Kamis, 17 Agustus 2017

Menapaki Rengasdengklok

Rumah Penculikan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok

Menjelang hari kemerdekaan biasanya situs-situs sejarah kemerdekaan ramai dikunjungi. Kali ini aku berkesempatan mengunjungi teman ibuku di Cikampek, Jawa Barat, untuk menginap selama 2 hari. Saat melihat-lihat maps kebetulan aku melihat nama daerah yang tidak asing diingatanku. Rengasdengklok, nama yang sering muncul di buku-buku pelajaran sejarah jaman sekolah dulu. Ya inilah nama kota yang menjadi saksi perjalanan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan diabadikan dalam catatan sejarah sebagai peristiwa Rengasdengklok. Secara rilnya, disinilah pertama kali kemerdekaan itu diproklamasikan.

Aku segera berselancar di internet untuk mencari apa saja yang mungkin bisa aku temui disana. Esoknya dengan mengendarai sepeda motor aku bersama anak dari teman ibuku itu menuju ke Rengasdengklok, di daerah Karawang. Tujuanku ada 3 tempat yang ingin ku kunjungi, yaitu pengasingan/rumah penculikan Soekarno Hatta, Tugu Perjuangan dan  Monumen Kebulatan Tekad.

Di rumah pengasingan, kami disambut oleh cucu Djiauw Kie Siong, yaitu Djiauw Kim Moy. Rumah ini adalah milik Djiauw Kie Siong, seorang pasukan pembela tanah air atau yang dikenal dengan PETA. Kami pun melihat-lihat isi rumah ini, ada dua kamar yang pada peristiwa Rengasdengklok masing-masing dipakai menginap oleh Soekarno dan M. Hatta. Ruang tengah menampilkan banyak foto-foto sejarah dan berbagai penghargaan ditujukan kepada situs sejarah ini. Setelah bertandang ke rumah pengasingan, kami pun menuju Lokasi Tugu Perjuangan dan Monumen Kebulatan Tekad yang tidak jauh dari rumah pengasingan. Lokasi Tugu Perjuangan dulunya merupakan markas PETA. Saat aku baru saja masuk ke lokasi tugu, seseorang menghampiriku dan berbicara kepadaku. Awalnya aku tidak mengerti karena cara bicaranya yang cepat sekali. Hingga temanku menjelaskan apa yang dikatakan orang itu bahwa kami harus membayar jika ingin mengambil foto di lokasi. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung, 50 ribu. Oh well, aku mengurungkan niatku untuk mengambil foto. Selanjutnya kami menuju monumen yang hanya beberapa meter dari lokasi tugu.

Tempat tidur yang digunakan Soekarno

Ruang tengah

Kamar Moh. Hatta


Perjalananku kali ini menelusuri peninggalan-peninggalan sejarah proklamasi kemerdekaan bukan hanya sekedar traveling mengisi waktu luang, bukan. Aku ingin tau, ingin merasakan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Sekelebat bayangan imajinasi bagaimana semua peristiwa itu terangkai mengisi ruang pikiranku. Kita mempelajari sejarah kemerdekaan sejak duduk di bangku SD, tapi apakah kemerdekaan itu sesungguhnya masih belumlah terjawab. Apakah kemerdekaan itu hanya berupa proklamasi, mengusir penjajah dari negeri kita, dan menempatkan orang-orang kita sendiri seolah mengatur dan menjalankan pemerintahan ? Jujur saja, agaknya ada yang ganjil saat membaca kisah-kisah kemerdekaan di berbagai negara.

Dunia sungguh berubah dengan cepat. Yang dulunya dikuasai oleh imperium-imperium besar, lambat laun sejarah berubah, hingga membagi dunia menjadi dua domain utama, yaitu Kekhilafahan Islam yang membentang sejauh 2/3 bagian dunia dan sisanya yaitu kekuasaan non-Islam. Setelah melewati 14 abad, Kekhilafahan runtuh, dunia pun kemudian dikuasai kolonialisme, negeri-negeri yang kuat menjajah negeri-negeri yang lebih lemah, dunia berjalan bak di hutan rimba. Selanjutnya dunia berubah lagi, satu demi satu negeri yang tadinya mengalami penjajahan mulai berondong-bondong memproklamirkan kemerdekaan. Hingga saat ini, masing-masing negara menggenggam kemerdekaannya sendiri-sendiri dan mengklaim sebagai negara yang berdaulat. Begitupun Indonesia, 17 Agustus menjadi simbol kemerdekaan, tetapi pertanyaannya benarkah Indonesia telah merdeka ? Apakah bisa disebut merdeka jika negeri ini menanggung utang yang banyak ? Apakah bisa disebut merdeka jika kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk kepentingan asing ? Apakah bisa disebut merdeka jika hampir 80% kekayaan alam Indonesia dikuasai asing ? Ah, masih terlalu banyak pertanyaan apakah layak disebut merdeka. Tiap 17 Agustus semua bersorak sorai gembira, tapi aku sendiri tidak yakin tentang apa yang harus digembirakan saat semua justru mengindikasikan hal yang sebaliknya. Kita harus membuka mata dan pikiran dalam memaknai penjajahan, bukan hanya soalan penjajahan fisik tapi non-fisik pula. [Ashwa Rin]

Monumen Kebulatan Tekad




Rabu, 16 Agustus 2017

Jatuh Bangun Mengejar Beasiswa Luar Negeri : Gagal 9 kali

Belajar itu tak pernah lekang oleh waktu. Manusia haruslah senantiasa belajar hingga akhir hayatnya. Bahkan ayat Al-Quran yang pertama turun justru berbicara tentang menuntut ilmu. “Iqra” artinya bacalah. Membaca adalah proses menginput ilmu dan pengetahuan. Saking belajar itu penting, Allah berfirman dalam banyak ayat al-Quran tentang keutamaan orang yang berakal dan mengetahui.

Belajar memang bisa dimana saja dan kapan saja, bahkan jika perlu sampai ke ujung dunia. Rasulullah bersabda : “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”. Kala itu Cina lah yang dianggap negeri yang paling jauh dari Makkah.

Melihat dunia luar, belajar di tempat yang jauh, dan bertemu dengan orang-orang baru merupakan bagian yang unik dari sebuah proses pembelajaran. Karena itulah, sejak kecil aku selalu bermimpi untuk menuntut ilmu ke tempat yang jauh.

Pendidikan Dasar dan Menengahku kujalani di kota kelahiranku, Sungguminasa. Namun, sejak kecil aku selalu ingin belajar selain di kota ini. Menjelang SMA, aku mendaftarkan diri di salah satu SMA unggulan se-provinsi (bayangkan saja, se-provinsi loh). Aku berpikir dengan masuk ke sekolah unggulan tersebut, aku bisa mendapatkan teman yang berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Gowa. Namun, sepertinya aku tidak berjodoh dengan sekolah itu. Aku pun akhirnya masuk ke SMA dekat rumahku. Hari-hari di sekolah kujalani dengan semangat walau gagal masuk di sekolah impianku dan berbagai kegiatan ekskul pun kuikuti.

Di tahun pertamaku berada di bangku SMA, aku mengikuti seleksi Program Student Exchange oleh AFS (Baca : Pengalaman Mengikuti Seleksi AFS : Student Exchange Program). Namun, aku gagal di tes terakhir. Walaupun kecewa dengan hasilnya, tapi aku cukup puas dengan prosesnya. Bagaimana pun aku telah mengerahkan kemampuan maksimalku. Bagiku kegagalan bukanlah hal yang tercela. Kau boleh gagal tapi tak boleh menyerah. Kegagalan sesungguhnya yaitu saat kau mulai berkata aku tidak bisa. Saat itulah kau benar-benar gagal.

Setamat SMA, aku mulai menyiapkan diri masuk ke universitas. Saat itu, pandanganku mengarah pada Jepang, mungkin karena saat itu aku lagi senang-senangnya dengan Anime ditambah lagi aku sering main ke konsulat, entah itu untuk membaca buku atau membawa pulang majalah gratis. Hehe maklum sukanya yang gratisan :D. Melalui Konjen Jepang di Makassar, aku pun mendaftar beasiswa Monbukagakusho. Tapi, usahaku ini belum lah membuahkan hasil, alias aku gagal.

Bagiku segala hal diluar kuasa kita mestilah disikapi positif. Kita tidak perlu terlalu bersedih hati apalagi sampai bunuh diri. Pikirku Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Kuliah jenjang S1 kujalani selama 3,5 tahun di kota daeng. Aku lulus bebas tes jalur PMDK di salah satu kampus negeri dan belajar di jurusan yang aku minati, Matematika. Selama kuliah, bisa dibilang aku sebenarnya bukan tipe orang yang study oriented banget. Aku mengimbangi kuliah dengan berorganisasi dan bekerja.

Lulus dari kampus orange, aku masih memiliki minat yang besar untuk melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh. Setidaknya bukan di kota ini lagi. Aku menghabiskan hampir 22 tahun hidupku di kota ini saja. Bukankah Imam Syafi’I pun menyuruh kita menuntut ilmu dan pergi ke tempat yang asing. “Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)”, begitu kata Imam Syafi’i. Tapi biaya menjadi kendala utama menggapai mimpi kecilku itu.

Jika dalam usaha meraih tujuan, kau fokus pada hambatannya, kau mungkin takkan pernah meraih tujuanmu. Fokuslah pada tujuannya bukan hambatannya.

Setelah lulus kuliah, aku bekerja sambil mengambil kursus bahasa Inggris di salah satu lembaga di Makassar. Beasiswa menjadi hal yang harus aku dapatkan jika ingin melanjutkan kuliah. Dan tentunya untuk memperoleh beasiswa, aku harus memantaskan diri. Dua kali mengikuti kelas TOEFL di dua lembaga berbeda di Makassar namun hasilnya belum begitu memuaskan. Aku harus bekerja dan menyisakan waktu untuk belajar, dan bagiku itu cukup sulit mencapai target skor yang kuinginkan.

Aku mulai rajin mengikuti pameran pendidikan untuk mencari informasi. Hingga akhirnya aku mengenal IELTS sebagai syarat pendaftaran kampus dan beasiswa. IELTS tidak begitu familiar bagiku, walau beberapa kali mendapatkan info tentang kelas IELTS atau bahkan pelatihan IELTS, tapi biasanya aku hanya mengabaikannya.

Aku pikir untuk mendapat hasil maksimal aku juga harus belajar maksimal, hingga kuputuskan untuk mengambil kelas IELTS di Kampung Inggris. Selama empat bulan aku belajar, 2 bulan mengambil kelas, dan 2 bulan lainnya belajar otodidak, aku pun memberanikan diri mengikuti real tes IELTS pada bulan April 2016. Dengan berbekal skor IELTS, aku pun mulai bersiap pada pertarungan sesungguhnya mendapatkan beasiswa. Di tahun 2016, aku mendaftar beasiswa AAS dan Turkey Burslari. Aku lolos tahap pertama beasiswa AAS namun harus bersabar ketika aku dinyatakan tidak lolos pada tahap kedua (interview). Sedang untuk Turkey Burslari pun bahkan gagal di putaran pertama.

Sedih? iya sih. Sempat down juga ? Iya benar, berkali-kali malah. Tapi aku bersyukur karena mama selalu menyemangatiku untuk mengejar mimpiku, hingga ketika aku down, dan mendengar nasehat mama untuk menjadi Rin yang pantang menyerah, aku bangkit lagi.

Akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017, banyak sekali pendaftaran beasiswa yang terbuka. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku membuat daftar beasiswa yang menjadi targetku, mungkin sekitar belasan list, beserta deadline nya pada sticky note dekstopku, membaca buku petunjuknya atau informasinya di website, dan melengkapi dokumen persyaratan. Tiap aplikasi beasiswa memiliki prosedur dan ketentuan yang berbeda-beda, jadi mempelajarinya satu per satu sangat penting. Ketekunan menjadi poin penting disini. Jangan malas atau kau tidak akan tau apa-apa. Informasi tentang beasiswa bisa dengan mudah diakses melalui internet. Biasakan membaca seluruh informasi beasiswa dalam guidebook atau website yang tersedia, ketimbang langsung bertanya kesana kemari padahal pertanyaannya sudah terjawab di dalam guidebook/website.

Di tahun 2017, aku mendaftar beberapa beasiswa, yaitu AAS, Fulbright, Turkey Burslari, SISS, NZD, Chevening, dan Stipendium Hungaricum. Sayangnya aku terlewat beberapa deadline beasiswa, seperti BDGS. Sedang untuk KGSP dan Monbukagasho, aku kesulitan menyiapkan aplikasinya. Beberapa beasiswa lain tidak masuk ke dalam daftarku baik karena aku tidak memenuhi syarat atau aku tidak tertarik dengan beasiswa itu.

Mulai pertengahan tahun, satu demi satu pengumuman beasiswa masuk ke emailku. Enam aplikasiku gagal memasuki tahap berikutnya,kecuali satu yaitu Stipendium Hungaricum. Aku pun harap-harap cemas, karena prosedurnya yang masih panjang sedangkan hanya satu aplikasiku yang masuk tahap kedua. (Baca : Pengalaman mendaftar beasiswa hongaria, Stipendium Hungaricum)

Setelah serangkai tes yang melelahkan dan penantian pengumuman yang membuat diri ini sulit tidur (lebay ah). Akhirnya fix, aku memenangkan beasiswa Stipendium Hungaricum dengan masa studi 2 tahun pada jurusan Matematika di kampus yang boleh dikata kampus no 1 di Hongaria, Eotvos Lorand University. Alhamdulillah, setelah perjuangan cukup lama untuk studi di tempat yang jauh, setelah aplikasi beasiswa terus-terusan ditolak hingga 9 kali, akhirnya, Allah memberikan jawabannya, di tempat mana aku harus berada dan belajar. Terima kasih ya Allah, ya Rahman, ya Rahim. Terima kasih Papa Mama atas semua dukungan dan kasih sayangmu. (AR)

Pengalaman Mengikuti Seleksi AFS : Student Exchange Program


Masa remaja umumnya adalah masa yang paling aktif dan bersemangat melakukan ini itu juga dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Di usia yang bisa dikata masih sangat muda, 15 tahun, aku mengikuti berbagai ekskul, mulai dari OSIS, ROHIS, Sains Club, English Club, Karate, dan juga tidak lupa les di lembaga pendidikan informal. Ini semua adalah bagian dari aktualisasi diri yang kulakukan. Selalu ingin aktif dan eksis ya.

Suatu ketika sekolahku kedatangan volunteer dari AFS dan menjelaskan tentang program ini kepada kami para siswa unyu-unyu. Aku tentu saja sangat sangat tertarik. Bukan soal keluar negerinya, tapi prosesnya lah yang asyik. Tapi sebenarnya keluar negeri juga asyik sih. Hhe.

Kuceritakan pada Papa keinginanku untuk mengikuti seleksi dan tentu saja papa ku pasti mendukungku selama itu bukan hal yang buruk. Ini masih jaman dulu banget ya, sekitar 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2007, dimana aplikasi masih harus diambil sendiri di sekretariat AFS di Makassar, diisi dan dilengkapi berkasnya, lalu dikumpulkan kembali. Sudah tentu berbeda sekali dengan era sekarang, dimana semuanya serba online. Sisa masuk website, download deh aplikasinya atau mengisi aplikasi secara online. Bahkan untuk daftar sekolah saja sudah pada online.

Tahap pertama berupa tahap tertulis yang terdiri dari 3 sub tes, yaitu tes pilihan ganda dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris, dan tes menulis essay on the spot. Tesnya berlangsung seharian di STIEM Bongaya di jalan Mappaodang, Makassar. Beberapa minggu kemudian, hari dimana pengumuman kelulusan tahap pertama, aku dan papa segera menuju secretariat AFS untuk melihat pengumuman (see masih jadul ya kan). Dan Alhamdulillah, dari hampir 1000 orang yang mengikuti tes tahap pertama, aku berada dalam list 72 orang yang masuk ke tahap kedua.

Tes kedua yaitu interview/wawancara, yang ini terdiri 2 sub tes, yaitu wawancara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Wawancara dalam bahasa Indonesia bersama ketiga interviewer dari Indonesia berlangsung agak emosional, aku bahkan hampir menangis dibuatnya. Sedangkan wawancara dalam bahasa Inggris bersama dua bule jerman dan prancis dan satu indo berlangsung lebih santai. Banyak hal yang aku bicarakan bersama interviewer, termasuk karena negara tujuanku AS, aku banyak menyoroti masalah bangkrutnya Lehman Brothers (waktu itu lagi hangat-hangatnya) dan juga tentu saja masalah hegemoni ekonomi AS terhadap negera-negara dunia ketiga (well, aku ngomong apa sih waktu itu, berasa jadi pengamat hebat ya, hihi).

Aku pikir aku tidak lolos di tahap kedua, soalnya yang aku lakukan selama wawancara hanya kritik, kritik, dan kritik terhadap AS (padahal negera tujuannya AS, harusnya disanjung-sanjung gitu ya). But, yup aku lolos dan berhasil masuk ke tahap ketiga.

Tes ketiga, yaitu Dinamika Kelompok terdiri dari 3 subtes, aku lupa yang pertama, yang kedua kompetisi membuat sebuah karya bersama tim dadakan yang dibentuk oleh panitia, kalo tidak salah tim nya terdiri dari 5 orang. Kita harus berdiskusi tentang karya apa yang akan dibuat, menyatukan pikiran, dan bergerak bahu membahu menyelesaikan misi ini. Dan taraaa, kami membuat pigura dengan desain dari 5 pikiran. Yang ketiga, sebenarnya desas desus yang kudengar dari panitia, subtes ketiga dibatalkan. Tapi tak taulah kenapa sampai jadi diadakan. Tesnya adalah menujukkan bakat/kemampuan di depan umum, semacam mini pertunjukan gitu deh. Ada yang nyanyi, bermain musik tradisional, menari, pertunjukan silat, membaca puisi, sampai mengaji. Karena aku gak well-prepared banget dites ketiga ini alias gak menyiapkan apa-apa, jadilah aku selama menunggu giliran, grasa grusu membuat puisi dadakan untuk ditampilkan. Hampir semua yang gak punya persiapan, menampilkan pembacaan puisi, jadinya hal itu tidak menarik lagi.

(Baca : Jatuh Bangun Mengejar Beasiswa Luar Negeri : Gagal 9 kali)


Saat itu high expected banget bisa lulus, tapi sepertinya itu masih belum rezeki ku atau itu bukan hal yang terbaik untukku. Aku membaca pengumuman dan aku tahu bahwa aku tidak lulus. Aku memang tidak jadi mengikuti program pertukaran pelajar, tapi serangkaian tesnya yang menarik dan menyenangkan tidaklah sia-sia. Banyak pelajaran yang bisa kupetik, banyak teman yang bisa kukenal. Allah selalu punya rencana yang lebih baik untuk diriku, aku yakin itu. [AR]

Jumat, 24 Maret 2017

Ibnu Al - Haythami



Perjalanan hidup:
Ibnu Haitham atau nama sebenarnya Abu All Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham, atau dalam kalangan cerdik pandai di Barat, beliau dikenal dengan nama Al Khazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, mate­matika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Dia membuat konstribusi yang signifikan pada prinsip-prinsip optic, serta fisika, anatomi, teknik, matematika, kedokteran, optalmologi, filsafat, psikologi, persepsi visual, dan ilmu pengetahuaan pada umumnya.
Dia kadang-kadang disebut al Basri, tempat kelahirannya di kota Basrah, ia juluki Ptolemaeus Secundus (Ptolemy kedua). Alhazen menulis komentar mendalam pada karya-karya Aristoteles, Ptolemy, dan matematikawan Yunani Euclid.
Lahir sekitar tahun 965 M atau 354 H, di Basra, Irak dan bagian dari Buyid Persia pada waktu itu, Beliau memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya. Setelah beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau telah melanjutkan pengajian dan menumpukan perhatian pada penulisan. Lalu ia tinggal di Kairo, Mesir dan meninggal di sana pada usia 76 tahun. Ia lebih yakin tentang aplikasi praktis dari pengetahuan matematika, ia mengasumsikan bahwa ia bisa mengatur banjir sungai Nil.
Kecintaannya kepada ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saluran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar. Hasil daripada usaha itu, beliau telah menjadi seo­rang yang amat mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, pengobatan, dan falsafah.

Karya:

Ibnu Haitham membuktikan pandangannya, beliau begitu bersemangat mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Sehingga kini beliau berjaya menghasilkan banyak buku dan makalah. Antara buku karyanya termasuk:

1. Al'Jami' fi Usul al'Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametik dan metametik penganalisaannya;
2. Kitab al-Tahlil wa al'Tarkib mengenai ilmu geometri;
3. Kitab Tahlil ai'masa^il al 'Adadiyah tentang algebra;
4. Maqalah fi Istikhraj Simat al'Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau;
5. M.aqalah fima Tad'u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak dan
6. Risalah fi Sina'at al-Syi'r mengenai teknik penulisan puisi.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah amat banyak. Karena itulah Ibnu Haitham dikenali sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan hingga hari ini.

Temuan Monumental dalam  bidang Matematika dan aplikasinya:
Ibn al-Haytham adalah matematikawan pertama yang menurunkan rumus persamaan pangkat empat, dan menggunakan metode induksi untuk mengembangkan rumus umum persamaan integral –yang baru dikembangkan di Eropa empat abad setelahnya oleh Newton dan Leibniz.  Pekerjaan Ibn al-Haytham diteruskan oleh Sharaf al-Din al-Tusi (1135-1213) yang menemukan solusi numerik untuk persamaan kubik sehingga menjadi penemu deret kubik yang merupakan hal esensial dalam kalkulus differensial.
Teori Ibnu al-Haitham dalam bidang persegi merupakan teori yang pertama kali dalam geometri eliptik dan geometri hiperbolis. Teori ini dianggap sebagai tanda munculnya geometri non- Euclidean. Karya-karya Ibn al-Haitham itu mempengaruhi karya para ahli geometri Persia seperti Nasir al-Din al Tusi dan Omar Khayyam.  Namun pengaruh Ibn al-Haytham tidak hanya terhenti di wilayah Asia saja. Sejumlah ahli geometri Eropa seperti Gersonides, Witelo, Giovanni Girolamo Saccheri, serta John Wallis pun terpengaruh pemikiran al-Haitham. Salah satu karyanya yang terkemuka dalam ilmu geometri adalah  Kitab al-Tahlil wa al'Tarkib.
Dalam geometri, Ibn al-Haytham mengembangkan geometri analitis dan mendirikan hubungan antara aljabar dan geometri. Ibn al-Haytham juga menemukan rumus untuk menambahkan 100 angka pertama bilangan asli. Ibnal-Haytham menggunakan bukti geometris untuk membuktikan rumus.
Ibn al-Haytham membuat usaha pertama membuktikan postulat parallel Euclidean, dalil kelima di Elemen Euclid, menggunakan bukti dengan kontradiksi, di mana ia memperkenalkan konsep gerak dan transformasi kedalam geometri. Ia merumuskan segiempat Lambert, yang oleh BorisAbramovich Rozenfeld dinamakan " segiempat Ibn al-Haytham-Lambert ", dan ia juga mencoba memberikan bukti untuk menunjukkan kesamaan dengan aksioma Playfair pada teorema segiempatnya, termasuk segiempat Lambert yang merupakan teorema pertama pada elips geometri dan geometri hiperbolik.Teorema ini, bersama dengan postulat alternatifnya, seperti aksioma Playfair,bisa dilihat sebagai tanda awal dari geometri non-Euclidean. Karyanya memilikipengaruh besar terhadap perkembangannya antara ahli geometri Persia selanjutnyan Omar Khayyām dan Nasir al-Din al-Tusi, dan ahli geometri Eropa Witelo, Gersonides, Alfonso, John Wallis, Giovanni Girolamo Saccheri dan Christopher Clavius 
Dalam geometri dasar, Ibn al-Haytham mencoba memecahkan masalah mengkuadratkan lingkaran menggunakan area lunes (bentuk bulan sabit), tetapi kemudian menyerah pada tugas yang mustahil ini. Ibn al-Haytham juga menangani masalah lain di geometri dasar (Euclidean) dan geometri lanjut(Apolonia dan Archimedean), beberapa di antaranya ia adalah yang pertama dipecahkan Kontribusinya untuk teori bilangan mencakup karyanya pada bilangan bulat. Dalam “Analisis dan Sintesis”, Ibn al-Haytham adalah orang pertama yang menyadari bahwa setiap bilangan bulat dalam bentuk 2n-1(2n − 1) dimana 2n-1 adalah bilangan prima, tapi ia tidak berhasil membuktikan hasil ini (Euler kemudian membuktikannya di abad ke-18).Ibn al-Haytham memecahkan masalah yang melibatkan kongruensi menggunakan apa yang sekarang disebut teorema Wilson. Dalam karyanya Opuscula , Ibn al-Haytham mempertimbangkan solusi sistem kongruen, dan memberikan dua metode solusi umum. Metode pertamanya, metode kanonik, melibatkan teorema Wilson, sedangkan metode kedua melibatkan sebuah versi dari teorema sisa.

 ****

Kamis, 23 Maret 2017

ANOMALI SLOGAN CINTAI PRODUK DALAM NEGERI


Di era perdagangan bebas saat ini, keadaan perdagangan Indonesia yang dibanjiri barang-barang impor dari luar semakin mengkhawatirkan. Menurut ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, Soetrisno Bachir, “Dengan era global saat ini, banyak sekali produk-produk impor yang tidak bisa kita bendung lagi. Kita harus mencontoh negara yang nasionalismenya tinggi seperti Jepang dan Cina yang mencintai produk-produk dalam negeri”. Himbauan dan slogan-slogan untuk mencintai produk dalam negeri pun semakin digalakkan.

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang telah resmi pada 31 Desember 2015 lalu bertujuan untuk menjadikan kawasan ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal, kawasan ekonomi yang kompetitif, kawasan pembangunan ekonomi yang adil dan kawasan yang tergabung dalam ekonomi global, sehingga negara-negara ASEAN sepakat meliberalisasi lima aspek ekonomi, termasuk diantaranya adalah liberalisasi perdagangan barang, yang intinya menghapus hambatan tarif maupun nontarif. Akibatnya, tentu saja mudahnya barang-barang impor masuk ke Indonesia. Menurut data dari kementerian perdagangan, rata-rata impor dari tahun 2011-2015 mencapai $175.325.640.000 yang terdiri dari $39.321.040.000 dari sektor minyak dan gas dan $136.004.580.000 dari sektor non migas dan gas. Tingginya rata-rata impor disebabkan karena 96% dari total barang yang diperdagangkan di ASEAN tarif bea masuk impornya telah 0%. Selain itu, impor juga dimudahkan dengan menghapus hambatan nontarif seperti kebijakan perlindungan makhluk hidup, penetapan standar label, kemasan, dan bahan, lisensi impor, dan juga tidak ada lagi penetapan kuota larangan terbatas. Walhasil, Indonesia diserbu arus deras masuknya barang-barang impor.

MEA yang diharapkan menciptakan iklim perdagangan yang adil, sesungguhnya jauh dari kata adil. Perdagangan bebas justru membuat pemerintah lepas tangan dari melayani rakyatnya dengan membiarkan mekanisme pasar berjalan diatas prinsip hutan rimba, dimana dalam perdagangan bebas ini yang kuatlah yang menang. Dengan adanya MEA, persaingan produk Indonesia dan produk impor menjadi tak terelakkan. Prinsip yang berlaku sama seperti di hutan rimba, yang terkuatlah yang akan memenangi pasar. Slogan cintai produk dalam negeri mungkin terdengar manis dan berharap dengan menggelorakan slogan itu, bisa meningkatkan minat orang-orang Indonesia terhadap produk dalam negeri mereka, namun sayangnya, merebaknya barang-barang impor bukan melulu persoalan nasionalisme masyarakat.

Para produsen dalam negeri mungkin terdorong meningkatkan daya saing di era perdagangan bebas ini, namun kebijakan pemerintah memegang peranan penting dalam hal itu. Bagaimana mungkin bisa meningkatkan daya saing, jika harga energi mahal, infrastruktur buruk, modal yang sulit diakses, dan biaya pajak tinggi ? Sedangkan produsen luar justru memiliki daya saing tinggi sebab ditopang oleh kuatnya dukungan pemerintah mereka. Misalnya Cina yang membebaskan pajak pada tahun pertama produksi suatu pabrik bahkan malah mensubsidi setiap jumlah barang yang diproduksi pabrik itu, sehingga harga jual produknya menjadi murah.

Dengan adanya MEA, membuka peluang yang besar bagi produk luar untuk masuk dipasarkan ke Indonesia dan bersaing dengan produk dalam negeri yang daya saingnya rendah, tentu saja, barang-barang dengan daya saing tinggi baik dari segi kualitas maupun harga lah yang berpeluang besar memenangi pasar dalam negeri. Jika sudah begitu, yang dirugikan adalah produsen-produsen dalam negeri. Maka wajar, sejak diberlakukannya MEA, barang-barang impor semakin membanjiri pasar Indonesia yang menyebabkan barang-barang produksi dalam negeri semakin terpinggirkan. Turunnya permintaan terhadap produksi dalam negeri menyebabkan masalah yang lebih krusial lagi, yaitu industri-industri dalam negeri terancam gulung tikar yang menyebabkan pekerja-pekerjanya di PHK.

“Cinta produk dalam negeri wujud nasionalisme” merupakan slogan yang digelorakan dalam rangka menolong produk-produk Indonesia agar mampu tetap eksis di negeri sendiri. Namun slogan itu tak lain hanya sekedar slogan pelipur lara. Anomali tentu saja, jika mengajak mencintai produk dalam negeri namun disaat yang sama membuka peluang yang besar bagi impor barang dari luar negeri. Slogan ini bertentangan dengan kebijakan MEA yang mendukung impor tanpa batas.

MEA hakikatnya wujud meminimalkan bahkan menghilangkan peran dan tanggung jawab pemerintah dalam sektor ekonomi dan pengurusan rakyatnya, lalu membiarkan semuanya berjalan sesuai kehendak mekanisme pasar. Ini jelas bertentangan dengan Islam yang menetapkan bahwa pemerintah itu wajib bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya. Rasulullah bersabda “Pemerintah adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan mereka” (HR Muslim). Dalam Islam, negara tidak boleh lepas tangan dalam mengatur hubungan dan interaksi dengan negara lain, termasuk hubungan rakyatnya dengan rakyat negara lain. Sehingga perdagangan luar negeri tidak boleh dibiarkan bebas tanpa adanya kontrol negara. Liberalisasi perdagangan justru menjadi alat penjajahan yang membawa potensi ancaman dan bahaya yang besar.

Banjirnya produk-produk impor di dalam negeri tidak akan bisa diatasi hanya dengan slogan-slogan maupun jargon-jargon bernafaskan nasionalisme, karena pemicu masalahnya adalah MEA dan liberalisasi. Jika pemerintah serius ingin menyejahterakan rakyatnya, tentu tidak ada jalan lain kecuali melepaskan diri dari cengkraman liberalisme dan menerapkan Islam secara menyeluruh. Wallahu’alam bi ash-shawab. [Ashwa Rin]


RITUAL CHAUPADI (Tradisi Hindu Mengasingkan Wanita yang Mengalami Menstruasi di Nepal)

Isu-isu perempuan memang selalu menjadi topik pembicaraan yang tetap hot, tak lekang oleh waktu. Kali ini Rin akan berbagi cerita bagaimana kondisi para perempuan di Nepal akibat anggapan yang keliru tentang wanita.

Diskriminasi Wanita yang Menstruasi.

Di Nepal, ada keyakinan tentang kenajisan darah menstruasi yang membuat para wanita dan gadis diasingkan di gubuk pengasingan. Di masa-masa menstruasi mereka diasingkan, dilarang memasuki dapur, apalagi mengikuti perayaan-perayaan keagamaan.
Gubuk Pengasingan di Nepal (Fotografi oleh Poulomi Basu)

       Wanita mengalami situasi ekstrim di daerah-daerah pedesaan dengan menanggung pengasingan ini satu minggu setiap bulannya selama 35 sampai 45 tahun siklus menstruasi mereka. Mereka dipandang tidak bersih, tidak boleh disentuh, dan membawa bencana bagi orang-orang, ternak, dan tanah, ketika mereka haid. Mereka pun diasingkan keluar dari rumah-rumah mereka. Beberapa tinggal di gudang terdekat, sementara  yang lain harus berjalan kaki 10-15 menit dari rumah menuju gubuk kecil di dalam hutan lebat. Dalam pengasingan, mereka seringkali harus harus menghadapi kematian akibat suhu yang sangat panas, sesak dari api yang sebenarnya dinyalakan untuk menjaga mereka tetap hangat selama musim dingin, racun ular kobra, dan pemerkosaan.

Penyembuhan tradisional perempuan yang sakit selama masa menstruasi
(Fotografi oleh Poulomi Basu)

Umum kita ketahui, bahwa di masa-masa haid, wanita seringkali mengalami nyeri haid atau bahkan sampai demam. Di Nepal, penyembuhan tradisional sering menggunakan kekerasan verbal dan fisik yang ekstrim untuk menyembuhkan  para gadis muda yang sakit selama menstruasi ini, karena meyakini bahwa mereka dirasuki oleh roh jahat. Para dukun pun bertugas melakukan ritual penyembuhan.

Pengucilan para Janda

Selain dari pengasingan wanita yang mengalami menstruasi, tradisi kebudayaan Hindu di Nepal juga mengucilkan para wanita yang kehilangan suami mereka (red: mati). Tradisi memerintahkan para janda hanya memakai sari berwarna putih (simbol duka dan kematian) selama sisa hidup mereka. Mereka  pun dilarang menghadiri perayaan atau menikah lagi. Kematian suami berarti wanita harus menderita karena dosa-dosa  yang dilakukannya di kehidupan sebelumnya. Janda dianggap simbol kesialan dan pembawa petaka sehingga dianggap harus dikucilkan dari masyarakat.

Why?

Tidak sedikit masalah diskriminasi dan pengucilan perempuan akibat agama, keyakinan, tradisi, dan budaya tertentu. Hal itu tidak lepas dari pandangan mereka terhadap perempuan.  Beberapa ahli memandang ini adalah akibat penerapan sistem patriarki di masyarakat, tapi apakah akan ada bedanya jika yang diterapkan itu sistem matriarki ?  Sejarah membuktikan para nazi wanita juga sangat kejam dan sadis, sedikit contoh ketika wanita memegang kekuasaan. Bahkan Catherine the Great dari Rusia juga bukan wanita yang baik, dari sisi pemegang kekuasaan.

Kemudian muncul gagasan kesetaraan gender (gender equality) yang diperjuangkan oleh para pegiat feminis yang menuntut penyetaraan perempuan dengan laki-laki. Semuanya dilatarbelakangi diskriminasi yang dialami para wanita. Gagasan ini memprovokasi para wanita agar mensejajarkan diri dengan laki-laki, sehingga perannya sebagai ibu dianggap sebagai beban dan penghambat kemandirian. Hasilnya perlahan para wanita bergerak semakin jauh meninggalkan kodratnya sebagai istri dan ibu. Kesetaraan gender dianggap solusi membebaskan perempuan dari berbagai penindasan. Namun, sebenarnya tanpa sadar justru memunculkan masalah lainnya. Di negara barat sebagai pengekspor ide gender, Inggris dan AS, angka perceraian sangat tinggi, angka kelahiran pun semakin turun tiap tahunnya akibat para wanita enggan memiliki anak bahkan banyak yang tidak ingin menikah karena tidak ingin menghambat kesibukannya sebagai wanita karir.

Jika sistem masyarakat matriarki ataupun kesetaraan gender bukan solusi masalah penindasan perempuan, lantas apa solusinya?

Masalah penindasan perempuan berangkat dari anggapan yang salah tentang perempuan. Sebelum Islam datang, masyarakat arab menganggap kelahiran bayi perempuan sebagai aib. Praktek penguburan bayi perempuan hidup-hidup pun menjadi marak dan biasa di  tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Ketika Islam datang, ayat-ayat Al-Quran mengungkap segala kebobrokan perilaku jahiliyah orang-orang Arab, serta membawa pemahaman yang benar tentang wanita dan perannya yang mulia sebagai pendidik generasi. Di masa islam lah, perempuan ditempatkan pada posisi yang mulia, bukan sebagai saingan lelaki, tetapi sebagai partner dalam menjalankan kehidupan.


Adanya penindasan, diskriminasi, pengucilan yang dilakukan suatu kepercayaan atau tradisi menunjukkan bahwa keyakinan mereka justru jauh menyimpang dari fitrah manusia dan tentunya bertentangan dengan akal dan ilmu. Maka patutlah Allah selalu memerintahkan kita dalam banyak ayat di Al-Quran untuk senantiasa berpikir, tanpa berpikir manusia hanya akan jatuh dalam kufarat dan anggapan-anggapan salah. Semua ini karena hanya mengandalkan persaan semata, dan tradisi melanjutkan apa yang telah dilakukan secara turun temurun, entah nenek moyangnya salah atau benar. Jika mau mencerabut masalah-masalah pengucilan, diskriminasi, dan penindasan wanita, caranya tidak lain dan tidak bukan, kembali kepada aturan yang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT. Wallahua’lam bi ash-shawab. [Ashwa Rin]

Jumat, 17 Maret 2017

Adab Meminta Izin

Rumah, pada hakikatnya adalah hijab seseorang. Bagi para perempuan khususnya, hayatul khas kami merupakan tempat yang di dalamnya kami biasa membuka aurat. Di sana juga terdapat perkara-perkara yang kami tidak ingin orang lain melihatnya. Bagaimana jadinya, jika akhirnya pandangan mata terjatuh pada perkara-perkara yang haram?
Syariat islam itu sempurna. Tidak satupun perkara yang dapat membawa mudharat bagi kehidupan manusia kecuali Islam melarangnya. Termasuk masalah adab meminta izin  isti’dzan. Islam telah memberikan tuntunan adab yang agung dalam masalah ini.

1.       MEMINTA IZIN

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat.” [TQS.An-Nur:27]

Dari Kaladah bin Al Hambal, bahwasanya Shafwan bin Umayyah mengutusnya pada hari penaklukan kota Makkah. Ketika itu Rasulullah berada di atas lembah. Aku menemui beliau tanpa mengucapkan salam dan tanpa minta izin. Maka beliau bersabda: “keluarlah, ucapkanlah salam dan katakan : ‘bolehkah aku masuk?’ [HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An-Nasa’i]

Rasulullah saw bersabda : ‘sesungguhnya meminta izin disyariatkan untuk menjaga pandangan mata’ [HR Bukhari dan Muslim]

Hal ini juga berlaku ketika seseorang hendak masuk menemui salah satu anggota keluarganya.

ANAK LAKI-LAKI BALIGH HENDAKNYA MEMINTA IZIN KETIKA HENDAK MENEMUI IBUNYA

Di dalam kitab Adabul Mufrad, Imam al-Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Muslim bin Nadzir, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah Ibnul Yaman: “Apakah saya harus meminta izin ketika hendak menemui ibuku ?” Maka ia menjawab : “Jika engkau tidak meminta izin, niscaya engkau akan melihat sesuatu yang tidak engkau sukai.” [Hadits mauquf shahih]

Demikian juga riwayat dari Alqamah, ia berkata: seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Mas’ud ra dan berkata: “Apakah aku harus meminta izin jika hendak masuk menemui ibuku?” Maka ia menjawab: “Tidaklah dalam semua keadaannya ia suka engkau melihatnya”. [Hadits mauquf shahih]

SEORANG LAKI-LAKI HENDAKNYA MEMINTA IZIN KETIKA HENDAK MENEMUI SAUDARA PEREMPUANNYA

Pun  sama halnya ketika menenui saudara perempuan. Imam al Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Atha’. Dia berkata, aku bertanya pada Ibnu Abbas: “Apakah aku harus meminta izin jika hendak masuk menemui saudara perempuanku?” Dia menjawab, “ya”. Aku mengulangi pertanyaanku: “Dua orang saudara perempuanku berada di bawah tanggunganku. Aku yang mengurus dan membiayai mereka. Haruskah aku meminta izin jika hendak menemui mereka?” Maka dia menjawab, “Ya. Apakah engkau suka melihat mereka berdua dalam keadaan telanjang?” [Hadits mauquf shahih]

Jika masuk ke tempat ibu dan saudara perempuan saja harus memerhatikan adabnya, apalagi ke tempat tinggal para wanita lainnya.

2.       BILA TIDAK MENDAPAT IZIN HENDAKLAH KEMBALI

Allah berfirman yang artinya : “Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu “kembali (saja)lah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [TQS An-Nur:28]


Rasulullah saw bersabda : “jika salah seorang dari kamu sudah meminta izin sebanyak tiga kali, namun tidak diberi izin, maka kembalilah.’ [HR Bukhari dan Muslim]