahi mungkar. Sebaliknya, kaum Muslim diharamkan mengambil pemecahan yang tidak berasal dari syariat, seperti konsep Trias Politica. Sebab, Allah Swt berfirman:
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian terimalah dia dan apa saja yang dilarangnya atas kalian tinggalkanlah. (TQS. al-Hasyr [59]: 7)
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (TQS. an-Nûr [24]: 63)
Demikianlah kekuasaan dalam Islam. Karena Islam berasal dari pencipta tentunya Allah lebih tahu yang manusia butuhkan. Sedangkan kekuasaan dalam demokrasi adalah buatan manusia, sehingga wajar kerap kali menimbulkan masalah lain yang lebih serius seperti korupsi. Karena manusia lemah, terbatas, dan bergantung, sehingga aturan apapun yang dibuatnya akan penuh dengan kelemahan dan keterbatasan. Sehingga, tidak bisa tidak, umat manusia khususnya umat Islam, harus kembali menerapkan kekuasaan Islam yaitu Daulah Khilafah Rasyidah. Tidak saja untuk mencegah praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang, namun karena kita adalah seorang muslim yang berakidah Islam dan wajib berhukum pada hukum Islam. Wallahu a’lam bi ash shawab.



Jumat, 07 Juni 2013

Wasiat Ibu

     Sejak dini hari, hujan deras tak henti-hentinya mengguyur kampung tempatku bermukim sembari belajar di sebuah ma’ad tahfidzul Al-Quran “Al-Qamar”. Musim penghujan nampaknya mulai menyapa kami para penduduk daerah tropis, di zamrud khatulistiwa. Menghapus teriknya matahari di musim kemarau. Kulayangkan pandanganku ke arah jendela, nampaknya burung-burung yang biasanya bersenandung ria sembari bertengger di ranting pohon mangga depan jendela kamarku pun enggan untuk keluar. 

     “Tinggal beberapa juz lagi”, lirihku sembari melihat Al-Quranku di atas meja belajarku.
Entah mengapa, aku merasa begitu lelah dengan rutinitas hafalan Al-Quran setiap hari. Apakah ini pertanda ketidak ikhlasanku? Sebuah tanda tanya besar dalam benakku. Lamunanku membawaku ke beberapa hari yang lalu.

     Tok..tok..tok.. tiba-tiba terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamarku. Saat kubuka, ternyata kiyai Rois. Beliau menyampaikan pesan dari adikku, Nahdah, lewat telepon yang memintaku segera pulang. Hatiku berdegup kencang, pikiranku bertanya-tanya, tidak biasanya seperti ini, ada apa sebenarnya..
Dengan jas hujan pemberian ayah 3 tahun lalu, kukayuhkan sepedaku menembus hujan yang terus mengguyur menuju kampungku. Nampaknya hujanpun tak mau mengalah, mereda untuk memberiku jalan yang leluasa. “semakin deras saja”, desahku. Untuk mencapai kampungku, aku harus mengayuh sepeda di jalan raya sejauh 3 km menuju arah hutan. Bersepeda menembus hutan lebat selama ±20 menit dan meneluri jalan yang berkelok-kelok lagi berbukit-bukit sebelum akhirnya aku sampai di sebuah sungai. Sungai yang pada musim kemarau hanya setinggi lutut orang dewasa ini, kini setelah diguyur hujan seharian, telah mampu menenggelamkan 4/5 tinggi pohon mangga atau kira-kira setinggi 2 meter. Aku menengok kesana kemari mencari-cari ojek sampan. “Daeng bado... daeng bado...”, teriakku. Kami para penumpang sampan harus berteriak keras memanggil si pengayuh sampan, Daeng Bado, ketika sampan sedang tidak beroperasi. Suku Makassar punya sebutan lain ketika telah dewasa, yang digelari daeng. Aku sendiri bernama Ghazi Al Fatih daeng Gading. 

      Sesaat kemudian, keluarlah sesosok pria tua berumur 50-an dari sebuah rumah diseberang sungai. “Tidak salah lagi, itu daeng Bado”, seruku dalam hati. Daeng Bado dengan jas hujan berwarna cokelat tuanya mulai menaiki sampan, melepas jeratnya, dan kemudian mulai mengayuhnya dengan kayuh yang terbuat dari kayu jati. Sampan yang sudah berumur ini, selalu setia mengangkut kami para penumpang kelas ekonomi. Bisa saja kami menggunakan angkutan umum dari kampung sebelah, Salaka, menuju kampungku, Kaluarrang. Tapi akan memakan waktu lama, selain karena angkutan umum yang sangat jarang, umumnya sekali dalam sehari, juga karena jarak tempuhnya yang jauh. Menembus hutan dan menyeberang sungai adalah cara tercepatnya. Selain pejalan kaki dan pengendara sepeda, kadang pula, ada pengendara motor yang ikut naik sampan. Umumnya para pengendara motor yang sambil berjualan ikan keliling kampung. “anjariki nai’, nak? jadi naik, nak?” tanyanya dengan bahasa dan logat makassar yang kental membuyarkan lamunanku. “Oh, iye. Oh iya”, sahutku. Kunaikkan sepedaku ke atas sampan dan aku memegangi sepeda sambil berjongkok, khawatir tidak mampu menjaga keseimbangan tubuh. Satu kayuhan demi satu kayuhan, rasanya sudah tidak sabar sampai di rumah. Satu koin uang 500 aku berikan kepada daeng Bado dan kuucapkan terima kasih padanya setelah sampai di seberang sungai. Aku mengayuh sepeda lagi melewati pohon-pohon dan beberapa kuburan sampai aku tiba di jalan raya, dan terus kukayuh sepedaku sampai tiba di sebuah rumah panggung, rumah adat suku Makassar, yang tak lain adalah rumahku. Kuparkir sepedaku di bawah rumah panggung atau yang biasa disebut paladang.

     Segera aku masuk dan menemui ibuku yang ternyata tengah berbaring tak berdaya. Ayah sedang menemui pak mantri untuk dibawa ke rumah. Dua adikku Nahdah dan Izzah, sedang memijit kaki ibu. Ibuku meminta kami semua mendekat. “Nak, tahukah kalian betapa besar harapan ayah dan ibu dengan memberikan nama untuk kalian?”,matanya nanar melihat kami. “Ghazi yang berarti pejuang, Nahdah yang artinya kebangkitan, dan Izzah adalah kemenangan. Jadilah kalian mujahid/mujahidah yang berjuang demi kebangkitan umat Islam dan menyongsong kemenangan yang dijanjikan Allah dan Rasulullah saw. Jadilah kalian orang-orang beruntung ya..aan..” tiba-tiba suara ibu melemah, matanya berkaca-kaca menatap lekat-lekat ke arah kami satu per satu. “Maafkan Ibu, maafkan belum bisa menjadi ibu yang terbaik, doakan ibu.”katanya lirih. “Bu, ayo ucapkan dzikir, ikuti Ghazi, laa Ilaha illallah muhammad ar rasulullah”, ucapku panik. “Laa.. ilaha illa...llah... mu..hamma..darra..su..lu..llah..” Lirihnya sambil melepaskan napas terakhirnya. Kami bertiga terdiam dalam duka. Ayah yang baru saja membawa pak mantri segera menengok ibu yang ternyata sudah tak bernyawa lagi. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”, ucap ayah sambil menutup sempurna kedua mata ibu yang masih setengah terbuka. 

        Dua hari setelah kematian ibu, aku masih duduk termenung di tangga depan. Ayah mendekatiku sembari memberikan sebuah surat tanpa berkata apa-apa. Nampaknya kepergian ibu, membuatku benar-benar tidak berselera. Kuselipkan surat itu ke dalam buku mahfudhot yang kupegang. Sambil terus melamunkan sosok ibu.

       Kami adalah keluarga kecil yang hidup sederhana di sebuah desa di pedalaman Gowa, Sulawesi Selatan. Ayah adalah seorang petani yang  menggarap sebidang tanah warisan kakek. Sedangkan ibu membuka warung kecil di pasar. Ayah dan ibu hanya tamatan SD. Namun, latar pendidikan tidak memengaruhi kecerdasan mereka. Mereka bukan seperti kebanyakan orang yang hidup apatis bahkan tanpa prinsip hidup. Namun, Islam telah melekat dalam diri mereka. Islam telah mencerdaskan mereka. Bukan hanya karena diambil sebagai sebuah status agama dalam KTP, namun karena telah menjadikan islam sebagai pandangan hidup. Melihat perbuatan dari segi halal haram. Idealisme mereka selalu nampak di setiap aktivitas mereka. Idrak sillah billah, kesadaran akan hubungan manusia dengan pencipta selalu mereka ajarkan kepada anak-anaknya. Ghoyatul ghoyah liridallahi ta’ala dikristalkan dalam didikan mereka kapada anak-anaknya. Semangat mereka memperjuangkan Islam begitu besar. Kulayangkan pandanganku ke sebuah lapangan tempatku biasa bermain,

      Seorang ibu menghampiri anaknya yang berusia 5 tahun sedang menangis tersedu-sedu. "Ada apa?" tanya sang ibu. "Pelmenku hilang" jawab sang anak dengan kepolosannya. 

      Dengan tatapan yang begitu lekat, sang ibu berkata, “Nak, bukankah kamu adalah penakluk Roma. Sang penakluk, sang pejuang agama Allah, tidak akan menangis karena kehilangan permen atau kesenangan hidup lainnya.  Bukankah semua kesenangan di dunia tidak apa-apanya dibanding kesenangan di akhirat? Nak, di luar sana ada banyak anak seusiamu, mereka adalah saudara-saudaramu, tiap malam mereka selalu punya iringan pengantar tidur berupa dentuman bom . Melempari batu orang-orang kafir yang menjajah tanah kaum muslimin bahkan dilakukan oleh anak kecil seusiamu. Mereka menghafalkan Al-Quran dan tak pernah gentar melawan musuh-musuh Allah. Memekikkan takbir yang membahana menggentarkan musuh. Hafalan Al-Quran bagi mereka adalah pelipur lara mereka. Bukan lagu-lagu galau dengan lirik maksiat. Nak, menangislah hanya karena takut kepada Allah saja. Ingatlah anakku, dunia dan seisinya tiada berharga, Syurga yang dijanjikan Allah menyimpan berjuta kebahagiaan, namun ianya tidak bisa didapatkan dengan mudah.. Anakku, menangislah untuk agama ini, berjuanglah untuk agama ini..Ingatlah, engkaulah sang penakluk Roma kelak.. Dan ingatlah syurga yang dijanjikan bagi orang-orang yang yakin.” 

        Sesaat kemudian, wajah anak itu tampak heran. Mungkin merasakan keseriusan dan harapan besar dari sang ibu. Anak itupun berhenti menangis dan tersenyum kepada ibunya. Entah apa yang dipikirkan anak itu.

          Bayangan ibu dan anak itupun perlahan menghilang dari pandanganku. Itu kejadian 10 tahun yang lalu. Aku dan ibu. Ibu selalu mendidikku layaknya aku ini sudah pasti yang akan menaklukkan Roma. Mungkin sebagai prajurit, pemimpin batalion, ataupun sebagai amir. Tak pernah hilang dari ingatanku, setiap kisah mujahid yang dikisahkan ibu kepada kami setiap malam. Biasanya ayah dan ibu berganti bercerita tentang sejarah peradaban islam masa lalu yang hilang dieliminasi zaman. Kemudian menceritakan bisyarah Rasulullah saw tentang penaklukkan Roma yang belum menjadi bagian dari sejarah, ayah dan ibu mengatakan itu adalah hadiah dari Allah untuk kita, mengejar kemuliaan menjadi salah satu penakluknya. Sejak saat itu, aku selalu menggebu-gebu ingin menjadi penakluk Roma. Untuk alasan itu pula, aku berusaha sebaik mungkin menjadi Muhammad Al-Fatih. Jika beliau menghafalkan Al-Quran, maka aku pun harus bisa. Dengan masuk ke sebuah Ma’ad Tahfidzul Quran di sebelah kampungku, aku belajar dari Kyai Rois. Impianku untuk menghafal Al-Quran sisa  sedikit lagi. Namun, ibu takkan bisa melihatku lagi menamatkan hafalan Al-Quranku. Sedih rasanya, namun aku harus tetap ikhlas seperti yang diajarkan ayah dan ibu.
Masih teringat jelas dalam ingatanku, saat ibu membawa kami untuk menghadiri kegiatan-kegiatan dakwah. Membawa kami bertiga berjalan berkilo-kilo meter lantaran tak punya uang untuk berkendara umum. 

      Tiba-tiba aku terbangun dari lamunan panjangku. Aku teringat sebuah surat yang diberikan ayah kala itu. Aku segera mencari buku mahfudhotku. Kutemukan diselipannya sebuah surat. Aku terperanjat melihat penulisnya, “ibu”. Ini mungkin adalah wasiat dan nasihat terakhir ibuku. Kubuka surat itu, dengan mata yang berkaca-kaca, aku membaca kata demi kata surat itu..

      Anakku, bagaimana kabar iman hari ini? Semoga Allah memberikan ketetapan hati untuk terus berjuang dengan penuh kesungguhan. Ingatlah wahai sang penakluk Roma, layakkan dirimu menjadi penakluk. Layaknya Muhammah Al Fatih, penakluk konstantinopel. Layaknya Thariq bin Ziyad, penakluk Andalusia. Dan layaknya Salahuddin Al Ayyubi, penakluk Jerusallem. Walau kadang lelah dan jenuh menghampiri setiap jejak perjuangan.

       Anakku, tanyakan pada hati ini? Pantaskah mengeluh dalam mengarungi jalan dakwah ini? Ingatlah Islam tegak bersama orang-orang seperti para sahabat. Ingatlah konstantinopel takluk bersama pemimpin & pasukan terbaik. Jadilah yang terbaik, layakkan diri wahai pejuang agama Allah. Karena sungguh Allah memberikan kemenangan bagi kaum yang layak lagi dekat dengan-Nya

    Renungkan sejenak potret dimana sebuah perjuangan, dan pengorbanan tidak mengenal lelah. Di Palestina, Irak, Afghanistan, dan negeri-negeri muslim lainnya, perjuangan, pengorbanan, dan takbir membahana, menggetarkan musuh-musuh Allah. Jiwa, nyawa dan air mata, mereka persembahkan lebih dari yang kita persembahkan.

Akankah kita meminimalkan perjuangan? Atau malah tidak berjuang sama sekali? Kita tidak pernah tahu harus sampai kapan jiwa raga ini dipersembahkan. Harus berapa deras darah ini dialirkan. Harus sejauh mana kaki ini terus dilangkahkan. Untuk membangunkan peradaban yang telah tertidur pulas, “Islam” ... Namun ingatlah, Allah kelak menggantinya dengan Ridho dan SyurgaNya... (Ibu)

       Kutangkupkan surat ini ke dadaku. Aku berjanji dalam hati menjadi mujahid yang tangguh. “untuk agama ini, ibu”, lirihku. [Ashwa Rin]

Remaja Dua Masa

      Tahu nggak, remaja itu apa? Yang jelasnya, masa yang harus kamu lalui sebelum jadi dewasa. Intinya sih, calon orang dewasa. Remaja yang keren adalah remaja yang cerdas, syar’i, gaul, dan berprestasi. Nah, pada masa kekhilafahan, tak terhitung banyaknya remaja yang keren, dan hampir gak ada remaja yang kuno alias hidup ala jahiliyah. Gak percaya, berarti kamu nggak tahu sejarah. Makanya pelajarin tuh sejarah peradaban islam. :D 

      Ini nih sekilas remaja muslim pada masa kekhilafahan. Ada Imam Syafi’i yang pada usia 9 tahun telah hafal Al-Quran, beliau di masa remaja hingga tuanya adalah pengembara ilmu sejati. Bahkan menjadi mujtahid di usianya yang ke 15 tahun. Ada Muhammad Al Fatih yang menguasai 7 bahasa sejak remaja, dan berhasil menaklukkan konstantinopel di usianya yang belum genap 20 tahun. Dan ada ribuan remaja yang menjadi ilmuwan yang berhasil meletakkan dasar-dasar berbagai ilmu pengetahuan yang masih digunakan sampai sekarang, seperti Al-Khwarizmi dalam bidang matematika, ada jabir ibnu hayyan dalam bidang kimia, ada Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Al Haythami dalam ilmu optik, Abbas Ibnu Firnas dalam bidang aeronotika, Ibnu khaldun dalam ilmu sejarah dan sosiologi, dan ribuan lainnya yang berkonstribusi besar bagi kemajuan IPTEK pada masa sekarang. Mereka gak hanya hebat dalam berbagai disiplin ilmu dunia, tapi juga paham agama. Soalnya mereka gak akan seberprestasi itu kalo bukan karena dorongan ruh (kesadaran akan hubungannya dengan pencipta/Allah) dan jika bukan karena idola mereka adalah Rasulullah Saw. Remaja-remaja seperti mereka, nggak sulit ditemukan di zaman peradaban islam. 
      
      Di masa yang lain, ketika kekuasaan islam diruntuhkan, ideologi kapitalisme memulai cengkramannya terhadap dunia. Remaja-remaja hebatnya semakin hari semakin berkurang. Standar kerenpun berubah ngikutin standar kapitalis. Akibatnya kelakuan remaja semakin parah, dari kenakalan remaja, sampai malah jadinya kejahatan remaja. Bener-bener remajanya udah berotak kriminal. Liat aja berita-berita di tv, dihiasi berita tawuran remaja, kasus narkoba, seks bebas.  Remaja-remajanya udah gak mampu ngontrol emosi, marah dikit main bacok. Klo stress, biar nggak stress pake narkoba, katanya ngilangin beban stress. Mereka udah sulit mengekspresikan cinta dengan benar, akibatnya pacaran jadi pembenaran. Kasus aborsi meningkat, parahnya sebagian besar dilakukan oleh remaja. Nggak peduli muslim nggaknya, kapitalisme berhasil merusak tatanan kehidupan remaja. Dibalik kehidupan zaman kapitalisme sekarang ini, nggak bisa dipungkiri banyak pula remaja yang berprestasi dalam berbagai bidang keilmuwan. Namun biasanya remaja yang seperti itu adalah remaja study oriented. Kerjaannya hanya belajar, belajar, dan belajar. Lupa sama kondisi sesama rekan remaja. Seperti itulah kapitalisme menyebut remaja prestatif, jika mampu menghasilkan materi. Misal, disekolah, ukuran prestasi diukur dari nilai, artinya kan remajanya diajarkan untuk mengejar materi sebanyak-banyaknya. Tapi dibalik remaja error dan remaja study oriented tadi, ada pula remaja yang masih memegang islam sebagai jalan hidupnya. Mereka ini nih yang peduli sama kondisi masyarakat yang jauh dari islam. Mereka remaja yang sadar masalah dan sadar solusi. Menjadikan Rasulullah sebagai tauladan, dan Islam sebagai solusi hidupnya. 

      Lalu, kenapa di zaman peradaban islam mampu menghasilkan remaja hebat? Kenapa pula di zaman peradaban kapitalis, sebagian besar remajanya mengalami krisis moral dan akhlak? Lalu, darimana datangnya remaja hebat di zaman peradaban kapitalis itu?

      Yup, beda Islam beda kapitalis.. remaja hebat selalu berpijak pada islam, and remaja error justru gak punya pijakan. Remaja hebat tahu tujuan hidupnya sedang remaja error taunya senang-senang saja. Nggak tau tujuan hidup, jadinya mereka terombang-ambing dalam masalah, tak tahu solusinya. Gimana tau solusinya, pijakannya aja gak ada. kenapa mereka gak tahu tujuan hidupnya? Ya karena negara gak memfasilitasi. Negaranya aja gak tahu tujuan bernegara. Itulah negara kapitalis. Gimana dengan islam? Negara islam jelas mendidik rakyatnya dengan islam, karena tujuan bernegara dalam islam, yaitu menjamin terlaksananya hukum-hukum islam. Tentunya gimana hukum-hukum islam mau terlaksana, kalo tidak dengan mendidik masyarakatnya dengan islam. Kalo kapitalisme mah, ngajarin rakyatnya mikirin duit mulu. Akibatnya duit jadi standar kebahagiaan. Padahal kebahagiaan sesungguhnya yaitu dapet ridho Allah.  Jadi, masuk akal kan kalo Islam mampu menghasilkan remaja hebat, namun Kapitalisme justru menghasilkan remaja error. Nah loh, gimana dengan remaja-remaja hebat nan langka dalam kapitalisme ntu? yup, remaja-remaja hebat itu tentunya berpijak pada islam pula, tapi bedanya mereka tentunya bukan hasil didikan negara kapitalis, tapi mereka adalah sebagaian kecil remaja yang sadar dan mau mengkaji islam lebih dalam. Tentunya kalo kamu kepengen jadi remaja hebat pula, kamu mesti sadar dulu en mau belajar islam. Mau?
[Ashwa Rin]

My Dream : I wanna be a Power Ranger Part 1

Tik-tik-tik... suara rintik-rintik hujan yang jatuh ke bumi
ssssssssss.... suara angin yang mendesis menemani air hujan menepis wajah ini

Aku suka hujan, mereka mengingatkanku kenangan-kenangan manis dalam hidupku. Saat aku bermain di halaman rumah ketika air hujan mengalir melalui atap-atap rumahku dan mengguyur kami, anak-anak pecinta hujan. Berkejar-kejaran di bawah hujan, memainkan perahu-perahu yang kami buat dari kertas-kertas bekas, sambil tertawa dengan  bahagia.
 
Ku pikir, itu masa kecil yang menyenangkan, betul-betul tanpa beban. Tapi entah kenapa, saat kupandangi foto-foto dan membaca berita-berita perang dan penyerangan di daerah konflik, serta melihat video-video mereka, bagaimana mereka dibantai, dibom, dan ditembaki, bahkan banyak dari kalangan anak-anak itu yang menjadi korbannya. Mereka berdiri dengan gagahnya melempari tank tank itu dengan batu. Usia tak menjadikannya menunda untuk berjuang. Hafalan Al-Quran mereka adalah pelecut semangat yang tiada terbatas, dan kebahagiaan terbesar adalah syahid. Al-Anfaal, surah pertama yang sudah mereka hafalkan, anak-anak kecil yang menjadi mujahid. Mereka, sungguh membuatku iri. Berjuang di jalan Allah vs bermain di bawah hujan, anak-anak palestina vs anak-anak indonesia, yang manakah lebih baik? 

Tik tok tik tok, detik demi detik berlalu, hampir sejam aku menunggu hujan reda sambil terus menggoreskan penaku ke sebuah buku kecil yang selalu kubawa kemana-mana. Namun hujan tak kunjung reda, malah bertambah derasnya. Udara semakin dingin, hingga terasa menembus tulang-tulangku. Wajahku basah karena angin yang membawa air hujan terus menepis. 

Ingatanku melayang ke belasan tahun yang lalu, teringat kembali cita-cita yang kandas, ketika aku ingin sekali menjadi power ranger. Ingin sekali aku menjadi super hero yang menolong umat manusia dari gempuran monster-monster yang membawa misi kejahatan. Seperti itulah misi power ranger yang menjadi salah satu film kesukaanku di masa kecil.

Karena keinginan yang berlebihan itu, aku merasa benar-benar sebagai seorang power ranger. Aku mengatakan ke orang-orang bahwa aku seorang power ranger. Terjebak pada ilusi cita-cita mustahilku. Banyak yang percaya bahwa aku sesungguhnya adalah power ranger (tentunya yang mengira itu adalah para anak-anak, kalo orang dewasa mah, "parah"). Aku mengatakannya bukan karena ingin berbohong, tapi karena akumulasi cita-cita yang begitu kuat. Anak-anak lainnya pun mulai bertanya bagaimana cara menjadi power ranger, aku bilang "gampang, cukup berlatih". Mereka semua akhirnya memintaku untuk melatih mereka menjadi power ranger. Akhirnya setiap pagi, kami berkumpul di salah satu halaman rumah seorang dari kami, dan berlatih di sana. Penasaran dengan apa yang kami lakukan? setiap pagi aku melatih mereka dengan cara yang sama yang dilakukan di film-film itu, berlatih pertahanan diri dan penyerangan. Intinya "KAMI BENAR_BENAR INGIN JADI POWER RANGERS" dan MENUMPAS SEGALA KEJAHATAN.

Apakah "POWER RANGERS" itu hanyalah fiktif belaka? Tak pernah terpikirkan olehku bahwa Power Rangers itu hanya fiktif belaka. Tapi kini, aku tahu, bahwa itu memang bukan fiktif belaka. Kenyataannya, ada banyak Power Ranger di bumi ini. Jika di film, personilnya hanya 5 orang, maka kini mereka bahkan lebih dari itu, dan tersebar di berbagai belahan bumi. Merekalah para Power Rangers yang berjuang melindungi umat manusia, memiliki visi misi yang sama, berjuang menumpas segala kemaksiatan di muka bumi dengan berusaha membangun perisai bagi umat manusia - Khilafah Rasyidah Islamiyah -

bersambung My Dream : I wanna be a Power Ranger Part 2

Rabu, 30 Mei 2012

Menyoal Penurunan Peringkat Utang Indonesia oleh Standar&Poor’s



S&P menganggap bahwa Indonesia telah gagal. Sebenarnya, memang Indonesia adalah negara yang gagal karena memakai sistem Kapitalisme sebagai sistemnya. Namun, berbeda dengan S&P yang menganggap Indonesia sebagai negara gagal bukan karena memakai sistem kapitalisme tetapi karena menganggap Indonesia kurang liberal. Terbukti dalam  pernyataan agensinya dalam redaksi ‘the jakarta globe’ pada 23 April lalu,
 “The abandonment of a planned electricity tariff  rise, the inability to implement fuel subsidy cuts despite rising oil prices, and a host of proposed or actual policy measures in industry and trade, point to rising policy uncertainty,”
Yang intinya bahwa tidak naiknya tarif listrik dan gagalnya menaikkan harga BBM adalah bukti gagalnya negara Indonesia. Alasannya karena dengan menunda kenaikan BBM bisa mengancam arus masuk investasi asing dan domestik.
Dari pernyataan S&P , jelas bahwa pembatasan subsidi BBM hanyalah untuk mendukung kepentingan asing. Pemerintah  pun mengeluarkan alasan-alasan spekulatif untuk menggolkan kebijakan pembatasan subsidi BBM yang justru akan menyengsarakan rakyat.
Kalau kita mau sedikit saja berpikir, Mengapa harga BBM harus dinaikkan? Benarkah  karena subsidi BBM membebani APBN? Atau karena  produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan? ataukah subsidi BBM tidak tepat sasaran? Sebenarnya pun sudah keliatan jelas bahwa kenaikan BBM tidak ada sangkut pautnya dengan alasan-alasan tersebut.. Mau bukti?
Kalau dikatakan subsidi BBM membebani APBN, sebenarnya lebih membebani yang mana? Subsidi BBM ataukah belanja birokrasi? Lihat saja pemborosan yang dilakukan birokrasi, misalnya saja,  renovasi gedung, kunjungan (plesiran), pembelian mobil buat para pejabat, yang menghabiskan ratusan trilyun per tahunnya. Lebih membebani yang mana sih, subsidi BBM ataukah beban pembayaran utang yang tak kunjung ada habisnya?
Kalau dikatakan produksi BBM Indonesia rendah? Itu lebih mengada-ngada lagi.. Untuk apa perusahaan asing ramai-ramai datang ke Indonesia kalau bukan  Indonesia punya potensi BBM yang sangat besar..
Kalau dikatakan bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran, itu juga bohong.  Menurut data pemerintah melalui Susenas  BPS tahun 2010 menyebutkan: 65% BBM bersubsidi dikonsumsi kalangan bawah, 27% untuk kalangan menengah, 6% kalangan menengah atas dan 2% kalangan kaya. Walhasil, BBM bersubsidi lebih banyak dikonsumsi oleh kalangan bawah, sehingga bohong kalau dikatakan tidak tepat sasaran.
Jadi, kenapa dong pemerintah mencak-mencak ingin menaikkan harga BBM? Saking ngototnya, mereka berusaha sekuat tenaga mengademkan masyarakat dengan memberikan BLSM sebesar 25 trilyun. Dengan mengetahui siapa yang paling diuntungkan jika harga BBM dinaikkan, tentu akan  lebih mudah menjawabnya. Melihat S&P sampai-sampai menurunkan peringkat utang Indonesia lantaran gagalnya pemerintah Indonesia menaikkan harga BBM, terlihat jelas bahwa kenaikan BBM ditujukan untuk kepentingan asing. Karena jika harga BBM di Indonesia masih terus berada di bawah  harga internasional, tentu akan sulit bagi perusahaan-perusahaan asing untuk menjajakan minyak mereka di dalam negeri karena harga minyak mereka yang mahal. Para  kapitalis itu pun akan  kesulitan mendapatkan keuntungan yang banyak dari berdagang minyak di Indonesia.
Sehingga, alasan yang paling masuk akal dari pembatasan subsidi BBM yaitu untuk menyempurnakan  the hidden planning. The hidden planning alias agenda tersembunyi dari para kapitalis asing tersebut yaitu untuk menyempurnakan target kebijakan ekonomi kapitalis dengan mencabut seluruh subsidi bagi rakyat.
Parahnya lagi, pemerintahlah yang menjadi agen-agen para kapitalis untuk melancarkan the hidden planningnya. Dengan menggolkan UU Migas,  serta membuat kebijakan pembatasan subsidi BBM, pemerintah  telah  membuka pintu-pintu kesengsaraan untuk rakyatnya.  Inilah bentuk penghambaan pemerintah terhadap kepentingan asing. Mereka bagaikan  lembu yang dicocok hidungnya. Mengikuti perintah para kapitalis asing walaupun harus menumpahkan darah  rakyatnya.
‘Gak ada yang gratis di dunia ini’, setidaknya begitulah pepatah dalam kapitalisme. Para investor telah memberikan  investasi yang besar, dengan memberikan ‘modal’ untuk kampanye, membesarkan partai, dan money politik dalam pemilu. Dan itu semua tidak gratis, para penguasa yang telah berhasil menduduki kursi-kursi jabatan di pemerintahan  harus membayarnya kembali. Kebijakan-kebijakan yang pro kapitalis pun digencarkan. Para agen-agen  kapitalis yaitu para penguasa yang makan uang para kapitalis diberi tugas membangun ekonomi yang liberal, tak ada lagi subsidi buat rakyat. Sehingga para kapitalis semakin gendut/makmur, dan rakyat semakin kering kerontang/ miskin lantaran kebijakan-kebijakan yang sangat membebani rakyat.
Lupakah mereka akan ancaman Allah dan Rasul-Nya, “Barangsiapa yang menyempitkan (urusan orang lain), niscaya Allah akan menyempitkan urusannya kelak pada Hari Kiamat.” (HR al-Bukhari). Lupakah mereka akan doa yang dipanjatkan khusus oleh Rasulullah Saw,“Ya Allah, siapa memiliki hak mengatur suatu urusan umatku, lalu ia menyempitkan mereka, maka sempitkanlah dirinya..” (HR Ahmad dan Muslim)
Selain itu, penurunan peringkat utang Indonesia ini oleh S&P juga menjadi kekhawatiran bagi pemerintah. Karena itu artinya kemampuan membayar utang Indonesia dianggap menurun. Ketakutan pemerintah yaitu khawatir jika tidak mendapatkan pinjaman lagi dari para investor (baik bank maupun pemilik modal).
Seperti inilah dalam sistem kapitalis, negara-negara dunia ketiga, selalu berharap dari utang/pinjaman dengan bunga yang selalu menghiasinya. Entah karena hobby, kebiasaan, atau apa. Sepertinya adalah suatu kebanggaan yang teramat sangat jika mendapatkan pinjaman dari bank maupun dari para pemilik modal. Walaupun seharusnya tidak ada kepentingan yang mendesak untuk berutang, tapi Indonesia tak pernah ketinggalan untuk urusan berutang kepada pihak asing.  Pinjaman dengan bunga yang berkali-kali lipat. Padahal utang-utang itu sejatinya hanyalah menyengsarakan rakyat sebab bunganya yang  tinggi. Sampai-sampai bayi yang baru lahirpun terbebani utang.
Dari semua fakta-fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem kapitalisme sejatinya tak akan mampu mensejahterakan rakyat. Bahkan jika kapitalisme terus dipertahankan, bisa dipastikan 10 tahun mendatang tidak ada lagi orang miskin. Bukan karena orang miskin semuanya jadi kaya, namun karena orang miskin pada mati. Penghidupan yang semakin disempitkan oleh para penguasa, membuat rakyat tak mampu lagi hidup.
Rakyat dalam kehidupan ini, bagaikan hidup di habitat yang asing. Bagaikan ikan yang sedang tidak berada di habitatnya, air. Ikan yang tidak berada di air akan meronta-ronta. Seperti pula manusia jika tidak berada dihabitatnya akan sengsara. Bahkan mati.  Dimanakah  habitat manusia sejatinya? Tahukah  kamu bahwa pencipta manusia yaitu Allah SWT telah menciptakan habitat bagi manusia yaitu Sistem Islam. Sehingga, manusia tidak akan sejahtera tanpa berada dibawah naungan sistem Islam yaitu Daulah Khilafah Rasyidah. Seperti Ikan  yang tak akan hidup jika tidak berada di air.
Kondisi inilah yang terjadi, manusia dalam cengkraman kapitalisme, yang prinsip dasarnya bahwa apapun bisa dimiliki oleh individu atau swasta/asing, sementara negara tidak boleh ikut campur tangan dalam perekonomian. Walhasil, kekayaan alam pun dikuasai asing. Dan untuk pendanaan, pemerintah memungut pajak dari rakyat dan juga mengambil pinjaman ribawi. Karena negara tidak ikut campur dalam perekonomian maka subsidi pun harus dikurangi atau jika memungkinkan dihapus sama sekali. Lain halnya dengan Islam, dengan menerapkan sistem ekonomi Islam yang benar, yaitu jika semua kepemilikan umum dikuasai dan dikelola oleh negara, Baitul Maal dari Daulah Khilafah akan menghasilkan dana yang sangat besar. Dana itu lalu dipergunakan untuk investasi di dalam negara, pembangunan  layanan publik, yaitu pendidikan, kesehatan, dan  infrastruktur (jalan, jembatan, listrik, air, dll). Juga digunakan untuk membiayai industri dan juga memberikan kredit bebas bunga untuk menggerakkan roda perekonomian rakyat serta membantu rakyat yang memerlukan.
Daulah Khilafah akan menolak dengan keras utang atau pinjaman-pinjaman yang mengandung riba. Sebab, hutang-hutang seperti itu telah jelas keharamannya. Sebagaimana firman Allah:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 

Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah Menghalalkan jual beli dan Mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhan-nya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.[QS. Al-Baqarah [2]:275]
 Sehingga penerapan Islam di dalam kehidupan akan memberikan kesejahteraan bagi rakyat dalam naungan Daulah Khilafah. Sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُو -٩٦- 

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan Melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami Siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. [QS al-A’raf [7]:96]
 
 Wallaah a’lam bi ash-shawaab [Ashwa Rin]