Kamis, 23 Maret 2017

RITUAL CHAUPADI (Tradisi Hindu Mengasingkan Wanita yang Mengalami Menstruasi di Nepal)

Isu-isu perempuan memang selalu menjadi topik pembicaraan yang tetap hot, tak lekang oleh waktu. Kali ini Rin akan berbagi cerita bagaimana kondisi para perempuan di Nepal akibat anggapan yang keliru tentang wanita.

Diskriminasi Wanita yang Menstruasi.

Di Nepal, ada keyakinan tentang kenajisan darah menstruasi yang membuat para wanita dan gadis diasingkan di gubuk pengasingan. Di masa-masa menstruasi mereka diasingkan, dilarang memasuki dapur, apalagi mengikuti perayaan-perayaan keagamaan.
Gubuk Pengasingan di Nepal (Fotografi oleh Poulomi Basu)

       Wanita mengalami situasi ekstrim di daerah-daerah pedesaan dengan menanggung pengasingan ini satu minggu setiap bulannya selama 35 sampai 45 tahun siklus menstruasi mereka. Mereka dipandang tidak bersih, tidak boleh disentuh, dan membawa bencana bagi orang-orang, ternak, dan tanah, ketika mereka haid. Mereka pun diasingkan keluar dari rumah-rumah mereka. Beberapa tinggal di gudang terdekat, sementara  yang lain harus berjalan kaki 10-15 menit dari rumah menuju gubuk kecil di dalam hutan lebat. Dalam pengasingan, mereka seringkali harus harus menghadapi kematian akibat suhu yang sangat panas, sesak dari api yang sebenarnya dinyalakan untuk menjaga mereka tetap hangat selama musim dingin, racun ular kobra, dan pemerkosaan.

Penyembuhan tradisional perempuan yang sakit selama masa menstruasi
(Fotografi oleh Poulomi Basu)

Umum kita ketahui, bahwa di masa-masa haid, wanita seringkali mengalami nyeri haid atau bahkan sampai demam. Di Nepal, penyembuhan tradisional sering menggunakan kekerasan verbal dan fisik yang ekstrim untuk menyembuhkan  para gadis muda yang sakit selama menstruasi ini, karena meyakini bahwa mereka dirasuki oleh roh jahat. Para dukun pun bertugas melakukan ritual penyembuhan.

Pengucilan para Janda

Selain dari pengasingan wanita yang mengalami menstruasi, tradisi kebudayaan Hindu di Nepal juga mengucilkan para wanita yang kehilangan suami mereka (red: mati). Tradisi memerintahkan para janda hanya memakai sari berwarna putih (simbol duka dan kematian) selama sisa hidup mereka. Mereka  pun dilarang menghadiri perayaan atau menikah lagi. Kematian suami berarti wanita harus menderita karena dosa-dosa  yang dilakukannya di kehidupan sebelumnya. Janda dianggap simbol kesialan dan pembawa petaka sehingga dianggap harus dikucilkan dari masyarakat.

Why?

Tidak sedikit masalah diskriminasi dan pengucilan perempuan akibat agama, keyakinan, tradisi, dan budaya tertentu. Hal itu tidak lepas dari pandangan mereka terhadap perempuan.  Beberapa ahli memandang ini adalah akibat penerapan sistem patriarki di masyarakat, tapi apakah akan ada bedanya jika yang diterapkan itu sistem matriarki ?  Sejarah membuktikan para nazi wanita juga sangat kejam dan sadis, sedikit contoh ketika wanita memegang kekuasaan. Bahkan Catherine the Great dari Rusia juga bukan wanita yang baik, dari sisi pemegang kekuasaan.

Kemudian muncul gagasan kesetaraan gender (gender equality) yang diperjuangkan oleh para pegiat feminis yang menuntut penyetaraan perempuan dengan laki-laki. Semuanya dilatarbelakangi diskriminasi yang dialami para wanita. Gagasan ini memprovokasi para wanita agar mensejajarkan diri dengan laki-laki, sehingga perannya sebagai ibu dianggap sebagai beban dan penghambat kemandirian. Hasilnya perlahan para wanita bergerak semakin jauh meninggalkan kodratnya sebagai istri dan ibu. Kesetaraan gender dianggap solusi membebaskan perempuan dari berbagai penindasan. Namun, sebenarnya tanpa sadar justru memunculkan masalah lainnya. Di negara barat sebagai pengekspor ide gender, Inggris dan AS, angka perceraian sangat tinggi, angka kelahiran pun semakin turun tiap tahunnya akibat para wanita enggan memiliki anak bahkan banyak yang tidak ingin menikah karena tidak ingin menghambat kesibukannya sebagai wanita karir.

Jika sistem masyarakat matriarki ataupun kesetaraan gender bukan solusi masalah penindasan perempuan, lantas apa solusinya?

Masalah penindasan perempuan berangkat dari anggapan yang salah tentang perempuan. Sebelum Islam datang, masyarakat arab menganggap kelahiran bayi perempuan sebagai aib. Praktek penguburan bayi perempuan hidup-hidup pun menjadi marak dan biasa di  tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Ketika Islam datang, ayat-ayat Al-Quran mengungkap segala kebobrokan perilaku jahiliyah orang-orang Arab, serta membawa pemahaman yang benar tentang wanita dan perannya yang mulia sebagai pendidik generasi. Di masa islam lah, perempuan ditempatkan pada posisi yang mulia, bukan sebagai saingan lelaki, tetapi sebagai partner dalam menjalankan kehidupan.


Adanya penindasan, diskriminasi, pengucilan yang dilakukan suatu kepercayaan atau tradisi menunjukkan bahwa keyakinan mereka justru jauh menyimpang dari fitrah manusia dan tentunya bertentangan dengan akal dan ilmu. Maka patutlah Allah selalu memerintahkan kita dalam banyak ayat di Al-Quran untuk senantiasa berpikir, tanpa berpikir manusia hanya akan jatuh dalam kufarat dan anggapan-anggapan salah. Semua ini karena hanya mengandalkan persaan semata, dan tradisi melanjutkan apa yang telah dilakukan secara turun temurun, entah nenek moyangnya salah atau benar. Jika mau mencerabut masalah-masalah pengucilan, diskriminasi, dan penindasan wanita, caranya tidak lain dan tidak bukan, kembali kepada aturan yang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT. Wallahua’lam bi ash-shawab. [Ashwa Rin]

Jumat, 17 Maret 2017

Adab Meminta Izin

Rumah, pada hakikatnya adalah hijab seseorang. Bagi para perempuan khususnya, hayatul khas kami merupakan tempat yang di dalamnya kami biasa membuka aurat. Di sana juga terdapat perkara-perkara yang kami tidak ingin orang lain melihatnya. Bagaimana jadinya, jika akhirnya pandangan mata terjatuh pada perkara-perkara yang haram?
Syariat islam itu sempurna. Tidak satupun perkara yang dapat membawa mudharat bagi kehidupan manusia kecuali Islam melarangnya. Termasuk masalah adab meminta izin  isti’dzan. Islam telah memberikan tuntunan adab yang agung dalam masalah ini.

1.       MEMINTA IZIN

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat.” [TQS.An-Nur:27]

Dari Kaladah bin Al Hambal, bahwasanya Shafwan bin Umayyah mengutusnya pada hari penaklukan kota Makkah. Ketika itu Rasulullah berada di atas lembah. Aku menemui beliau tanpa mengucapkan salam dan tanpa minta izin. Maka beliau bersabda: “keluarlah, ucapkanlah salam dan katakan : ‘bolehkah aku masuk?’ [HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An-Nasa’i]

Rasulullah saw bersabda : ‘sesungguhnya meminta izin disyariatkan untuk menjaga pandangan mata’ [HR Bukhari dan Muslim]

Hal ini juga berlaku ketika seseorang hendak masuk menemui salah satu anggota keluarganya.

ANAK LAKI-LAKI BALIGH HENDAKNYA MEMINTA IZIN KETIKA HENDAK MENEMUI IBUNYA

Di dalam kitab Adabul Mufrad, Imam al-Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Muslim bin Nadzir, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah Ibnul Yaman: “Apakah saya harus meminta izin ketika hendak menemui ibuku ?” Maka ia menjawab : “Jika engkau tidak meminta izin, niscaya engkau akan melihat sesuatu yang tidak engkau sukai.” [Hadits mauquf shahih]

Demikian juga riwayat dari Alqamah, ia berkata: seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Mas’ud ra dan berkata: “Apakah aku harus meminta izin jika hendak masuk menemui ibuku?” Maka ia menjawab: “Tidaklah dalam semua keadaannya ia suka engkau melihatnya”. [Hadits mauquf shahih]

SEORANG LAKI-LAKI HENDAKNYA MEMINTA IZIN KETIKA HENDAK MENEMUI SAUDARA PEREMPUANNYA

Pun  sama halnya ketika menenui saudara perempuan. Imam al Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Atha’. Dia berkata, aku bertanya pada Ibnu Abbas: “Apakah aku harus meminta izin jika hendak masuk menemui saudara perempuanku?” Dia menjawab, “ya”. Aku mengulangi pertanyaanku: “Dua orang saudara perempuanku berada di bawah tanggunganku. Aku yang mengurus dan membiayai mereka. Haruskah aku meminta izin jika hendak menemui mereka?” Maka dia menjawab, “Ya. Apakah engkau suka melihat mereka berdua dalam keadaan telanjang?” [Hadits mauquf shahih]

Jika masuk ke tempat ibu dan saudara perempuan saja harus memerhatikan adabnya, apalagi ke tempat tinggal para wanita lainnya.

2.       BILA TIDAK MENDAPAT IZIN HENDAKLAH KEMBALI

Allah berfirman yang artinya : “Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu “kembali (saja)lah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [TQS An-Nur:28]


Rasulullah saw bersabda : “jika salah seorang dari kamu sudah meminta izin sebanyak tiga kali, namun tidak diberi izin, maka kembalilah.’ [HR Bukhari dan Muslim]

Kamis, 23 Februari 2017

Jika Maut Menjemput

Kemarin, hujan deras disertai angin kencang melanda hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Kota yang disebut Gowa Bersejarah itu pun tak luput sasaran hantaman badai angin kencang. Pohon-pohon banyak yang tumbang menghalangi jalan. Insiden rubuhnya Tribun Lapangan Syekh Yusuf pun tak terelakkan mengakibatkan tewasnya satu orang satpol PP. Sedang, di jembatan kembar, seorang pelajar SMP juga tewas karena tertusuk cabang pohon. Turut berduka cita untuk para korban, semoga amal kebaikannya di terima disisi Allah.

Kematian bukan sesuatu yang bisa diundur barang sedetik. Ia adalah tamu yang pasti datangnya. Kita mungkin tidak tahu kita mati dengan cara apa, terbunuh, kecelakaan, tenggelam, sakit, ataukah serangan jantung. Tapi pikirkanlah dalam keadaan apa kita ingin mati. Husnul khatimah atau Su’ul Khatimah. Dalam keadaan taat ataukah bermaksiat kepada Allah. Jika ingin husnul khatimah, tentu saja kita mesti menjaga seluruh aktivitas kita dalam koridor ketaatan kepada Allah karena datangnya maut tak ada yang tau.

Sungguh sayang jika maut menjemput dikala kita sedang maksiat. Sementara pacaran di bawah pohon, eh tau-tau kesambar petir. Lagi boncengan bareng pacar, eh tau-tau kecelakaan. Belum tobat dari riba, eh tau-tau kena serangan jantung. Masih buka-buka aurat dan tabarruj, eh tau-tau nikmat nafas itu telah tiada. Sedang berantem dengan suami, eh tau-tau malaikat maut sudah menjemput. Mungkin kita berpikir, ah mau husnul khatimah aja kok susah gak boleh ini gak boleh itu. Ya iya bro and sis, cita-cita mati khusnul khatimah itu cita-cita yang besar, jadi usaha untuk mewujudkannya pun harus besar. Dan juga, kita hidup di alam yang mana kemaksiatan itu hal yang lumrah. Pacaran lumrah, tabarruj lumrah, menampakkan aurat lumrah, riba lumrah. Akhirnya ketaatan itu dipandang sulit di habitat saat ini. Sulit gak berarti gak bisa loh ya. Pasti bisa !!!

Buat yang punya ambisi mati khusnul khatimah, setidaknya lakukan hal-hal berikut ini sebagai bukti kesungguhan akan cita-cita kita, bukan omong doang.

     1.  IKUT KAJIAN ISLAM

Ilmu dan amal itu dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Imam al-Ghazali mengatakan “Ilmu tanpa amal adalah gila dan amalan tanpa ilmu adalah sia-sia”.

Gimana bisa taat kalo nggak punya ilmu. Gimana bisa tau yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram kalo gak belajar. Jadinya bingung dengan halal dan haram. Belajar ilmu agama itu wajib ain guys, sama wajibnya dengan sholat, puasa, dan zakat. So #yuukNgaji !!!

    2. IHSANUL AMAL

Setelah ilmu, tentu adalah beramal/berbuat. Pastikan kalo kita melakukan ihsanul amal (amalan baik), yang artinya adalah amalan yang diterima oleh Allah SWT. Kan sayang, kalo beramal tanpa diterima oleh Allah. Standar diterimanya amalan ialah IKHLAS (melakukan atau meninggalkan sesuatu karena Allah), dan CARANYA BENAR (sesuai hukum syara/perintah Allah). Untuk tahu cara yang benar, standarnya bukan manusia tapi Allah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Nah tuh kan butuh ilmu lagi. Makanya #yuukNgaji.

 3. SELALU BERSAMA ORANG-ORANG SHALIH YANG MENGINGATKAN PADA ALLAH

Domba yang terpisah dari kawanannya saja mudah diterkam serigala kelaparan. Seperti pula kita, yang jika sendiri, tidak berjamaah, maka mudah tergoda untuk bermaksiat. Teman-teman yang shalih/ah akan membantu kita menjaga keimanan dan keistiqomahan. So, #yuukNgaji bareng teman-teman yang sevisi mati khusnul khatimah.

    4. BERDOA

Doa itu senjatanya kaum muslimin. Jangan pernah lupakan berdoa mengharap kematian khusnul khatimah di setiap waktu. 
Lakukan yang wajib
Perbanyak yang sunnah
Minimkan yang mubah
Hindari yang makruh

Tinggalkan yang haram


[AR]

Generalisasi


Pernah dengar istilah generalisasi ? Istilah ini tentunya tidak asing lagi terutama bagi para akademisi. Generalisasi adalah proses pengambilan kesimpulan umum dari sejumlah fenomena atau hal (khusus), yang mengikat seluruh fenomena atau hal sejenis. Misalnya, jika botol minum dibakar akan meleleh, jika sedotan dibakar akan meleleh, jika ember dibakar akan meleleh, dan kesimpulan umum yang diambil dari fenomena-fenomena khusus tersebut adalah bahwa semua benda plastik yang dibakar akan meleleh. Kesimpulan umum tersebut akan bernilai salah apabila ada benda plastik yang dibakar tapi tidak meleleh.
Generalisasi ini adalah salah satu metode penalaran untuk merumuskan suatu ilmu atau pengetahuan. Tentunya generalisasi ini akan membantu dalam mempelajari berbagai fenomena. Contoh lainnya, pulpen yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah, buku yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah, tas yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah, kesimpulan yang diambil dari berbagai fenomena itu adalah bahwa semua benda yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah.  Inilah kesimpulan umumnya yang diperoleh dari proses generalisasi.
Untuk mengeneralisasi, fenomena-fenomena khusus yang diuji atau diselidiki haruslah bisa mewakili fenomena umum yang disimpulkan agar kesimpulan tersebut dapat mengikat seluruh fenomena sejenis. Jika ada fenomena sejenis yang tidak sesuai dengan kesimpulan umum tersebut, maka ada dua hal yang mungin terjadi. Pertama, ada faktor eksternal yang membuat fenomena itu tidak sejalan dengan kesimpulan umum, sehingga fenomena itu termasuk fenomena khusus. Kedua, kesimpulan tersebut merupakan kesimpulan yang salah.
Generalisasi fenomena ilmiah tentu tidak sama dengan generalisasi fenomena sosial. Tentu karena sifat keduanya yang berbeda. Hal-hal ilmiah dapat dikelompokkan menjadi kategori-kategori yang sifatnya tetap. Tetapi untuk hal-hal sosial, sifatnya dinamis dan unik. Melakukan generalisasi secara terburu-buru  hanya menunjukkan kemalasan berpikir yang pada akhirnya menghasilkan kesimpulan yang salah. Generalisasi yang salah hanya akan menjadi hoax. Sebagian kaum muslim cenderung mengeneralisasi berita tentang fenomena atau hal yang tampak sesuai atau baik untuk islam sebagai sebuah kebenaran. Generalisasi semacam itu hanya menunjukkan kemalasan berpikir untuk membuktikan kebenaran. Bangkitnya kaum muslimin tergantung pada pemikirannya. Jika kaum muslim malas berpikir, bukannya kebangkitan yang diperoleh tapi kaum muslim justru akan semakin terperosot dalam kemunduran. Seorang muslim haruslah bersikap kritis dan cerdas agar kebangkitan Islam itu segera terwujud. Wallahu a’lam bi ash-shawab. [Ashwa Rin]

Sungguminasa, 25/12/2015, Jumat, 12:01


JUST WONOSALAM



Awal ceritanya ya gimana ya? hmm, intinya teman saya, bu fath, mengajak Rin ke Wonosalam secara mendadak di hari itu. Jadilah Rin berangkat setelah meng-cancel dua jadwal di hari itu.
Dari Pare, perjalanan menuju Wonosalam memakan waktu sekitar satu jam plus setengah jam lagi ke rumah temannya ibu Fath di desa yang Rin juga gak tau namanya apa. Perjalanannya sedikit berliku dan menanjak menuju ketinggian 500-600 meter di atas permukaan laut.
Wonosalam termasuk kecamatan dalam kabupaten Jombang yang terletak di kaki dan lereng Gunung Anjasmoro dan termasuk kawasan penghasil durian terbesar di jatim. Disini Rin berkunjung ke rumah mbak ati dan mbak Ani dan Rin juga menyempatkan masuk ke kebun kopi dan durian mereka, melihat langsung seperti apa sih pohonnya, I’m curious about it. This is my first experience being in a coffee and durian farm. Sayangnya Rin gak banyak ambil gambar karena hp yang lowbat. Poor…

Kami pulang ke Pare dengan membawa dua kardus durian. How heavy those are, karena Rin harus memangku sedosnya sepanjang perjalanan pulang. [AR]



DALAM RANTAU ITU

Jangan khawatir saat jauh dari kampung halaman
Jangan khawatir kesepian saat merantau
Karena keluarga itu ada dimanapun kita berada

Tak terasa lebih setahun Rin tinggal di Pare, menuntut ilmu di kampung Inggris. Ada suka dan duka nya. Kadang homesick dan serasa ingin pulang. Tapi, semua masa dalam hidup harus kita lalui dengan baik bukan?  Termasuk dalam masa-masa rantau. Imam Syafi’I dalam bait-bait syai’ir nya memberikan nasehat mengenai perantauan, dimana seseorang meninggalkan comfort zone menuju new zone dengan suasana baru, orang-orang baru, dan kenalan baru.

Kata Imam Syafi’i,

Merantaulah …
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)

Merantaulah …
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang akan engkau tinggalkan (kerabat dan kawan). Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Merantaulah …
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Merantaulah …
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.

Merantaulah …
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Merantaulah …
Biji emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang). Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Merantaulah …
Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya. Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

Merantaulah …

Ya, betul sekali kata Imam Syafi’i, merantau sama seperti sedang mengupgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik. Berkenalan dengan orang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda membuatmu melihat dunia dari sisi yang berbeda-beda pula. Hidup dengan orang yang berasal dari berbagai macam suku, melatihmu bersabar, ada yang keras, lemah gemulai, adapun yang humoris. Kadang harus menghadapi perbedaan kultural. Misal orang Makassar yang terbiasa ngomong dengan nada tinggi,  atau orang sunda yang lembut banget.  Semuanya terasa begitu penuh warna.

Saat-saat dalam rantau, bersosialisasilah dengan penduduk asli setempat, jangan jadi introvert. Mentang-mentang lingkungan baru, takut salah ngomong, takut salah bersikap, akhirnya hanya mengurung diri di kandang, it’s not good guys. Apalagi bagi para pengemban dakwah. Bersosialisasi atau bahasa kerennya ‘jadi anak gaul’ itu penting untuk menginteraksikan ide-ide yang kita emban, apalagi jika itu adalah pemikiran yang shahih, sudah sepatutnya disebar bukan? [Ashwa Rin]

Reference :
Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39




Selasa, 12 Juli 2016

Desa Wisata Lakkang : Desa Terpencil di Sebuah Kota Besar

Desa wisata lakkang merupakan salah satu kelurahan di kota Makassar yang hanya bisa diakses menggunakan perahu karena lokasinya yang berada diantara sungai tallo dan sungai pampang. Ada tiga dermaga yang bisa dipilih untuk menuju lakkang, yang paling populer adalah dermaga kera-kera yang lokasinya ada di Teaching Farm Fakultas Pertanian dan Peternakan UNHAS, dan yang paling dekat ke lakkang adalah dermaga di tol lama.

Tour Rin kali ini bersama tiga kawan dari Sungguminasa menuju dermaga kera-kera. Untuk menemukannya mudah saja, buka aplikasi maps untuk menemukan dermaga kera-kera. Sesampai Rin di dermaga, terlihat satu perahu mulai bersiap berangkat, tapi karena salah satu kawan Rin belum tiba, kami belum bisa berangkat bersama perahu itu, dan kami pun harus rela menunggu lebih sejam untuk keberangkatan perahu selanjutnya. Untuk motor, kami menitipkannya ke rumah warga biar aman. Biasanya ada biaya parkir, tapi si ibu pemilik rumah mengatakan kepada kami tak usah bayar. Hehe, baik banget si ibu nya.

Perahu di Dermaga Kera-Kera

Setiap penumpang perahu dikenakan biaya Rp3.000,- jika ditambah motor +Rp1.000,-. Murah banget kan ! Ini benar-benar tour dengan budget termurah. Don’t forget to bring Bekal ya. Nunggu perahu juga melelahkan. Well, karena kami prepare nggak siap banget, Rin juga gak kepikiran bawa makanan, walhasil kami kelaperan. Walau salah seorang kawan bawa puding, tapi gak bisa menghilangkan lapar, hiks hiks.. T_T
Makan ala kadarnya
Sepanjang perjalanan ke lakkang, pemandangan pohon-pohon nipah dan mangrove begitu indah disisi-sisi sungai yang bersih, membuat suasana terasa nyaman, sampai lupa kalo kami ada di Makassar. Perahu berlabuh menurunkan penumpang di dermaga rw 2 lakkang lalu melanjutkan ke dermaga rw 1. Karena tujuan kami adalah bunker Jepang, jadi kami akan turun di dermaga rw 1 karena lokasinya lebih dekat.

Sungai Tallo
Menikmati perjalanan

Orang-orang Lakkang juga ramah-ramah. Kami dapat suguhan minum dan kue dari ibu R*r* yang juga salah satu penumpang perahu yang Rin ajak bicara sepanjang perjalanan. Kami sholat ashar di rumah ibu R*r*, setelah itu berkeliling kampung melihat bunker ditemani dua gadis cilik cantik tour guide kami. Di desa yang asri ini, kami mengunjungi sejumlah bunker peninggalan Jepang yang dulu digunakan sebagai tempat bersembunyi tentara Jepang saat menguasai Makassar. Ada tujuh sebenarnya, tapi semuanya tertimbun tanah kecuali satu yang kami kunjungi ini. Pernah dilakukan penggalian oleh marinir tapi tidak dilanjutkan lagi. Orang-orang juga kerap kali menjadikannya tempat pembuangan sampah.

Kami berkeliling desa menyusuri jalan setapak yang bersih dan pohon bambu disisi jalan, sambil menikmati pemandangan sore hari. Rumah panggung masih menjadi ciri khas lakkang. Desa ini terdiri dari beberapa lapisan, yang terluar adalah empang, lahan pertanian, lalu rumah warga, dan yang paling tengah adalah hutan bambu dan ada juga lapangan bola. Empang di dekat dermaga digunakan sebagai tempat pemancingan umum.

Tiba waktu kami untuk pulang, kami menggunakan perahu kecil menyusuri sungai tallo ditemani pemandangan matahari terbenam menuju dermaga kera-kera, sungguh pemandangan yang sangat indah dan tak terlupakan.

Desa ini masih tetap terisolasi, dulunya sempat dicanangkan akan dibangun jembatan penghubung, tapi karena banyak yang menentang akhirnya perahu masih menjadi andalan transportasi keluar desa. Bukan tidak mungkin, terbukanya akses ke desa ini, bukan membuat keadaan membaik malah bisa jadi warga asli akan terusir dari kampung halamannya sendiri. Hal yang lumrah, terbukanya lahan baru, membuat para investor menjadikannya target investasi dan mengusir penduduk asli. Jika lahan-lahan pertanian mereka dicaplok para kapitalis, maka dengan apa mereka akan hidup. Sedang pemerintah seringkali tak punya power menghadapi para kapitalis. Dengan pertimbangan itu, warga memilih tetap hidup dalam desa terpencil di sebuah kota besar dengan akses transportasi yang terbatas.

Dermaga Lakkang

Selfie bareng dua gadis cantik tour guide kami
Jalan masuk bunker

Plang situs bunker Jepang

Ruang bawah tanah



Jalan setapak desa Lakkang

Sunset di Desa Lakkang

Gazebo di tempat pemancingan

Perahu yang biru ini digunakan anak sekolahan
Suburki Mangrove ta'

Catatan Perjalanan
Senin, 11 Juli 2016