Kamis, 23 Februari 2017

Jika Maut Menjemput

Kemarin, hujan deras disertai angin kencang melanda hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Kota yang disebut Gowa Bersejarah itu pun tak luput sasaran hantaman badai angin kencang. Pohon-pohon banyak yang tumbang menghalangi jalan. Insiden rubuhnya Tribun Lapangan Syekh Yusuf pun tak terelakkan mengakibatkan tewasnya satu orang satpol PP. Sedang, di jembatan kembar, seorang pelajar SMP juga tewas karena tertusuk cabang pohon. Turut berduka cita untuk para korban, semoga amal kebaikannya di terima disisi Allah.

Kematian bukan sesuatu yang bisa diundur barang sedetik. Ia adalah tamu yang pasti datangnya. Kita mungkin tidak tahu kita mati dengan cara apa, terbunuh, kecelakaan, tenggelam, sakit, ataukah serangan jantung. Tapi pikirkanlah dalam keadaan apa kita ingin mati. Husnul khatimah atau Su’ul Khatimah. Dalam keadaan taat ataukah bermaksiat kepada Allah. Jika ingin husnul khatimah, tentu saja kita mesti menjaga seluruh aktivitas kita dalam koridor ketaatan kepada Allah karena datangnya maut tak ada yang tau.

Sungguh sayang jika maut menjemput dikala kita sedang maksiat. Sementara pacaran di bawah pohon, eh tau-tau kesambar petir. Lagi boncengan bareng pacar, eh tau-tau kecelakaan. Belum tobat dari riba, eh tau-tau kena serangan jantung. Masih buka-buka aurat dan tabarruj, eh tau-tau nikmat nafas itu telah tiada. Sedang berantem dengan suami, eh tau-tau malaikat maut sudah menjemput. Mungkin kita berpikir, ah mau husnul khatimah aja kok susah gak boleh ini gak boleh itu. Ya iya bro and sis, cita-cita mati khusnul khatimah itu cita-cita yang besar, jadi usaha untuk mewujudkannya pun harus besar. Dan juga, kita hidup di alam yang mana kemaksiatan itu hal yang lumrah. Pacaran lumrah, tabarruj lumrah, menampakkan aurat lumrah, riba lumrah. Akhirnya ketaatan itu dipandang sulit di habitat saat ini. Sulit gak berarti gak bisa loh ya. Pasti bisa !!!

Buat yang punya ambisi mati khusnul khatimah, setidaknya lakukan hal-hal berikut ini sebagai bukti kesungguhan akan cita-cita kita, bukan omong doang.

     1.  IKUT KAJIAN ISLAM

Ilmu dan amal itu dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Imam al-Ghazali mengatakan “Ilmu tanpa amal adalah gila dan amalan tanpa ilmu adalah sia-sia”.

Gimana bisa taat kalo nggak punya ilmu. Gimana bisa tau yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram kalo gak belajar. Jadinya bingung dengan halal dan haram. Belajar ilmu agama itu wajib ain guys, sama wajibnya dengan sholat, puasa, dan zakat. So #yuukNgaji !!!

    2. IHSANUL AMAL

Setelah ilmu, tentu adalah beramal/berbuat. Pastikan kalo kita melakukan ihsanul amal (amalan baik), yang artinya adalah amalan yang diterima oleh Allah SWT. Kan sayang, kalo beramal tanpa diterima oleh Allah. Standar diterimanya amalan ialah IKHLAS (melakukan atau meninggalkan sesuatu karena Allah), dan CARANYA BENAR (sesuai hukum syara/perintah Allah). Untuk tahu cara yang benar, standarnya bukan manusia tapi Allah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Nah tuh kan butuh ilmu lagi. Makanya #yuukNgaji.

 3. SELALU BERSAMA ORANG-ORANG SHALIH YANG MENGINGATKAN PADA ALLAH

Domba yang terpisah dari kawanannya saja mudah diterkam serigala kelaparan. Seperti pula kita, yang jika sendiri, tidak berjamaah, maka mudah tergoda untuk bermaksiat. Teman-teman yang shalih/ah akan membantu kita menjaga keimanan dan keistiqomahan. So, #yuukNgaji bareng teman-teman yang sevisi mati khusnul khatimah.

    4. BERDOA

Doa itu senjatanya kaum muslimin. Jangan pernah lupakan berdoa mengharap kematian khusnul khatimah di setiap waktu. 
Lakukan yang wajib
Perbanyak yang sunnah
Minimkan yang mubah
Hindari yang makruh

Tinggalkan yang haram


[AR]

Generalisasi


Pernah dengar istilah generalisasi ? Istilah ini tentunya tidak asing lagi terutama bagi para akademisi. Generalisasi adalah proses pengambilan kesimpulan umum dari sejumlah fenomena atau hal (khusus), yang mengikat seluruh fenomena atau hal sejenis. Misalnya, jika botol minum dibakar akan meleleh, jika sedotan dibakar akan meleleh, jika ember dibakar akan meleleh, dan kesimpulan umum yang diambil dari fenomena-fenomena khusus tersebut adalah bahwa semua benda plastik yang dibakar akan meleleh. Kesimpulan umum tersebut akan bernilai salah apabila ada benda plastik yang dibakar tapi tidak meleleh.
Generalisasi ini adalah salah satu metode penalaran untuk merumuskan suatu ilmu atau pengetahuan. Tentunya generalisasi ini akan membantu dalam mempelajari berbagai fenomena. Contoh lainnya, pulpen yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah, buku yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah, tas yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah, kesimpulan yang diambil dari berbagai fenomena itu adalah bahwa semua benda yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah.  Inilah kesimpulan umumnya yang diperoleh dari proses generalisasi.
Untuk mengeneralisasi, fenomena-fenomena khusus yang diuji atau diselidiki haruslah bisa mewakili fenomena umum yang disimpulkan agar kesimpulan tersebut dapat mengikat seluruh fenomena sejenis. Jika ada fenomena sejenis yang tidak sesuai dengan kesimpulan umum tersebut, maka ada dua hal yang mungin terjadi. Pertama, ada faktor eksternal yang membuat fenomena itu tidak sejalan dengan kesimpulan umum, sehingga fenomena itu termasuk fenomena khusus. Kedua, kesimpulan tersebut merupakan kesimpulan yang salah.
Generalisasi fenomena ilmiah tentu tidak sama dengan generalisasi fenomena sosial. Tentu karena sifat keduanya yang berbeda. Hal-hal ilmiah dapat dikelompokkan menjadi kategori-kategori yang sifatnya tetap. Tetapi untuk hal-hal sosial, sifatnya dinamis dan unik. Melakukan generalisasi secara terburu-buru  hanya menunjukkan kemalasan berpikir yang pada akhirnya menghasilkan kesimpulan yang salah. Generalisasi yang salah hanya akan menjadi hoax. Sebagian kaum muslim cenderung mengeneralisasi berita tentang fenomena atau hal yang tampak sesuai atau baik untuk islam sebagai sebuah kebenaran. Generalisasi semacam itu hanya menunjukkan kemalasan berpikir untuk membuktikan kebenaran. Bangkitnya kaum muslimin tergantung pada pemikirannya. Jika kaum muslim malas berpikir, bukannya kebangkitan yang diperoleh tapi kaum muslim justru akan semakin terperosot dalam kemunduran. Seorang muslim haruslah bersikap kritis dan cerdas agar kebangkitan Islam itu segera terwujud. Wallahu a’lam bi ash-shawab. [Ashwa Rin]

Sungguminasa, 25/12/2015, Jumat, 12:01


JUST WONOSALAM



Awal ceritanya ya gimana ya? hmm, intinya teman saya, bu fath, mengajak Rin ke Wonosalam secara mendadak di hari itu. Jadilah Rin berangkat setelah meng-cancel dua jadwal di hari itu.
Dari Pare, perjalanan menuju Wonosalam memakan waktu sekitar satu jam plus setengah jam lagi ke rumah temannya ibu Fath di desa yang Rin juga gak tau namanya apa. Perjalanannya sedikit berliku dan menanjak menuju ketinggian 500-600 meter di atas permukaan laut.
Wonosalam termasuk kecamatan dalam kabupaten Jombang yang terletak di kaki dan lereng Gunung Anjasmoro dan termasuk kawasan penghasil durian terbesar di jatim. Disini Rin berkunjung ke rumah mbak ati dan mbak Ani dan Rin juga menyempatkan masuk ke kebun kopi dan durian mereka, melihat langsung seperti apa sih pohonnya, I’m curious about it. This is my first experience being in a coffee and durian farm. Sayangnya Rin gak banyak ambil gambar karena hp yang lowbat. Poor…

Kami pulang ke Pare dengan membawa dua kardus durian. How heavy those are, karena Rin harus memangku sedosnya sepanjang perjalanan pulang. [AR]



DALAM RANTAU ITU

Jangan khawatir saat jauh dari kampung halaman
Jangan khawatir kesepian saat merantau
Karena keluarga itu ada dimanapun kita berada

Tak terasa lebih setahun Rin tinggal di Pare, menuntut ilmu di kampung Inggris. Ada suka dan duka nya. Kadang homesick dan serasa ingin pulang. Tapi, semua masa dalam hidup harus kita lalui dengan baik bukan?  Termasuk dalam masa-masa rantau. Imam Syafi’I dalam bait-bait syai’ir nya memberikan nasehat mengenai perantauan, dimana seseorang meninggalkan comfort zone menuju new zone dengan suasana baru, orang-orang baru, dan kenalan baru.

Kata Imam Syafi’i,

Merantaulah …
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)

Merantaulah …
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang akan engkau tinggalkan (kerabat dan kawan). Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Merantaulah …
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Merantaulah …
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.

Merantaulah …
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Merantaulah …
Biji emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang). Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Merantaulah …
Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya. Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

Merantaulah …

Ya, betul sekali kata Imam Syafi’i, merantau sama seperti sedang mengupgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik. Berkenalan dengan orang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda membuatmu melihat dunia dari sisi yang berbeda-beda pula. Hidup dengan orang yang berasal dari berbagai macam suku, melatihmu bersabar, ada yang keras, lemah gemulai, adapun yang humoris. Kadang harus menghadapi perbedaan kultural. Misal orang Makassar yang terbiasa ngomong dengan nada tinggi,  atau orang sunda yang lembut banget.  Semuanya terasa begitu penuh warna.

Saat-saat dalam rantau, bersosialisasilah dengan penduduk asli setempat, jangan jadi introvert. Mentang-mentang lingkungan baru, takut salah ngomong, takut salah bersikap, akhirnya hanya mengurung diri di kandang, it’s not good guys. Apalagi bagi para pengemban dakwah. Bersosialisasi atau bahasa kerennya ‘jadi anak gaul’ itu penting untuk menginteraksikan ide-ide yang kita emban, apalagi jika itu adalah pemikiran yang shahih, sudah sepatutnya disebar bukan? [Ashwa Rin]

Reference :
Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39




Selasa, 12 Juli 2016

Desa Wisata Lakkang : Desa Terpencil di Sebuah Kota Besar

Desa wisata lakkang merupakan salah satu kelurahan di kota Makassar yang hanya bisa diakses menggunakan perahu karena lokasinya yang berada diantara sungai tallo dan sungai pampang. Ada tiga dermaga yang bisa dipilih untuk menuju lakkang, yang paling populer adalah dermaga kera-kera yang lokasinya ada di Teaching Farm Fakultas Pertanian dan Peternakan UNHAS, dan yang paling dekat ke lakkang adalah dermaga di tol lama.

Tour Rin kali ini bersama tiga kawan dari Sungguminasa menuju dermaga kera-kera. Untuk menemukannya mudah saja, buka aplikasi maps untuk menemukan dermaga kera-kera. Sesampai Rin di dermaga, terlihat satu perahu mulai bersiap berangkat, tapi karena salah satu kawan Rin belum tiba, kami belum bisa berangkat bersama perahu itu, dan kami pun harus rela menunggu lebih sejam untuk keberangkatan perahu selanjutnya. Untuk motor, kami menitipkannya ke rumah warga biar aman. Biasanya ada biaya parkir, tapi si ibu pemilik rumah mengatakan kepada kami tak usah bayar. Hehe, baik banget si ibu nya.

Perahu di Dermaga Kera-Kera

Setiap penumpang perahu dikenakan biaya Rp3.000,- jika ditambah motor +Rp1.000,-. Murah banget kan ! Ini benar-benar tour dengan budget termurah. Don’t forget to bring Bekal ya. Nunggu perahu juga melelahkan. Well, karena kami prepare nggak siap banget, Rin juga gak kepikiran bawa makanan, walhasil kami kelaperan. Walau salah seorang kawan bawa puding, tapi gak bisa menghilangkan lapar, hiks hiks.. T_T
Makan ala kadarnya
Sepanjang perjalanan ke lakkang, pemandangan pohon-pohon nipah dan mangrove begitu indah disisi-sisi sungai yang bersih, membuat suasana terasa nyaman, sampai lupa kalo kami ada di Makassar. Perahu berlabuh menurunkan penumpang di dermaga rw 2 lakkang lalu melanjutkan ke dermaga rw 1. Karena tujuan kami adalah bunker Jepang, jadi kami akan turun di dermaga rw 1 karena lokasinya lebih dekat.

Sungai Tallo
Menikmati perjalanan

Orang-orang Lakkang juga ramah-ramah. Kami dapat suguhan minum dan kue dari ibu R*r* yang juga salah satu penumpang perahu yang Rin ajak bicara sepanjang perjalanan. Kami sholat ashar di rumah ibu R*r*, setelah itu berkeliling kampung melihat bunker ditemani dua gadis cilik cantik tour guide kami. Di desa yang asri ini, kami mengunjungi sejumlah bunker peninggalan Jepang yang dulu digunakan sebagai tempat bersembunyi tentara Jepang saat menguasai Makassar. Ada tujuh sebenarnya, tapi semuanya tertimbun tanah kecuali satu yang kami kunjungi ini. Pernah dilakukan penggalian oleh marinir tapi tidak dilanjutkan lagi. Orang-orang juga kerap kali menjadikannya tempat pembuangan sampah.

Kami berkeliling desa menyusuri jalan setapak yang bersih dan pohon bambu disisi jalan, sambil menikmati pemandangan sore hari. Rumah panggung masih menjadi ciri khas lakkang. Desa ini terdiri dari beberapa lapisan, yang terluar adalah empang, lahan pertanian, lalu rumah warga, dan yang paling tengah adalah hutan bambu dan ada juga lapangan bola. Empang di dekat dermaga digunakan sebagai tempat pemancingan umum.

Tiba waktu kami untuk pulang, kami menggunakan perahu kecil menyusuri sungai tallo ditemani pemandangan matahari terbenam menuju dermaga kera-kera, sungguh pemandangan yang sangat indah dan tak terlupakan.

Desa ini masih tetap terisolasi, dulunya sempat dicanangkan akan dibangun jembatan penghubung, tapi karena banyak yang menentang akhirnya perahu masih menjadi andalan transportasi keluar desa. Bukan tidak mungkin, terbukanya akses ke desa ini, bukan membuat keadaan membaik malah bisa jadi warga asli akan terusir dari kampung halamannya sendiri. Hal yang lumrah, terbukanya lahan baru, membuat para investor menjadikannya target investasi dan mengusir penduduk asli. Jika lahan-lahan pertanian mereka dicaplok para kapitalis, maka dengan apa mereka akan hidup. Sedang pemerintah seringkali tak punya power menghadapi para kapitalis. Dengan pertimbangan itu, warga memilih tetap hidup dalam desa terpencil di sebuah kota besar dengan akses transportasi yang terbatas.

Dermaga Lakkang

Selfie bareng dua gadis cantik tour guide kami
Jalan masuk bunker

Plang situs bunker Jepang

Ruang bawah tanah



Jalan setapak desa Lakkang

Sunset di Desa Lakkang

Gazebo di tempat pemancingan

Perahu yang biru ini digunakan anak sekolahan
Suburki Mangrove ta'

Catatan Perjalanan
Senin, 11 Juli 2016








Rabu, 06 Juli 2016

Kota Tua : Museum Bank Mandiri, Museum BI, hingga Taman Fatahillah

Ini tulisan lama, tapi baru posting sekarang. Hehe..

Setelah dua minggu  Rin di Jakarta. Kali ini, Rin nge-trip sendirian jalan-jalan di Kota Tua. Jalan-jalan memang sudah jadi hobi Rin sejak kecil. Sendirian maupun rame-rame, sama aja bagi Rin, sama-sama seru dan menyenangkan. Karena Rin baru di kota Jakarta, tak masalah deh, jalan-jalan sendirian dulu. Kalo sudah dapat teman banyak, baru deh rame-rame nge-tripnya.

Jam 09:00 Rin berangkat dari Kemayoran menggunakan busway dari halte kemayoran landas pacu menuju halte kota. Karena ini pagi hari, penumpang busway cukup banyak, jadi gak kebagian tempat duduk deh. Ada 4 halte yang dilewati sebelum sampe di halte kota. Perjalanan sekitar 15-20 menit, dan Rin pun sampe di Jakarta Kota.

Museum Bank Mandiri, tempat pertama yang Rin datengin disini. Cukup bayar Rp 5000,00, Rin dapat tiket masuk ke museum. Museum ini merupakan gedung pertama yang digunakan oleh bank mandiri dan masih mempertahankan bentuk asli bangunan dan perabotan-perabotannya. Disini, kamu bisa melihat benda-benda yang digunakan bank sejak kolonialisme Belanda.

Museum Bank Mandiri

Museum BI



Setelah mengelilingi Museum Bank Mandiri selama hampir satu jam, Rin keluar museum dan jalan lagi, tepat disamping kiri Museum Bank Mandiri, ada juga Museum Bank Indonesia. Rin bertandang ke Museum BI dengan tiket masuk seharga Rp 5.000,00. Museum ini agak berbeda dari museum-museum yang pernah Rin kunjungi selama hidup Rin. Rin penyuka museum, dan museum ini benar-benar unik. Saya suka saya suka (he.. ala upin ipin). Museumnya sangat modern dan dilengkapi monitor yang menampilkan film-film pendek. Bangunan ini merupakan peninggalan  dari De Javasche Bank di era penjajahan kolonial, lalu diresmikan menjadi sebuah museum di tahun 2005 oleh Gubernur BI. Museum ini mengenalkan kita akan kisah sejarah dari dunia perbankan, mulai dari sejarah mata uang Indonesia sampai perkembangan sistem ekonomi di Indonesia. Salah satu galeri juga menampilkan profil dan kisah penjelajah Eropa dan Asia yang pernah datang ke Indonesia, mulai dari Marco Polo, Laksamana Cheng Ho, Juan Sebastian Del Cano, Alfonso d’Albuquerque hingga Cornelis De Houtmen. Diorama 3 dimensi juga merupakan daya tarik museum ini. Jangan lupa berkunjung ke museum ini saat bertandang ke Jakarta, dan belajar banyak informasi dan pengetahuan yang disajikan museum ini.

Puas berkeliling museum BI, Rin keluar dan hanya berjalan mengikuti arus wisatawan melewati jejeran bangunan tua yang bemetamorfosis menjadi café dan restaurant, dan taraa, sampailah Rin di taman yang errr cukup ramai ini, taman fatahillah. Taman ini dikelilingi bangunan tua yang difungsikan sebagai museum dan tempat makan. Ada Museum Wayang, Museum Sejarah Jakarta, Café Batavia, dan café-café kecil lainnya. Karena lelah, Rin gak bisa datengin semuanya. I hope I can visit this place again to continue my expedition.. See you..

Jejeran bangunan tua 

Taman Fatahillah
(Ada banyak persewaan sepeda, berkeliling kota tua dengan sepeda.. asyik juga)


Perpustakaan Taman Fatahillah
(Mau menikmati weekend dengan membaca, tempat ini cocok)


Catatan Perjalanan
Sabtu, 24 Oktober 2015


Senin, 27 Juni 2016

Buat Paspor Mudah !



Hai gan. Buat kamu yang berencana keluar negeri, pastinya tau dong kalo kamu butuh paspor. Maklumlah keluar Indonesia kan udah terhitung keluar negeri. Kecuali jika  negeri-negeri muslim bersatu, kita gak akan butuh paspor lagi, karena masih satu negara. Tapi karena sekarang dunia muslim tersekat-sekat oleh batas kebangsaan dan negara, paspor jadi barang wajib kamu miliki untuk berpetualang keluar Indonesia. Karena Rin suka sejarah, Rin punya mimpi keliling dunia mempelajari sejarah dunia islam. Sebagai langkah awal, Rin pengen buat paspor sebagai bukti kesungguhan Rin mewujudkan mimpi. Yah, walau belum pasti juga bakal keluar negeri atau nggak. Rin kali ini mau berbagi cerita pembuatan paspor di Makassar.

Tempat Pembuatan Paspor

Pertama dan yang paling penting adalah cari tahu dulu dimana tempat pembuatan paspor yang terdekat dari tempat kamu. Rin nge-googling dan akhirnya ‘taraaa’, dapat deh. Ternyata paspor dibuat di kantor imigrasi kelas I Makassar yang beralamat di jalan perintis kemerdekaan Km 13, RT/RW 02/07, Kel Kapasa, Kec Tamalanrea, Kec Makassar, Sulsel, 90243. Sekitar 3 km dari UNHAS ke arah Maros. Kantornya ada di sebelah kiri. Menemukannya mudah kok.

Sesampainya di kanim kelas I Makassar, pegawainya nanya Rin tinggal dimana. Rin jawab di Sungguminasa.  Pegawai itu bilang kalo untuk mengurus paspor juga sudah bisa di kantor imigrasi baru yang ada di jalan Sultan Alauddin, tepatnya di belakang Mc Donald. Lebih dekat dari Sungguminasa. Yah, karena Rin udah terlanjur disini jadi Rin ngurus paspornya di kanim ini. Jauh sih, ini udah masuk wilayah daya’.

Biaya Pembuatan Paspor dengan atau tanpa Calo

Untuk pembuatan paspor biasa 48 halaman dikenai biaya Rp300.000,- plus biaya teknologi biometrik Rp55.000,- dan biaya bank Rp5.000,-, jadi totalnya adalah Rp360.000,- yang dibayarkan di BNI.
Pengurusan paspor sebenarnya mudah. Tapi banyak juga yang memakai jasa calo. Tentu dengan biaya yang lebih. Jika menggunakan jasa calo, biaya pembuatan paspor bisa mencapai Rp500 ribu – Rp 600 ribu. Saran Rin sih, ngurus sendiri saja jika kamu masih muda. Itung-itung buat belajar juga ngurus paspor. Jadi besok-besok ada keluarga yang ingin buat paspor, kamu bisa bantu deh. In Sya Allah, membantu orang lain itu berpahala.

Dokumen yang disiapkan

Pastikan kamu menyiapkan dokumen di bawah ini:
  1. Foto copy KTP  (harus foto copy di tengah-tengah kertas A4, jika tidak akan ditolak petugas)
  2. Foto copy KK
  3. Foto copy akta Kelahiran / ijazah
  4. Foto copy akta nikah (bagi yang sudah nikah)
  5. Foto copy Paspor lama jika sudah pernah membuat sebelumnya (termasuk bagian ENDORSEMENT)
  6. Bawa dokumen aslinya saat datang ke kantor imigrasi.
 Sedangkan untuk anak dibawah umur 17 tahun, dokumen yang disiapkan adalah :
  1. Foto copy KTP kedua orang tua
  2. Foto copy paspor kedua orang tua
  3. Foto copy akta kelahiran
  4. Foto copy KK
  5. Foto copy akta nikah orang tua
  6. Bawa dokumen aslinya saat datang ke kantor imigrasi.
Proses Pembuatan Paspor

Proses pembuatan paspor ada 2 cara, offline dan online. Rin sarankan untuk pembuatan paspor online. Karena pembuatan paspor offline biasanya full antriannya. Selain itu untuk menghindari kehabisan nomor antrian untuk pendaftar offline, daftarlah secara online, antriannya juga lebih sedikit. Berikut ini Rin akan share tentang proses pembuatan paspor via online. Untuk prosedur offline, Rin minta maaf tidak bisa nge share tentang itu, karena Rin juga kurang tau prosedurnya.

Proses Pembuatan Paspor Sistem Online
  1. Buka laman https://ipass.imigrasi.go.id
  2. Klik pra permohonan personal dan isilah data-data yang diminta. Pembuatan paspor via online lebih mudah sekarang karena tanpa perlu mengunggah dokumen-dokumen kamu. Pastikan email yang kamu masukkan adalah email aktif.
  3. Setelah mengisi data-data. Kamu akan mendapatkan email dari SPRI dan lampiran tanda bukti pra permohonan. Unduh dan cetak tanda bukti pra permohonan itu lalu bawa ke BNI.
  4. Ketika di BNI, tak perlu mengisi formulir apapun. Cukup tanda bukti pra permohonan dan uang biaya paspor. Setelah kamu bayar, kamu akan dapat resi pembayaran paspor yang harus kamu bawa ke kanim nantinya bersama dengan dokumen-dokumenmu.
  5. Setelah bayar, buka kembali email dari SPRI sebelumnya dan klik LANJUT atau alamat link yang tertera. Tentukan tempat dan hari pengambilan foto dan sidik jari.
  6. Kamu akan dapat email lagi dari SPRI dan lampiran tanda bukti permohonan dan formulir yang harus kamu isi. Unduh dan cetak, lampirkan ke dalam dokumen-dokumenmu.
  7. Datanglah ke tempat dan pada hari yang ditentukan antara pukul 08:00-10:00. Bawa seluruh dokumen bersama resi pembayaran dan juga formulir yang telah diisi. Jangan berpakaian/kerudung/baju putih.  Berpakaianlah yang rapi dan sopan.
  8. Saat datang ke kanim kelas I Makassar, ambil nomor antrian di pak satpam. Jangan lupa sebutkan untuk antrian online. Tunggu hingga nomor kamu disebut dan bawa seluruh dokumen itu ke pegawai yang memanggil nomormu. Dokumen asli langsung dikembalikan padamu.
  9. Kamu akan mendapat map berisi dokumenmu tadi beserta nomor antrian untuk foto dan wawancara. Kamu harus nunggu antrian lagi untuk foto dan wawancara.
  10. Setelah foto dan wawancara kamu akan dapat cap berupa tanggal dan waktu pengambilan paspor. Biasanya 3-4 hari kerja setelah pengambilan foto.
  11. Datanglah ke kanim pada hari dan jam yang ditentukan, ambil antrian untuk pengambilan paspor, tunggu hingga nomor antrian kamu. Setelah itu dapat deh paspor kamu.
Gimana mudah kan  ?! Jadi cukup datang dua kali aja ke kanim, pertama buat foto, kedua ngambil paspor jadi. Mau buat paspor? Ayo ! Selamat menjalani prosesnya !

Catatan :
Harga diatas adalah harga paspor dibulan Januari 2016, karena Rin ngurus paspor di bulan itu. Prosedurnya juga kadang berubah. Jadi cek dulu di laman SPRI prosedur pembuatan paspor sebelum mulai membuatnya.