Senin, 22 Januari 2018

Part 7 I want to take photo

“What exists in my heart, I cannot tell you, coz it’s something difficult to describe by words. Sometimes you see how bright and cheerful they are, but you never can imagine surely what they already have experienced in their life.” 

Anak-anak itu tengah bersorak sorai melihat kedatangan tank-tank musuh. Bukan karena bahagia tentu saja, tapi aku juga tak yakin itu karena ketakutan. Suara tembakan dan rudal-rudal yang meledak menghancurkan apa saja yang dihantamnya. Seorang gadis dengan antusiasnya berusaha mengambil gambar terbaik saat tank-tank itu menjalankan misinya dengan berbekal kamera kecil di genggamannya yang hanya bisa digunakan untuk sekali take.  

Tatkala tank-tank Israel mendekat anak-anak itu berlarian berusaha bersembunyi dan mengamankan diri, kecuali satu gadis berusia 12 tahun itu yang tetap berdiri kokoh menunggu momen terbaik untuk menggunakan satu-satunya kesempatan memotret dari kamera sederhana itu. Adik perempuannya meneriakinya, “apa yang kau lakukan? Cepat lari, mereka menuju ke arah kita”. “tidak, aku harus memotretnya”, jawab sang kakak. “kau gila, cepat, tidak ada waktu lagi, ayo pergi dari sini”, paksa sang adik.

Sekian tahun kemudian, sang adik menceritakannya kepadaku dengan tawa yang sulit ditahannya. Aku bahkan bingung apa ini cerita bergenre tragedi atau komedi, dia tertawa seperti hal ini adalah hal yang terlucu dihidupnya. Sulit dibayangkan bagaimana anak-anak disana hidup dan tumbuh tanpa mengalami trauma saat dewasa. Tapi sungguh, itulah yang terjadi, mereka tumbuh menjadi sosok yang kuat, tidak seperti sebuah negeri yang generasinya walau bergelimang kenikmatan dunia malah mudah mengalami depresi hingga bunuh diri. Memperlakukan kehidupan seperti sesuatu yang tiada artinya sama sekali.

“Memangnya kenapa kakakmu ingin sekali memotret momen penyerangan itu?” tanyaku penasaran. “Supaya dia memenangkan kompetisinya dan mendapat hadiah,” jawabnya. “kompetisi?”, dia melanjutkan “ya, gurunya membagi-bagikan kamera untuk semua muridnya dan mengadakan sebuah kompetisi dimana mereka harus memotret dengan kamera itu yang hanya bisa digunakan untuk sekali take, pemotret gambar terbaik akan mendapatkan hadiah. Itulah yang menarik, sebab dia berambisi sekali memenangkan hadiahnya.” Aku hanya tersenyum heran mendengarnya. Kira-kira hadiah seperti apa yang menyebabkan seseorang berambisi sekali mendapatkannya.

Salah satu momen di Intifada 2 pada tahun 2000.


[ashwarin]

Part 6 Crocodile Tears

"kau tau berita tentang Palestina hari ini?" tanya teman sekamarku yang merupakan gadis Palestina yang juga sedang menempuh pendidikan masternya di kampus yang sama. Aku langsung bergegas mencari berita di internet dan terkejut mendengar pidato Trump dan juga bagaimana pernyataan penguasa-penguasa muslim yang tidak terima Yerussalem sebagai ibu kota Israel. Aku membacakan beberapa kalimat dari berita media daring dan ia tersenyum kecut. "Para penguasa Arab dan negeri-negeri muslim lainnya mungkin menyatakan ketidaksetujuannya atau bahkan kemarahan atas keputusan tersebut di depan media, tapi dibelakang mereka akan mengucapkan selamat pada Israel dan US. Yang mereka ucapkan di media hanyalah kebohongan untuk menenangkan kaum muslim lainnya di seluruh dunia. Mereka tidak pernah berpihak dan tidak peduli pada Palestina kecuali hanya sedikit. Aku mendapat kabar bahwa besok akan ada Intifada, semuanya akan keluar untuk melakukan perlawanan, walau kami tak memiliki senjata apapun, setidaknya hanya itulah yang bisa kami lakukan", paparnya.

Part 5 Hiking Buda Hills

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali”. Ahad kemarin, sebenarnya ahad kemarin rencananya bakal ke premier, tapi karena beasiswanya belum cair juga, dan aku khawatir akan telat cairnya, jadi duit yang ada mending disimpan untuk kemungkinan terburuknya. Aku memutuskan ikut hiking in the last minute. Setelah sabtu kemarin lelah menggunakan otak, kali ini mesti lelah otot, hhh. Aku berangkat sendiri ke meeting point, soalnya teman-teman sekamarku sedang sibuk belajar, bahkan di weekend seperti ini. Okey, I’ll go even I’m alone. Hikingnya dimulai pukul 11 mendaki bukit Buda. Sang guide membawa kami ke daerah yang merupakan perumahan orang-orang penting hongaria, seperti politisi, pejabat, pada duta besar, bahkan dia menunjukkan kediaman prime ministernya. Pertama kali ke Budapest, aku pikir kenapa tidak ada rumah ya. Semuanya bangunan-bangunan tua beberapa lantai, dan yang mereka tinggali disebut apartemen atau flat disini. Tapi perjalanan menuju pendakian, menunjukkan sisi lain dari kota ini, aku baru tahu kalau kebanyakan orang-orang penting disini justru tinggal di pinggiran kota, dengan kediaman yang disebut rumah tentu saja. Daerah itu sangat sepi dan tenang, seperti daerah tak berpenghuni. Rumah-rumahnya besar tapi tetap menampakkan kesederhanaan.

Pendakian menuju ke Normafa Hills, aku pernah kesini sebelumnya dengan menggunakan bus, tidak mendaki seperti ini. Guide kami mengatakan kita sebenarnya bisa menggunakan bus jika ingin ke Normafa Hills, tapi guidenya membuat kami harus berjalan jauh. Tapi tak apa, selama perjalanan setidaknya aku bisa mendapat banyak cerita-cerita menarik dari orang-orang hungaria yang memandu kami.

Tiba di Normafa Retes, para peserta hiking ada yang menikmati teh dan kopi panasnya juga lunch mereka. Salah satu cewek khazakstan mendekatiku dan mengajak sholat dhuhur bareng. ‘kau yang tentukan tempatnya’, kataku. Aku tidak menyangka kalau dia akan memilih sholat di depan warung yang sedang ramai-ramainya dipadati para peserta hiking. Aku diam saja tapi dalam hati protes ‘apa dia tidak bisa memilih tempat yang lebih sepi dimana setidaknya tidak ada orang-orang yang memandangi?’, ah tapi aku pikir idenya tidak buruk juga, ini juga bisa jadi bagian dari dakwah. Aku jadi teringat kisah seorang teman yang bahkan sholat jamaah dipinggir jalan di negeri seperti ini. Saat di Indonesia, saat ingin sholat, yang dicari adalah mesjid atau mushola terdekat. Tapi ketika berada di negeri dimana muslim adalah minoritas, pertanyaannya menjadi dimana tempat yang memungkinankan untuk sholat.

Datang dengan membawa diri sendiri, tapi yang menarik, ketika bisa mengenal banyak orang dan berteman dengan yang lainnya. Tiba puncak Buda sekitar pukul 3 siang, cuaca yang sangat-sangat dingin menyulitkan anak-anak yang hidupnya digaris katulistiwa. Salah satu teman dari ekuador mengajakku jogging agar tubuh kami hangat. Okey, kamipun berlari seperti orang aneh, yang mendaki sambil berlari. Itu lebih baik daripada merasa seperti akan beku karena suhu yang rendah.
Pemandangan Budapest begitu memukau dari atas bukit Buda. Lelahnya perjalanan dan pendakian seperti menguap begitu saja. Aku memanjat bebatuan yang tinggi untuk melihat pemandangan lebih jelas. Itu sangat indah. Saking indahnya aku sampai tidak memperhatikan jika orang-orang sudah mulai melanjutkan perjalanan meninggalkanku yang termenung diatas bebatuan raksasa.

Tiba di paling puncaknya Buda Hills, terdapat bangunan tua yang digunakan untuk sightseeing. Lantai paling bawah ada café yang menyediakan berbagai macam minuman hangat. Akhirnya setelah pendakian yang panjang, beristirahat mengumpulkan tenaga untuk pulang. Aku menggunakan chairlift yang membawaku turun dari puncak Buda. Finally, Mission Completed.













Part 4 Mulukhiyah & Malban (Palestinian Grape Fruit Roll Ups)

Ketika harus hidup jauh dari kampung halaman, ketika harus hidup bersama dengan orang yang sebelumnya asing sama sekali, aku tahu itu bukan hal yang mudah, ada-ada saja konflik yang mungkin mewarnai. Tapi konflik terbaik itu ketika justru semakin mendekatkan, bukan menjauhkan.

Aku pulang dari sebuah café yang biasanya kutempati belajar bersama dengan teman sekelasku, setelah belajar seharian dari pagi hingga menjelang magrib. Ini weekend dan disinilah aku berkutat dengan sejumlah teorema dan aksioma. Tentu saja rasanya lelah sekali. Dalam perjalanan pulang, dipikiranku aku sudah merencanakan akan memasak ini itu untuk makan malam nanti. Tapi ketika tiba, ternyata roommate ku telah memasakkan sesuatu untuk aku makan. Aku tahu bahwa dia bukan orang yang terbiasa dengan dapur dan masak dulu. Tapi hidup di negeri yang makanan jadi yang halal susah plus pun jika ada tentu mahal jika harus makan diluar tiap hari, membuat kami harus memasak ditengah-tengah kesibukan kuliah jika ingin hidup. Ini Mulukiyah pertama yang ia buat, ia harus menelpon ibunya untuk memberikan instruksi bagaimana memasaknya.

Mulukhiyah adalah sejenis sup yang dibuat dari daun Nalta rami yang banyak tumbuh di daerah timur tengah. Mulukhiyah yang dibuatnya adalah masakan khas orang-orang Palestina yang disajikan dengan nasi. Rasanya sangat sangat super duper enak, hingga membuatku hampir menangis. Temanku yang lainnya berkata ‘ya ampun Aswa, kau menangis saking bahagianya memakan Mulukhiyah?’ Aku menangguk. Sulit dipercaya jika ini pertama kalinya dia membuat sup seperti ini. Karena melihatku begitu lahap memakannya, dia berjanji akan membuatkannya lagi untukku. Ah tidak, aku lebih memilih diajarkan bagaimana membuatnya.

Sebelumnya aku juga memakan malban. Palestinian Malban yang dibuat secara tradisional dari sari anggur dicampur pati  dan diberi air mawar, merupakan permen arab tradisional yang udah ada selama berabad-abad yang lalu. Rasa manisnya seakan membawa kita ke masa seribu satu malam. Haha.. lebay deh..

Dia berasal dari West Bank, Palestina. Aku mengenalnya pertama kali sejak di Indonesia lewat facebook, dan setelah itu akulah yang memintanya tinggal bersama ketika tahu dia juga akan melanjutkan kuliah di kampus yang sama. Dan akhirnya disinilah kami, di Budapest.

Hidup dengan orang-orang yang berbeda culture dan habits bukan hal mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Kesulitan apapun itu tidaklah penting selama kita tahu bahwa kita saudara. Paspor kami memang berbeda, tapi hati kami InsyaAllah sama. Kami merindukan persatuan dan ukhuwah di seluruh dunia.

Aku ingat pertama kali berkenalan dalam bahasa Arab, mereka terkesima dan bilang pelafalanku cukup bagus. Aku bilang aku cuma tahu introduction saja, selebihnya aku NOL besar. Tak apa katanya, mereka akan mengajariku. Di malam-malam kami, mereka dengan senang hati menjadi guruku dan mengajarkanku bahasa arab. ‘Aswa kamu harus mempunyai buku catatan sendiri untuk pelajaran bahasa Arab’. ‘Okey aku mengerti’ kataku. Di malam-malam lainnya, kami saling bertukar cerita mulai dari hal-hal pribadi sampai hal yang mendunia. Aku ingin sekali menuliskan kisah-kisah mereka, tidak sekarang, tapi di cerita-cerita berikutnya. Cerita bagaimana temanku yang merupakan keturunan Amazea di Maroko yang dimarahi ayahnya saat ketahuan bermain dengan seorang keturunan Arab (ini tentang hubungan orang Arab dan Amazea di Maroko), cerita tentang Palestina dan sejarah panjangnya, invasi Israel serta masih banyak lagi.

Ah, aku lupa bilang, kalo dua roommate, satunya merupakan Amazea dari Maroko, dan lainnya dari Palestina. Apa lagi yah yang terlupakan ? hmmm… okey, complete sudah.

Selamat menunggu cerita selanjutnya !

Malban

Mulukhiyah dan Nasi

Jumat, 27 Oktober 2017

Part 3 Menjalankan


Udara yang semakin dingin, hujan, dan berangin pula, kadang bikin malas kemana-mana, selain ngampus. Weekend yang paling kunantikan, soalnya bisa nulis kayak gini, yey off dulu lah dari setumpuk pr yang menanti. Sayangnya selain ngampus dan ngurusin administrasi ini itu, aku belum mengeksplore kota ini, so belum banyak yang bisa aku ceritakan tentang sejarah kota.

Aku masuk ke ruangan 206, duduk manis di meja paling depan, seorang dosen masuk dan mengatakan ‘I think it’s the first time I see you’ sambil menatap ke arahku, karena heran kok dosennya berubah ‘ya me too. What class is this?’, ‘it is Complex Analysis Class’, katanya. Omo, aku salah kelas ternyata. Langsung ngecek jadwal di hp, and taraa, aku salah, jam kuliahnya pukul 8, dan sekarang pukul 10. Yah, aku melewatkan kelasnya T_T karena kurang memperhatikan jadwalnya.

Sebelum pulang, aku mampir dulu di toko swalayan terdekat untuk mengisi persediaan di kulkas, itung-itung buat menghibur diri juga karena gagal hadir di perkuliahan. Pas keluar swalayan, seseorang dengan kamera besar di bahunya mengarahkan kameranya tanpa henti ke arahku yang sedang menenteng belanjaan. Aku kaget jadinya, karena aku bukan artis bukan pula narapidana jadi ngapain disorot-sorot kamera. Seorang pemuda lainnya menghampiriku dan berbicara bahasa Magyar. Hehe I dunno anything what he’s saying. Setelah kukatakan aku tak bisa bahasanya, akhirnya ia berbahasa inggris kepadaku. Ia meminta izin untuk wawancara. Oh, I know sekarang, mereka ini reporter. Dengan polosnya, aku menyetujui wawancaranya dengan segudang pemikiran positif.

Pertanyaannya tidak jauh-jauh seputar Hungary dan Budapest, seperti ‘bagaimana menurut Anda tentang Hungary?’, ‘menurut Anda, kota Budapest itu kota yang seperti apa?’ Lalu pertanyaannya mengarah pada agama. Tadinya kupikir ini untuk siaran travelling atau pariwisata, tapi pada akhirnya aku tidak tahu ini acara apa sebenarnya. Untuk menjaga sopan santun, aku jawab semua pertanyaan apa adanya. Saat reporter itu bertanya apa aku muslim, aku bilang dengan bangganya, iya aku muslim. ‘Bagaimana Anda menjalankan agama Anda disini? Apa Anda mengalami kesulitan?.’ Aku bilang ‘tidak kok. Aku tetap bisa menjalankan sholat dan berhijab (ibadah mahdoh). Walau kadang aku sering mendapat perhatian lebih dari orang-orang, mungkin karena aku terlihat berbeda dengan hijab ini‘ (pede kali ya, padahal bisa jadi orang-orang heran, ini cewek pesek amat yah :D ). Wawancaranya berlangsung singkat, sesingkat menggosok gigi kita. Hehe. Di tengah antrian registrasi internet, aku menceritakan pengalamanku pada seorang teman. Teman lainnya nyeletuk, ‘jika itu aku, aku memilih untuk tidak wawancara. Kau tidak pernah tahu, videomu akan dikemas seperti apa. Apakah hal yang baik atau justu malah merugikanmu’. Wah, mendengar itu aku jadi gugup. Aku tahu seringkali media menyajikan dan mengemas berita seenak mereka, sesuai kepentingannya. Tapi aku hanya berharap kali ini tidak, biarlah seperti acara TV Jepang yang pernah kutonton yang membahas Muslim dan Islam secara objektif. Pliz. Aku cuma berharap bisa campaign Islam.

Soal menjalankan agama, di negeri asalku yang mayoritas islam saja, Islam tidak dijalankan secara sempurna. Ketika aku mengatakan ‘bisa menjalankan agamaku’, ini hanya pada syariat yang termasuk hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Perkara ibadah mahdah mungkin bisa dijalankan masing-masing individu. Tapi menjalankan syariat yang termasuk hubungan manusia dengan manusia lainnya, butuh peran negara. Sebagaimana halnya yang dikatakan Imam Al-Ghazali “Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak ada, maka yang lain tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah pondasi sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya pondasi akan rusak dan jika tidak dijaga, ia akan hilang”. Bagaimana mungkin menjalankan syariat Islam tentang qishas, uqubat, sanksi tanpa adanya peran negara yang menerapkannya? Bagaimana mungkin menjalankan syariat Islam tentang sistem perekonomian yang menjauhkan penjajahan ekonomi oleh negara-negara besar atas negeri tercinta kita ini, menyejahterakan rakyat dengan aturan pengelolaan sumber daya alam yang benar, jika semua tanpa adanya negara yang menjalankannya? Semua itu tidak bisa dijalankan dengan kapasitas individu tapi negara.

Hari ini orang ribut masalah isu PKI bangkit lagi. Mungkin kita lupa atau tak tahu kalau Kapitalisme sama kejamnya dengan Komunisme. Hanya beda wajah, tapi keduanya sama-sama menghancurkan manusia. Komunisme tampil dengan wajah kejamnya, yang membuat trauma mendalam bagi yang pernah merasakannya. Sedang Kapitalisme tampil dengan wajah ramahnya, mengiming-imingi manusia dengan kesejahteraan yang fana, bagai melihat oase di padang pasir yang gersang. Bukan hanya memperjuangkan No Communism, tapi juga No Capitalism. Karena keduanya tidak layak dijadikan pegangan ideologi, Anda taukan harus memperjuangkan apa ?! [AshwaRin]






Part 2 Autumn Moments


Budapest, kota antik, cantik, dan memesona siapa saja yang berkunjung ke kota ini. Bangunan-bangunan tua dari beabad-abad silam yang masih kokoh berdiri hingga sekarang memanjakan mata selama perjalanan ke kampus dari Kerekes hingga ke Bethlen Gabor. Cuaca autumn yang kadang cerah, berawan, ataupun hujan turut menemani hari-hariku di Budapest.

Bagi manusia dari daratan tropis sepertiku, terlebih lagi hidup dan tumbuh di dataran rendah, suhu <=24 derajat sudah termasuk dingin bagiku (btw aku bukan penggemar pendingin ruangan). Saking seringnya aku berkata ‘dingin banget ya’, roommateku mengatakan padaku ‘jika suhu seperti ini kamu sebut dingin, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kamu akan hidup saat winter nanti’. Ah ya.

Meski saat ini musim gugur, berharap semangat itu tak pernah luntur. Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ala dinika. Bagi muslimah hidup di negeri minoritas punya tantangan tersendiri, terutama hijab mereka.

Berhijab bukan hal yang biasa di Budapest, jadi sebenarnya wajar saja jika orang-orang disekitar terpana ketika melihat seseorang berhijab, terlebih saat summer. Salah seorang muslimah menceritakan kisahnya bahwa ia merasa risih karena semua orang menatap ke arahnya kemanapun dia pergi. Pada hari berikutnya, ia menanggalkan hijabnya, tapi yang terjadi malah bukan hanya tatapan yang didapatnya tapi juga godaan dan rayuan. Akhirnya, ia mengenakannya kembali.

Seorang muslimah yang lain bercerita bagaimana sekelompok pemuda mengejeknya, dengan berkata ‘boom..boom’ (dengan gerakan tangan mengilustrasikan ledakan), yah bisa ditebak kan maksudnya apa. (Btw, kenapa kaum muslim yang selalu jadi korban pembunuhan massal, tapi kaum muslim juga yang selalu tertuduh teroris ? aneh kan)
Setiap muslimah punya kisahnya masing-masing tentang hijab mereka.  Kalau aku sejauh ini everything is amazing. Selalu positive thinking saja ketika orang-orang menatap, bisa jadi mereka lagi terpukau. Suatu hari, seorang cewek amerika menatapku terus-terusan, ketika kami berpapasan dia mengatakan sambil tersenyum ‘you know, your style is really great. I like your dress’. Kemudian di lain waktu, aku sedang mengantri untuk urusan administrasi akomodasi, selama mengantri, aku berbincang-bincang dengan cewek rusia, dia bertanya apa yang aku pake di atas kepalaku itu dan atas alasan apa aku memakainya, apa karena alasan agama dll. Setelah itu, dia mengatakan ‘Your scarf is really good. The shade is good and it looks fashionable’.

Di atas tram, seorang ibu-ibu mengajakku berbincang-bincang. Aku sebenarnya tidak paham ibu itu bicara apa karena ia berbicara dalam bahasa Magyar/Hungary. Sudah kukatakan ‘I don’t speak Magyar’, tapi ia tetap asyik melanjutkan ceritanya sambil menunjuk kerudungku dan kemudian memegang kepalanya. Dia berbicara dengan mimik wajah yang ceria, jadi kupikir dia pasti membicarakan hal yang baik. Aku hanya bisa manggut-manggut sambil ikut tertawa-tawa kecil.


Selama yang kita lakukan itu adalah karena Allah, menjauhi larangannya dan melaksanakan perintah-Nya, kenapa harus takut dengan apa kata manusia, kenapa harus khawatir dengan pandangan orang-orang, bukankah yang menilai menilai perbuatan seorang hamba itu adalah Khaliqnya ? Semoga kita semua tetap dijaga keistiqomahannya dalam din ini. Jika ada suatu waktu autumn melanda hati kita, jawab kembali pertanyaan-pertanyaan ini, darimana kita berasal ?, untuk apa kita hidup ?, dan akan kemana kita setelah mati ? [Ashwarin] 

Ashwa @Keleti

Part 1 Hungary


Genap seminggu sudah aku berada di kota cantik ini, tepatnya di jantung Eropa, Budapest, Hungary. Budapest sebenarnya kota yang namanya kurang popular di kalangan masyarakat Indonesia. Tiap menyebut bahwa aku akan melanjutkan studi di kota ini, ramai orang bertanya dimanakah Budapest itu, atau dimanakah Hongaria itu, benua apa, dan lain-lain. Tak jarang ada yang berpikir lokasinya berada di benua Afrika. lol

Hungary adalah salah satu anggota uni eropa yang berada tepat di jantung Eropa dan berbatasan dengan 7 negara sekaligus, Slovakia, Romania, Serbia, Kroasia, Slovenia, Austria, dan Ukraina. Sedangkan, Budapest adalah ibu kotanya. Disinilah Insya Allah aku akan menimba ilmu selama dua tahun ke depan, di kota yang kaya akan sejarah.

Dahulu kala, kerajaan Hungary mulai terbentuk pada abad ke-9 setelah pendudukan bangsa Celtic, Hun, Slavia, Gepid, Avar, dan Roman, lalu menjadi kerajaan Kristen yang bertahan selama 946 tahun dan menjadi pusat kebudayaan dunia barat. Wilayah hungary menjadi bagian dari wilayah kekhilafahan (Ottoman) melalui futuhat yang dikenal dengan Perang Mohacs. Setelah itu wilayah hungary direbut kekaisaran Habsburg, dan kemudian membentuk kekaisaran Austo-Hungaria.


Tinggal di kota Budapest, kota yang klasik dengan gaya bangunannya yang cantik peninggalan masa lalu baik peninggalan kerajaan Hungary maupun peninggalan kekhilafahan Islam, menjadi pengalaman unik tersendiri. Walau pernah menjadi bagian dari kekhilafahan, Islam justru terasa asing disini. Saat ini, muslim di Hungary hanya berkisar kurang dari 1%, dan menjadi muslim di sini merupakan tantangan tersendiri, aku tahu tantangan dan kesulitannya mungkin tak seperti yang dialami saudara-saudara seakidah di Rohingnya, ah perbedaannya terlampau jauh malah. Aku hanya berharap, muslim dimanapun dia berada, semoga tetap istiqomah menjaga akidahnya, walau terkadang nyawa harus jadi taruhannya. [ashwarin]