Rabu, 28 September 2022

Ilmu dan Penuntut Ilmu

Sharing Night Bed Talk dengan ayah Birjees tiga malam lalu.
"Jika maksiat menghalangi masuknya ilmu, mengapa ada orang-orang yang beriman tapi punya ilmu dan membangun peradaban dengan teknologi maju?"

"Salah satu dampak kemaksiatan adalah terhalangnya masuknya ilmu". Nasehat ini sangat familiar terutama bagi para penuntut ilmu. Nasehat ini disampaikan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam bukunya Ad-Daa wad Dawaa. Salah satu kisah terkenal tentang 'maksiat yang menghilangkan ilmu' adalah hilangnya hafalan satu kitab Imam Syafi'i karena gak sengaja melihat aurat wanita yang tersingkap.

TAPI... "Lalu bagaimana posisi orang-orang cerdas dan berilmu tapi mereka adalah orang-orang yang tidak beriman? Bukankah tidak beriman adalah kasta tertinggi maksiat? Bukankah Thomas Alfa Edison, Einstein, Galileo Galilei adalah orang-orang yang tidak beriman tapi ternyata diberi ilmu oleh Allah?"

"Jika maksiat menghalangi masuknya ilmu, mengapa ada orang-orang tidak beriman tapi punya ilmu dan membangun peradaban dengan teknologi maju? Lihatlah bagaimana barat maju dengan ilmu pengetahuannya tanpa keimanan".

Di era sekuler hari ini, peran Tuhan dalam kehidupan dinafikan. Seolah bilang gini 'lu punya ilmu dan harta gak ada hubungannya dengan lu taat dengan Tuhan (agama) atau nggak'. Pernyataan seorang guru besar di Kalimantan yang sempat viral di FB beberapa waktu lalu ya kurang lebih menegaskan hal yang sama bahwa orang-orang yang gak taat sama perintah Tuhan ternyata pinter-pinter dan berprestasi kok.

Dari sini yang ingin disampaikan mereka sebenarnya "mengikuti perintah agama itu hanya non sense belaka". 

Sebenarnya gimana sih relasi antara ilmu dan si penuntut ilmu?

Segala ilmu dan pengetahuan yang ada di dunia ini sejatinya berasal dari Allah Al Alim. Allah Al Alim memberi ilmu kepada siapapun yang Allah kehendaki, baik itu orang beriman, taat, maupun yang maksiat. Itu adalah hak prerogatif Allah. Gak bisa kita menuntut Allah, 'ya Allah kenapa Archimedes Engkau beri ilmu tentang relasi gaya berat dan gaya apung padahal ia tidak beriman kepada-Mu'.

Ilmu dan penuntut ilmu sebenarnya tidak selalu mengimplikasi satu sama lain. Penuntut ilmu yang taat tidak selalu pasti dikaruniai ilmu dan kemudahan menuntut ilmu. Pun sebaliknya. Ilmu itu bisa merupakan KARUNIA yang membuat siempunya semakin dekat dengan Allah dan bisa pula merupakan ISTIDRAJ yang membuat siempunya semakin jauh dari Allah. Ilmu bisa menjadi jalan hidayah bisa pula menjadi jalan sesat bagi siempunya.

Kalo kita memahami ini tentu gak heran kenapa ada misionaris yang bisa hafal Al-Quran. Kenapa ada intelektual muslim tapi kerjaannya malah merekonstruksi ajaran Islam sesuai arahan musuh-musuh Islam. Disisi lain ada yang bener-bener niatnya lillah menghafal Al Quran, sudah menjaga diri dari maksiat tapi masih sulit menghafal.

Hal yang harus kita tanamkan dalam diri adalah bahwa pasti ada ibrah dibalik itu. Bisa jadi karena niat kotor dan maksiat sang penuntut ilmu, Allah beri ia ilmu agar ia semakin tersesat. Bisa jadi Allah tidak beri ilmu kepada seseorang karena Allah hendak menjaga hamba-Nya itu.

MENUNTUT adalah kewajiban dan tentu ada hisabnya. Ada rambu-rambu didalamnya yang berkaitan dengan pahala dan dosa. Ada adab-adab yang senantiasa kita junjung dalam proses menuntut ilmu. Sedang MEMPEROLEH ILMU adalah wilayah yang tidak kita kuasai, Allah lah yang Maha Berkehendak memberi ilmu itu atau tidak. 

Fokuslah pada apa yang kita kuasai. Lakukan sesuai apa yang Allah perintahkan, niatkan lillah dan jalani sesuai petunjuk-Nya. Patuhi adab-adabnya bukan semata demi mendapat ilmu tapi keberkahan proses menuntut ilmu.

Kalau ilmu dari Allah, kenapa sih orang yang tidak beriman dan orang yang maksiat juga diberi ilmu?

Sebenarnya pertanyaan ini mirip juga dengan: Kalau Rizki dari Allah, kenapa sih orang yang tidak beriman dan orang yang maksiat juga diberi Rizki?

Rizki harta, kesehatan, ilmu, keselamatan dunia, Allah beri kepada siapapun yang Allah kehendaki. Inilah bukti betapa Allah Ar-Rahman. Kasih sayangnya begitu luas meliputi seluruh makhluk-Nya. Hal ini justru harusnya membuat kita makin taat bukan malah mendurhakai-Nya. Sebab tidak ada yang menyayangi sebesar sayangnya Allah pada makhluk-Nya.

Selalu ingat bahwa menuntut ilmu adalah ibadah sebagaimana ibadah-ibadah lain yang kita lakukan untuk bertaqarrub ila Allah (mendekat pada Allah). Maka ilmu yang kita harapkan adalah ilmu yang bermanfaat. Tidaklah ilmu itu bermanfaat kecuali mengantarkan pada hidayah.

Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan "Ilmu yang bermanfaat adalah sesuatu yang dapat membuat dada terasa begitu lapang dan dapat menyingkap tirai yang menyelimuti hati. Ilmu yang paling baik adalah ilmu yang disertai rasa takut pada-Nya. Jika ilmu disertai rasa takut pada-Nya, ia akan berguna bagimu. Namun jika tidak, maka ia hanya akan menjadi petaka bagimu."


Mengapa Aku Go Abroad

Lima tahun lalu keinginanku untuk study abroad akhirnya terwujud. Setelah berkali-kali gagal hingga kesempatan itu tiba. Malam ini aku berusaha menggali memori masa lalu itu, alasan awal kenapa aku ingin sekolah keluar negeri. Walau pada perjalanannya alasan itu tentu saja berubah. Namun pemicu awal itu sesuatu yang tak bisa diabaikan.

Aku menginjak usia remaja kala itu. Seragam putih biru kukenakan dengan bangga sembari membayangkan betapa indahnya tumbuh dewasa. Bertemu dengan kawan baru hingga mungkin jika beruntung bisa jatuh cinta.

Namun, kenyataan tidak seperti ya kubayangkan. Rumah tempatku hidup yang sebelumnya penuh dengan bahagia dan memori indah dijahili atau menjahili saudara-saudara, lalu berubah.

Kehangatan itu menghilang seiring hilangnya cinta dua insan berganti benci. Semuanya pergi dengan urusannya masing-masing lalu tinggallah aku. Aku yang sedang dalam fase memasuki dunia remaja seakan ditampar keras oleh kenyataan. Kenyataan bahwa hidup itu tidak selalu berjalan seperti yang kau mau. Tapi hidup itu adalah sesuatu yang harus kau lalui siap atau tidak.

Rasanya seperti babak belur, terluka, berdarah tapi tak ada yang mampu melihatnya. Tapi hidup harus terus berjalan bukan? Alaminya manusia adalah mencari cara bahagia bagaimana pun dan dimana pun. Lalu rasa ingin pergi jauh itu pun muncul. Ya, aku harus pergi ke tempat yang jauh. Entah ke benua lain di bumi atau ke planet lain di galaksi Bima sakti. Jika Elon Musk saat itu menawariku jadi relawan ke Mars mungkin aku mengiyakan.

Saat melihat gadis kecil yang sedang tertidur di sampingku ini, aku berpikir bagaimana jika kelak ia ingin pergi karena tidak bahagia. Bagaimana aku membesarkannya tanpa trauma? Aku khawatir tentang rumah yang kami bangun untuknya. Bukan fisiknya tapi kehangatannya. Akankah menjadi rumah yang selalu ia rindu? Ataukah rumah yang ia ingin pergi darinya sejauh-jauhnya?

Anak-anak suatu saat akan pergi dari kita, orang tuanya. Tapi aku ingin memastikan mereka pergi bukan karena kesepian, bukan pula karena tidak bahagia. Semoga Allah Al Hadits senantiasa menunjuki kita dalam setiap proses pengasuhan dan pendidikan anak-anak kita serta di setiap usaha kita membangun keluarga yang hangat dan bahagia karena Allah. Aamiin.


Be a Momactivist

Hai, moms. Pernah denger Momactivist? Istilah ini mungkin gak sepopuler istilah mompreneur yang diperkenalkan Antonia Chitty. Jika mompreneur terdiri dari gabungan kata mom dan enterpreneur yang artinya seorang ibu sekaligus wirausahawan. Maka Momactivist adalah gabungan kata mom and activist yang artinya adalah seorang ibu yang juga seorang aktivis. Aktivis berarti seseorang yang menggerakkan. Jika ia seorang aktivis Islam berarti yang menjadi ruh perjuangannya adalah Islam.

Selama ini istilah aktivis itu cuma lekat pada 'mahasiswa'. Seringnya tuh kita menyebut 'mahasiswa adalah agen perubahan'. Tapi sayangnya gak pernah ada tuh istilah 'ibu adalah agen perubahan'. Kita kadang menganggap yang namanya emak-emak ya kerjanya cuma kasur, sumur, dan dapur doang. Ngurus anak dan ngurus suami aja. Padahal nih ya, kekuatan seorang ibu itu luar biasa.

Buktinya Allah berikan ia fitrah mengandung dan melahirkan yang konon sakitnya tuh seperti 20 tulang patah bersamaan. Seorang ibu adalah yang paling peduli pada anak-anaknya. Pengorbanannya luar biasa. Maka menjadi agen perubahan bukan sesuatu yang mustahil, bukan pula sesuatu yang gak perlu bagi seorang ibu. 

Kita mungkin menyadari ya mum, sebetapa rusak dunia hari ini. Bumi sakit, manusianya pun sakit. Pemanasan global, persoalan sampah, hingga bencana alam akibat ulah manusia semakin mengancam bumi. Entah bumi akan bertahan berapa lama lagi. 

Manusianya pun semakin rusak. Krisis moral, kriminalitas, hingga depresi menjangkiti generasi. Ide-ide sesat massif disebarkan justru semakin mengancam eksistensi bumi dsn manusia sebagai pengelolanya.

Sebagai seorang ibu dari anak-anak, kita jadi khawatir. Bahkan harus khawatir. Tentang bumi yang kita wariskan kepada mereka. Tentang masyarakat yang kita titipi anak-anak kita. Tentang peradaban yang anak-anak kita tinggali kelak. Maka menjadi Momactivist sebenarnya bukan sebuah pilihan. Tapi keharusan, sebab kita seorang ibu.

Tanggung jawab kita bukan hanya soal mengurus personal si anak. Bukan hanya soal yang penting kita sudah ngasih makan anak, masukin sekolah, tinggal di lingkungan yang baik, support pribadi dia. Tapi lebih dari itu, kita punya tanggung jawab terhadap dunia yang mereka tinggali.

Semangat ya buat para Momactivist yang luar biasa. Yang dibalik kesibukan aktivitasnya mengurus rumah tangga, juga berdakwah, beramar ma'ruf nahi mungkar, dan menjadi penggerak baik lewat lisan, tulisan, dan aktivitas jama'iy nya. Semoga Allah selalu istiqomahkan kita di jalan dakwah. Selalu ingat bahwa dakwah ini bukti cinta kita kepada manusia wa bil khusus kepada anak-anak kita tercinta.

Mengasuh Anak Demi Apa?

Ketika ide childfree heboh beberapa waktu lalu, timbul perdebatan di masyarakat, ada yang pro dan ada pula yang kontra dengan alasannya masing-masing. Alasan yang paling banyak dikemukakan oleh netizen yang kontra adalah "nanti kalo tidak punya anak, kalo sudah tua siapa yang ngurus", atau "kalo nggak punya keturunan, nanti tua bakal kesepian". Kurang lebih begitu alasan mengapa orang-orang ingin punya anak. Ingin penghiburan dari anak keturunan dan ingin diurus kala tua.

Tentu ide childfree adalah ide yang batil sebab ianya lahir dari rahim liberalisme sekularisme. Tetapi counter terhadap konsep ini mayoritas masih bernafaskan sekularisme juga, walau mereka yang berkomentar ini mayoritasnya adalah muslim. Namun nyatanya malah menjadikan asas manfaat sebagai tolak ukur perbuatan. Ini menunjukkan betapa racun paham sekularisme begitu mengakar kuat dalam pikiran kaum muslimin.

Imbasnya begitu terasa bahkan dalam kehidupan parenting kita. Kita sebagai anak pun kita sebagai orang tua. Betapa banyak dari kita yang merasakan tekanan sebagai anak. Tuntutan duniawi sedemikian rupa diletakkan di pundak-pundak kita. Ada yang dituntut sukses duniawi demi membahagiakan orang tua yang standar bahagianya adalah materi. Ada anak gadis yang sulit menikah karena permintaan mahar/uang hantaran dari orang tua kepada lelaki yang melamar begitu tinggi, alasannya modal membesarkan anak hingga S2 tidak murah.

Pun sebagai orang tua. Pada akhirnya kita bisa jadi menuntut anak ini itu karena kita merasa telah membesarkannya. Padahal membesarkan anak adalah amal sebagaimana amal-amal lain yang kita berharap Allah menerimanya. Sedang amal diterima jika dan hanya jika memenuhi dua syarat: pertama, ikhlas. Dan kedua, caranya benar sesuai syara.

Perkara ikhlas adalah hal yang dibahas begitu panjang oleh para alim ulama. Bagi seorang muslim yang mendamba surga, ini wajib menjadi perhatian penting. Ikhlas bukan sesuatu yang bisa kita peroleh instan tetapi melalui proses pembelajaran yang terus menerus. Di masyarakat muslim yang sekuler hari ini, makna ikhlas telah jauh mengalami pergeseran. Entah itu dipahami sebagai sekadar 'kerelaan', 'ketulusan' atau semisalnya. Maka wajar yang muncul adalah 'boleh kok riba asalkan sama-sama rela' dan berbagai penghalalan dosa-dosa lainnya.

Allah SWT berfirman dalam ayat QS al-Insan 76:9:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

yang artinya: "Sesungguhnya kami memberi makan (membantu) kalian hanya untuk Allah, kami tidak mengharapkan balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih."

Allah SWT menjelaskan dalam rentetan ayat ini dan sebelumnya tentang karakter amalan dan perbuatan orang-orang yang kelak berada di surga. Ayat ini singkat tapi maknanya sangat dalam. Allah SWT menggambarkan tentang makna ikhlas yaitu 'hanya mengharapkan balasan dari Allah SWT'.

Membaca ayat ini rasanya menohok. Iya. Bagaimana tidak, kita yang katanya ingin masuk surga tapi selalu ingin mendapat balasan dari selain Allah bahkan untuk hal sesederhana melempar senyum ke orang lain. Apalagi untuk hal-hal yang lebih dari itu termasuk membesarkan anak. Kita beramal baik dengan harapan dibalas kebaikan juga oleh orang lain. Lalu saat harapan itu tak sampai maka kecewa lah kita. Mungkin kita pernah merasakan ini 'kok ya aku sudah capek-capek berbuat baik ke orangtua/ ke mertua/ ke suami/ ke sodara tapi nggak diapresiasi'. Kamu sudah bebersih tau-tau orang tua ngeliatnya pas rebahan lalu dibilangin kamunya malas. Langsung pundung deh.

Tapi tahu gak sih, ini yang aku pikirkan. Bisa jadi segala kekecewaan-kekecewaan kita adalah karena ketidakikhlasan kita. Bukankah kita kecewa karena harapan yang tak sampai? Kita berharap balasan suami, anak, orangtua, mertua, teman kita seperti ini untuk setiap kebaikan yang kita lakukan untuknya, eh ternyata tidak demikian. Lantas kita kecewa.

Mungkin patut kita menengok hati kita, sudah ikhlas kah engkau wahai diriku? Sudahkah segala amal kita persembahkan kepada Allah SWT saja?

Wahai diri ini, ingatlah doa yang kau ulang-ulang minimal 17 kali sehari dalam sholatmu 'ihdinas sirotol mustaqim'. Engkau ingin jalan yang lurus yaitu jalan yang Allah ridhoi maka Allah tunjuki lewat ujian kekecewaan-kekecewaan agar dirimu belajar arti ikhlas, arti mengharap pada Allah SWT saja.

Bukankah ini adalah jawaban Allah SWT atas doa-doa kita? Bukankah Allah sedang menempa kita menjadi orang yang ikhlas lewat kekecewaan-kekecewaan itu agar kita layak menjadi penghuni surga? 

Maka ingatlah wahai diriku, engkau mengasuh, membesarkan, mendidik anak-anakmu tidak lain dan tidak bukan sebagai amal sholeh yang engkau harapkan Allah ridhoi hingga mengantarkanmu menjadi orang-orang yang Allah beri nikmat yang paling besar (surga).

Semangat diriku dan dirimu juga.😊👏💪

Selasa, 27 September 2022

COMEBACK THIS OCTOBER

Long time no see guys.. 
Hope I can start blogging again after so many years..
Would you prefer reading my blog in English or Indonesia?
Leave comment below please. Let me know what in your mind is. Thank you.

Sabtu, 09 Februari 2019

Part 14 Menjaga Diri dari Fitnah


       Sebagai seorang muslim di negeri minoritas yang jumlah muslimnya sangat sedikit, adanya Islamic Centre di Budapest ini justru menjadi oase tersendiri bagi kaum muslimin, sebagai tempat bertemu dengan muslim lainnya, menjalin ukhuwah, belajar Islam, dan beribadah. Berbagai program-program menarik ditawarkan, ada kelas tajwid, kelas bahasa arab, kajian-kajian keislaman, baik dalam pengantar bahasa arab, Magyar, maupun inggris.

          Sabtu lalu, tema halaqah yang dibawakan langsung oleh sang syeikh adalah ‘7 hal menghindari fitnah akhir zaman’. Kajiannya disampaikan dalam bahasa Arab, namun Alhamdulillah salah satu sister bersedia menerjemahkannya. Nah, adapun hal-hal yang disampaikan sang syeikh agar kita bisa  terhindar dari fitnah, yaitu berkumpul dengan orang-orang shaleh, bergegas pulang ketika hari mulai gelap, menjadi pemaaf, tidak melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa, berhati-hati menyebarkan berita, berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, dan meyakini akan datangnya Nashrullah.

         Diri kita ini banyak dipengaruhi oleh orang-orang disekitar kita dan lingkungan kita, bagaimana kita berpikir, berkata, dan bersikap. Di akhir zaman, akan ada banyak sekali fitnah seperti yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kabarkan pada kita tentang munculnya fitnah besar dimana kebenaran dan kebathilan saling bercampur. Karena itu salah satu kewajiban kita agar senantiasa terjaga dari fitnah adalah berada dalam jamaah, berkumpul bersama orang-orang yang shaleh. Sebagaimana di negeri yang muslimnya minoritas, maka kita harus mendatangi komunitas-komunitas muslim dan memakmurkan mesjid. Senantiasa berada dalam jamaah itu sesuatu yang sangat urgen sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi. Dari al-Harits al-Asy’ari dari Nabi SAW bersabda: “Dan saya perintahkan kepadamu lima hal dimana Allah memerintahkan hal tersebut: Mendengar, taat, jihad, hijrah, dan jamaah. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan jamaah sejengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika kembali. …”.
       
         Hal selanjutnya adalah menghindari kegelapan malam sebab kejahatan dan fitnah banyak terjadi di malam hari, sebagaimana kita meminta perlindungan dalam surah Al-Falaq, “Dan dari kejahatan malam apabila telah masuk dalam kegelapan”. Jika hari telah gelap, bergegaslah untuk pulang ke rumah. Ini betul-betul menjadi teguran bagiku, sebab sering diriku belajar di perpustakaan ataupun cafe hingga larut malam. Suatu ketika aku dan temanku baru saja pulang dari belajar bareng di sebuah cafe yang jaraknya sekitar 20 menit dari tempat tinggal kami. Jarak antara halte bus sekitar 650 m ke dorm. Saat kami berjalan pulang, ada yang sedang mabuk-mabukan di jalan, dia menunjuk-nunjuk kami sambil berbicara dengan intonasi tinggi, entah itu berteriak atau apa, tapi kusadari bahwa itu bukan godaan, terlihat dari ekspresi ketakutannya melihat kami, dua gadis berhijab, sambil dia berjalan mundur sedikit-sedikit saat kami lewat dihadapannya. Ya Allah, dalam hati kuberkata, segitunyakah islamophobia orang-orang, bahkan orang mabuk pun ketakutan dengan hijabis. Disatu sisi sedih juga dengan islamophobia di negara ini tapi disisi lain di kejadian ini aku justru terhindar dari hal-hal yang membahayakan. Aku yakin bahwa pertolongan itu datangnya hanya dari Allah semata bukan yang lain.

       Kadang aku berpikir apa mereka pikir kami akan melemparinya bom. Jadi teringat kisah seorang teman ketika melakukan perjalanan dari Budapest ke Rumania bersama dua teman muslimah lainnya yang berhijab. Di atas kereta tiba-tiba ada inspeksi dari kepolisian, dan mereka dibawa kantor polisi, lalu seluruh barang-barangnya diperiksa. Pernah lagi, salah seorang teman bercerita pengalamannya di atas tram, ada bapak-bapak yang begitu melihat dirinya, langsung membawa istrinya menjauh dari dia (yang sebelumnya istrinya itu berada di dekat temanku), lalu memandangnya dengan ekspresi khawatir atau mungkin takut.

      Poin ketiga yang disampaikan syeikh adalah menjadi muslim yang pemaaf. Dengan banyaknya kejadian-kejadian yang mengindikasikan islamophobia, kadang kita merasa kesal dengan respon berlebihan yang kita peroleh dari orang-orang. Mungkin bisa jadi kita tersinggung dengan sikap tak bersahabat mereka. Tapi bukankah Rasulullah pun menghadapi ujian yang sama dulu ketika awal-awal mendakwahkan Islam. Kita harus memahami bahwasanya mereka bersikap seperti itu bukan karena kesalahan mereka, bukan karena mereka adalah orang-orang yang jahat, hanya saja media yang mencitraburukkan islam terus menerus, dan juga adanya propaganda politik. Ingat mereka hanya korban media dan propaganda. Jika direspon dengan sikap yang keras pula, mereka mungkin akan berpikir bahwa yang dikatakan media itu memang benar jika muslim adalah orang-orang yang kasar, menyukai permusuhan, dan konflik.  
  
        Salah satu kejadian yang tidak mengenakkan terjadi pada hari ‘World Hijab Day’. Sister-sister di mesjid melakukan kampanye hijab lewat poster yang rencananya akan dipajang di beberapa tempat. Hal yang mengejutkan adalah ketika ternyata tersebar poster yang gambarnya persis sama tapi isinya telah dirubah dengan konten-konten negatif yang memberi citra buruk pada Islam. Yah, seperti itulah kondisi hari ini di Hongaria, apalagi menjelang pemilihan umum. Islam menjadi sasaran empuk demi agenda politik mereka. Menurut temanku warga hungaria yang telah memeluk islam selama 16 tahun, bahwa penekanan terhadap kaum muslimin di Hungaria semakin meningkat 3 tahun terakhir ini, dan dia memprediksi bahwa akan semakin buruk di tahun-tahun berikutnya.

          Selanjutnya adalah tidak tergesa-gesa. Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata, “Sifat tergesa-gesa adalah dari setan. Sejatinya sifat tergesa-gesa juga merupakan sikap gegabah, kurang berpikir dan berhati-hati dalam bertindak. Yang mana sifat ini menghalangi pelakunya dari ketenangan dan kewibawaan. Dan menjadikan pelakunya memiliki sifat menematan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan mendekatkan pelakunya kepada berbagai macam keburukan, dan menjauhkannya dari berbagai macam kebaikan. Dia adalah temannya penyesalan. Dan katakanlah, bahwa siapa saja yang tergesa-gesa maka dia akan menyesal”.

         Pesan syeikh berikutnya adalah berhati-hati dalam menyebar berita. Salah satu ketergesa-gesaan yaitu tidak meneliti dahulu berita yang sampai padanya lantas menyebarkannya ke yang lain. Padahal Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [TQS. Al-Hujurat:6]. Banyak kejadian buruk yang terjadi disebabkan beredarnya berita bohong, baik di masa lalu maupun di masa sekarang.

     Selanjutnya, seorang muslim haruslah berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah agar senantiasa berada di jalan yang diridhoi Allah SWT. Allah SWT berfirman yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” [TQS An-Nisa:65] Rasulullah saw bersabda : “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat setelah (kalian berpegang teguh pada) keduanya, Kitabullah dan Sunnahku.” [HR At-Thabrani]

        Selain itu, walaupun berbagai cobaan menerpa kita dan kaum muslimin hari ini, Syeikh berpesan agar memiliki keyakinan yang kuat akan datangnya Nashrullah.

    “Dan tidaklah Allah menjadikannya (mengirim pertolongan) melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tentram, dan kemenangan (pertolongan) itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” [TQS Al-Anfal :10]

            Wallahu’alam bi ash-shawab.

            [Ashwa Rin]

Part 13 Ada apa dengan Barbar?


Dasar kaum Barbar ! kita mungkin pernah mendengar umpatan ini. Kira-kira apa yang terlintas dibenak kita ? Biadab? Primitif? Kasar? Kejam? Beringas? Ya, kita sering sekali menggunakan kosa kata ini dalam makna negatif dan memang kata ini diserap dalam bahasa-bahasa lainnya semisal bahasa inggris (Barbarian) ataupun bahasa Indonesia (Barbar) dalam makna demikian.

Tapi tahukah bahwa sebenarnya Barbar itu adalah nama etnis asli yang menghuni wilayah Afrika Utara, sebagian besar di wilayah Maroko, Tunisia, Aljazair, Mali Utara, Mauritania, Niger utara, Libya, dan sebagian barat Mesir. Nama lain dari etnis Barbar/Berber adalah Amazighs.

Beberapa etnis barbar yang terkenal, ada Tariq bin Ziyad, penakluk Andalusia, Abbas ibnu Firnas, penemu produktif dan perintis awal dalam penerbangan, dan ada pula Ibnu Batuta, seorang penjelajah abad pertengahan.           

Dulu aku tak pernah tahu bahwa Barbar itu nama etnis hingga pada semester pertama kuliah di Budapest, aku sekamar dengan orang Berber (Selanjutnya aku sebut Berber saja ya, kata Barbar terlalu aneh bagiku), namanya Fatima. Dan saat itulah aku banyak diceritakan olehnya tentang orang-orang Berber. Sudah lama sekali ingin menulis tentang ini, tapi belum sempat juga hingga akhirnya hari ini bisa tertunaikan. Kami lama tak bertemu sejak ia pindah apartemen dan alhamdulillah hari ini memiliki kesempatan untuk ngobrol panjang kali lebar kali tinggi di cafe  (volume kalle, hehe).

Sebagai keluarga Berber tulen, ia bercerita bagaimana keluarganya itu sangat tidak menyukai orang-orang Arab. “Kami Berber, dan mereka Arab” begitu kata ayahnya. Ia menceritakan kisahnya saat masih kecil dulu. Ia berteman dengan seorang Arab dan ketika ayahnya mengetahuinya, ayahnya sangat marah dan memukulinya. “Keluarga kami sangat tidak menyukai arab (etnis), sekedar berteman saja tidak boleh, mereka mungkin akan membunuhku kalo ingin menikah dengan orang Arab, maksudku bukan membunuh dalam arti sebenarnya, tapi membuangku dari keluarga” katanya kala itu. “Walaupun Arab Maroko?” tanyaku. Dia berpikir “hmm, klo itu masih ada kemungkinan, hanya harus memohon ekstra, tapi jika Arab tulen, absolutely not”.  

Aku menanyakan alasannya. Dia bilang sebab orang-orang Berber merasa muslim Arab datang ke negeri mereka dan berusaha mengarabkan mereka. Aku bilang “bukannya mereka datang untuk menyebarkan Islam?” “ya, kami bersyukur bisa mengenal Islam tapi disisi lain tidak menyukai arabisasinya.” Dia pun sebenarnya tidak setuju memilih-milih teman hanya karena etnisnya. Namun, menurutnya islam dan tradisi/kultur arab adalah dua hal yang berbeda. Aku sedikit bisa memahaminya sejak banyak berteman dengan orang-orang Arab. Memang tidak semua tradisi/kultur arab merupakan bagian dari tradisi Islam. Islam sendiri tidak melarang tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat. Arab memang tidak selalu  berarti Islam. Tetapi menjadi anti Arab jelas sangat berlebihan. Bagaimanalah kita bisa memahami Islam, Al-Quran dan hadist tanpa bahasa Arab. Rasulullah dan mayoritas para sahabat adalah orang-orang arab. Masa’ sih jadi anti arab hanya karena kekecewaan terhadap segelintir orang-orang arab. Bukankah artinya kita sudah bersikap tidak adil? Sedih sebenarnya mendengar bagaimana sesama muslim merasa mereka berbeda dengan muslim lainnya hanya karena soalan etnis, padahal sejatinya satu-satunya yang menjadi pengikat hakiki adalah akidah.

Persoalan seperti ini bukan hanya terjadi antara orang Berber dan orang Arab, tapi juga terjadi sesama orang Arab sendiri. Birjesi, begitu aku memanggil namanya, salah satu sahabat dekatku di Budapest. Dia berasal dari Hebron, Palestina. Bersama Fatima dari Maroko dan Birjesi, kami tinggal bersama saat semester pertama di Budapest. Dia juga banyak menceritakan hal-hal yang mengejutkan bagiku. Salah satunya fakta bahwa sulitnya keluarga di Jordan menerima wanita Palestina sebagai menantu di keluarga mereka. "Walau mungkin saja karena faktanya memang ada, tapi tetap saja itu cukup sulit" jawabnya saat aku menanyakan kemungkinannya. 

Percakapan pagi ini di California Cafe seolah tak habisnya, Fatima juga bercerita bagaimana ketidakakuran Maroko dan Aljazair gara-gara perebutan wilayah padang pasir. Aku teringat bahwa Indonesia dan Malaysia pun seringkali mengalami hal serupa, mulai berebut klaim kepemilikan batik sampai pulau. Dan banyak negeri-negeri muslim lainnya yang bernasib serupa, saling klaim kepemilikan dengan negara tetangganya yang sama-sama negeri mayoritas muslim. Negeri-negeri kaum muslimin disibukkan bertengkar dengan saudaranya hanya untuk urusan sepele. Padahal, mereka sebenarnya sedang masuk dalam jebakan politik pecah belah melalui konsep “nation state”. Kita bangga dengan nation kita hingga lupa atau bahkan tidak tahu bahwa Rasulullah sudah mengingatkan untuk menjauh ashabiyah (fanatik golongan), menyeru dengan seruan-seruan kesukuan maupun kebangsaan.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa dalam satu perang, seorang Muhajirin mendorong seorang Anshar, lalu orang Anshar itu berkata, "Tolonglah, hai Anshar." Orang Muhajirin itu berkata, "Tolonglah hai Muhajirin." Nabi Muhammad saw pun mendengar itu dan beliau bersabda :" Ada apa dengan seruan jahiliah itu?" Mereka berkata, "Ya Rasulullah, seorang dari Muhajirin memukul punggung seorang dari Anshar," Beliau bersabda, "Tinggalkan itu, sebab itu muntinah (tercela, menjijikkan, dan berbahaya)".

Kami ngobrol lama siang ini seakan hal-hal yang dibicarakan tak ada habisnya, mulai dari cerita pernikahan adiknya summer tahun lalu, kucing piaraan kesayangannya, karakter dan kebiasaan orang-orang Berber, yaitu bagaimana hubungan diantara keluarga sangat formal, ibu ke ayah, anak-anak ke orangtuanya, sampai curhatan dia soal gagalnya eksperimennya hingga  meledakkan microwave karena mencampurkan larutan-larutan kimia yang berbahaya, “and you know I am a muslim” katanya sambil tertawa. Dia bercerita banyak hal juga terkait case-case affair di Maroko, bagaimana para orang tua membesarkan anak tanpa ilmu dan aku pikir itu bukan hanya terjadi di negaranya saja, tapi hampir di seluruh tempat. 

Sementara kami sedang ngobrol, seorang anak di samping meja kami menjatuhkan kuenya dan ibu-ibu yang bersamanya entah ibu atau tantenya mengambil kembali kue itu berkata sesuatu dalam bahasa Hongaria. Tiba-tiba Fatima menerjemahkannya "ibu itu bilang tidak apa-apa karena bagian yang menyentuh lantai hanyalah plastik alasnya". Masha Allah, dia mengerti bahasa hongaria sekarang, sedangkan aku masih jauh tertinggal, hhe. Kami bercerita banyak tentang kehidupan sosial orang-orang Hongaria. Mulai dari kesukaannya memelihara anjing daripada membesarkan anak,  hingga fakta-fakta tentang eljibiti. Mengetahui fakta-fakta yang mengejutkan darinya soal kehidupan sosial orang Hongaria, membuatku merasa aku tidak tahu apa-apa tentang orang Hongaria ternyata.

Pembicaraan kami siang ini berlanjut sangat panjang hingga tak terasa tiga jam sudah berlalu. Sepertinya kami harus mengakhiri pembicaraan panjang ini karena cangkir kopi kami sudah lama dibereskan sang waiter. [Ashwa Rin]


Budapest, Sabtu 09 Februari 2019