Sabtu, 01 Oktober 2022

Ibu Itu Siapa

Beberapa waktu lalu mendengar curhatan ibu-ibu para hamlud dakwah  tentang anak-anak mereka yang beranjak dewasa namun beberapa justru semakin antipati dengan dakwah. Jujur, aku sendiri jadi insecure. Memandangi bayi disampingku yang kini berusia 1 tahun 5 bulan sambil membayang-bayangkan bagaimana ia kelak, 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Aku berpikir akankah aku mampu menjalani amanah ini, sebagai ummu dan sebagai madrasatul ula?

Seringkali aku mengingatkan diriku lagi dan lagi, 'aku adalah ummu sebelum yang lainnya', 'aku adalah madrasatul ula bagi anak-anakku sebelum menjadi madrasah bagi orang lain'. Sesuatu yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban kepadaku adalah anak-anakku.

Suatu ketika aku berbincang-bincang dengan sang partner hidup, 'mengapa ini terjadi?' Beliau menjawab, 'Seringkali para keluarga hamlud dakwah fokus meriayah keluar tapi lupa meriayah keluarganya". Aku pikir mungkin ada benarnya. Padahal Allah SWR memerintahkan kita untuk menjaga keluarga kita dari api neraka.

Kita sibuk mempersiapkan diri sebaik mungkin saat akan bertemu mad'u-mad'u, belajar, membuka kitab, menuliskan outline materi dan sebagainya, tapi apakah kita juga mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bertemu dengan anak kita esok hari ketika mereka terbangun? Besok materi apa yang akan aku ajarkan kepada ana? Hal apa yang harus aku tanamkan kepada anak? Kegiatan apa yang akan kami lakukan dst?

para hamlud dakwah memikirkan rencana dakwah kedepannya dengan baik tapi apakah juga memikirkan rencana tarbiyah ankanya dengan baik. kita bicara soa evaluasi dakwah, menyeriusinya dengan rapat tahunan, bulanan, hingga pekanan, tapi apakah kita pernah mengevaluasi pendidikan  anak kita di rumah maupun diluar rumah, apakah para orangtua mengadakan rapat membahas ana-anak mereka membuat rencana dan target tahunan, bulanan, mingguan, hingga harian?

Seorang ibu bukanlah seseorang yang sekadar mengurus kebutuhan anaknya, seperti menyusui, menyiapkan makanan, menjaga kebersihan rumah, menjaga kesehatan anggota keluarga, memasukkan anak-anak ke sekolah. Bukan, bukan sekedar itu. Mungkin kita perlu merenungi kembali diri kita para ibu bahwa kita adalah madrasatul ula, sekolah utama dan pertama bagi anak. Seseorang yang memberikan pengajaran sejak anak dalam kandungan, lahir, hingga beranjak dewasa. Seseorang yang membangun pondasi dalam diri anak. Seseorang yang perannya amat vital bagi seorang anak. Maka menyeriusi peran ini adalah suatu kewajiban.

jangan sampai kita  sibuk menjalani aktivitas, iya bersama dengan anak sih, tapi hanya raganya. Mereka ikut dalam aktivitas kita (termasuk dakwah) tapi ki lupa berinteraksi dengan mereka. Kita memandikan mereka tapi kita lupa mengenalkan Allah yang menurunkan rahmatnya berupa air, kita memberi mereka makan tapi kita lupa mengenalkan Allah ar-Razaaq sebagai yang Maha Pemberi Rezeki dalam aktivitas makan mereka, kita menghadapi anak yang sakit/terluka tapi kita lupa mengajarkannya untuk hanya memohon kesembuhan kepada-Nya, anak kita sedang menghadapi kesulitan tapi kita lupa mengajarkan bahwa Alah satu-satunya tempat bergantung, anak kita sedih tapi kita lupa mengajarkan bahwa sedih maupun senangnya seorang mukmin itu adalah rahimnya Allah, tanda sayangnya Allah pada hamba-Nya, yang dengannya Allah beri kita peluang beramal sholih dengan sabar dan syukur. Jangan sampai kita lupa bahwa anak kita berrhk atas ibunya sebagai madrasatul ula bagi mereka bukan sekedar pemenuh kebutuhan jasmaninya. ya Allah, bantu kami untuk terus belajar dan terus mengevaluasi. Ini jadi PR besar bagi kami orangtua untuk terus berbenah...

kamis, 11 Agustus 2022 pukul 22:40 WIB

yang sedang bercermin


Menyikapi Masa Lalu (Sejarah)

Dulu saat pertama kali tahu khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang Allah tuntunkan untuk manusia dan telah diterapkan selama 14 abad lamanya, ekspektasiku adalah khilafah pasti sistem yang sempurna dan selama 14 abad pasti semuanya berjalan damai dan tenteram. Rasanya menggebu-gebu ingin khilafah seperti dulu

Saat aku membaca buku-buku sejarah kekhilafahan dan menemukan soal perebutan kekuasaan yang terjadi di kalangan keluarga khalifah atau dengan bani lainnya hingga  berdarah-darah, aku lalu berpikir 'apakah khilafah itu seperti ini, berdarah-darah?' ataukah 'ah jangan-jangan penulis sejarah ini berbohong dan sejarah dikebiri', dan berbagai perasaan denial. Rasa-rasanya inginnya sejarah kekhilafahan itu perfect tanpa cela.

Hingga sesuatu menyadarkanku. Hey, Khilafah itu sebagaimana hukum syariat yang lainnya loh, yang melaksanakannya ya manusia. Namanya dilakukan oleh manusia, maka ada kanya bener ada kalanya salah. Sebagaimana sholat yang Allah wajibkan, ada kalanya manusia bener melaksanakannya, bisa jadi juga gak bener.

Mendirikan sholat lima waktu gak berubah hukumnya hanya karena ada yang salah melaksanakan sholat. Sebagaimana menerapkan sistem pemerintahan yang Allah wajibkan gak berubah hukumnya  hanya karena dalam pelaksanaannya ada yang gak bener.

Sebagaimana kita membangun keluarga, tentu harapannya sakinah mawaddah dan rohmah dong, masa iya tujuannya bangun keluarga yang amburadul. Pun dengan membangun negara, harapannya untuk yang baik-baik, gak ada ceritanya bangun negara biar bisa menindas.

Dalam keluarga ada masalah, dalam negara juga ada. Poinnya bukan karena 'ada masalah' maka 'jangan lakukan'.

Tapi sebagai seorang muslim, bagaimana dalam melakukan sesuatu panduannya adalah Islam. Membangun keluarga panduannya islam, membangun negara juga panduannya islam.

Melihat sejarah kekhilafahan itu hanya sebatas 'oh itu soal perebutan kekuasaan yang berdarah-darah' lalu menolak wajibnya Khilafah, tak ubahnya seperti melihat dengan kaca mata kuda lalu mengambil kesimpulan begitu saja. Sejarah bukan untuk menghukumi sesuatu dan harusnya kita tahu itu. Hukum sesuatu didasarkan pada nash-nash syara bukan dari sejarah.

Memahami arti sejarah atau masa lalu itu penting. Agaknya menyakitkan memang harus menjumpai ketidaksesuaian apa yang kita inginkan dengan sejarah masa lalu. Namun dalam melihat masa lalu atau sejarah, ini bukan soal apa yang kita inginkan atau ekspektasikan, tapi soal hikmah apa yang bisa kita ambil dari masa lalu.

Bukankah dalam menjalani hari-hari kita pun demikian. Adakalanya sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Adakalanya perjalanan kita menemui jalan yang salah bahkan buntu. Tapi tak perlu menyalahkan perjalanan itu sendiri, sebab yang perlu kita lakukan adalah belajar dari kesalahan sebelumnya.

Jangan katakan 'jika tak mau tersesat, jangan melakukan perjalanan'. Lantas jika tersesat kenapa? Haruskah menyalahkan diri sebab membuat keputusan untuk melakukan perjalanan. Bukankah salah satu kebijaksanaan adalah melangkah kembali, lanjutkan perjalanan, koreksi kesalahan, temukan jalan yang benar itu. Tak perlu malu dengan sejarah kelam kita, tapi perbaikilah apa yang rusak. Tak perlu berpaling dari sejarah kelam kita, hadapi dan ambil hikmahnya.

Ada hikmah besar ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang Allah janjikan. Bukan salah syariat Allah, tapi salah manusia yang kerap kali menyimpang dari tuntunan Allah. Jika sholat tak mampu menghindarkan kita dari perbuatan yang mungkar, bukan salah sholatnya. Coba koreksi apakah sholat kita telah sesuai dengan yang Allah perintahkan. Begitupun dengan syariat lainnya.

Allah gak pernah salah dalam memberikan syariat tapi justru manusi lah yang kerap kali lalai dari menjalankannya.

Sejarah kelam yang pernah ada dalam kekhilafahan bukan pembenaran untuk tidak lagi berhukum pada hukum Allah. Sebab no kelam itu tidaklah muncul kecuali manusia telah lalai dari perintah Allah, sedikit atau banyak. Ada hikmah yang besar disitu yang harusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk sekarang dan masa mendatang. Bahwa ketika manusia berpaling sedikit saja dari apa yang Allah perintahkan maka manusia akan menuai akibatnya. 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.." (QS Ruum : 41)

Dibalik masa lalu dan sejarah kelam ada hikmah dan ibrah yang bisa diambil bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Apa yang terjadi (akibat yang kita tuai karena perbuatan kita) adalah bagian dari kasih sayang Allah. Tidak lain dan tidak bukan agar kita intropeksi/muhasabah dan kembali ke jalan yang benar.

لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ruum :41)

Jumat, 30 September 2022

Mendidik Anak Perempuan Part 2

Suatu ketika do'i bertanya pendapatku bagaimana membesarkan anak perempuan? Aku tahu ini bukan hal mudah. Apalagi di sistem sekuler hari ini. Perasaan cinta dan naluri seksual sengaja dieksploitasi  terus menerus demi keuntungan materi. Idola-idola baru terus diciptakan agar pundi-pundi uang terus terisi. Korbannya siapa lagi jika bukan para generasi muda, generasi yang seharusnya melanjutkan peradaban.

Aku ingin menjawab pertanyaan tadi tidak dengan teori-teori pendidikan anak ataupun parenting. Tetapi tentang apa yang aku rasakan sebagai anak perempuan. Laki-laki berbeda dengan perempuan maka cara memperlakukannya pun tentu berbeda. Perempuan itu dikenal dengan kepekaan perasaannya. Maka kuncinya sebenarnya ada disitu.

Aku mungkin berasal dari broken-home family tapi aku menghargai segala usaha orangtuaku membesarkanku, terutama ayahku. Bahkan dibalik drama keluarga yang berlarut-larut kala itu, yang aku memberikan rasa sakit yang tidak sedikit tetapi beliau menjalankan perannya sebagai ayah dengan baik.

Menurutku, ini salah satu alasan mengapa aku tidak mudah mengalami masalah gharizatun nau (cinta) disaat anak gadis umumnya dengan mudahnya jatuh hati dan patah hati karena seorang lelaki. Sebab aku merasakan cinta ayah yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan gombalan maupun rayuan dari lelaki manapun. For me, he is my real love.

How?

Ayah adalah pendengar yang baik dan tempat curhat yang aman. Bagiku beliau sosok yang enak buat curhat. Tiap kali ada kesempatan aku dengan cerewetnya cerita apa yang aku alami seharian itu, hal yang aku suka, hal yang kubenci, hal yang bikin aku kesel, dan seterusnya. Aku masih ingat wajah menahan kantuknya karena aku terus-terusan bicara padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam.

Kami tidak selalu punya pendapat yang sama. Seringnya jalan pikiran kami berbeda. Tapi ayahku selalu menghargai jalan pikiranku dan pendapatku bahkan kepadaku yang masih kecil kala itu. Jika keinginanku tidak sejalan dengan apa yang beliau pikirkan baik, alih-alih memaksa atau memarahi, he changed my mind in a really nice way. Beliau menjelaskan dengan logis tanpa tendensi 'udah ikut kata orang tua aja, you are just a kid'. He is so wise.

 Dalam berbagai kesempatan, ayahku kerap memuji 'anakku yang cantik'. And you know, menurutku pujian ayah untuk anak perempuannya akan menjadikannya kuat menghadapi rayuan diluar sana. I feel this, ketika ada yang merayu diluar sana dalam hati kuberkata, 'haha, I know, my dad always says so'.

Ada banyak momen berkesan bersama beliau. Terutama ketika kami nge-date berdua di pinggir pantai sambil menikmati jagung bakar atau makan mie goreng Jakarta di kedai sederhana. Bercerita banyak hal. Tentang masa depan, tentang cita-cita, bahkan diskusi berbagai isu.

Kadang-kadang ayah mengajak masak bersama walau sebenarnya aku tidak menikmati kegiatan memasak aku tidak menikmati kegiatan memasak dan lebih sering menggerutu dan merengek buat beli aja, hihi.

Sebagai anak perempuan, momen-momen bersama ayah like a treasure. If you are a dad, please create your moment with her.

Another thing yang aku sukai sekali adalah ketika ayahku mengusap kepalaku. It feels so calming, menenangkan. And you know, mengusap kepala anak adalah salah satu sunnah Rasul. Do it to your kids and feel the wonder.

Semuanya tak bisa terangkum di post singkat ini. Ini hanya secuil how dad treats his daughter versiku. I love it dan cerita ini ke do'i. Berharap Birjees akan menjadi sahabat ayahnya.

Tulisan ini lebih terlihat seperti nostalgia, not tips basically. Poinnya soal membangun intimacy ayah dan anak perempuannya dan memenuhi tangki cinta mereka.

Ayah, jangan malu mengekspresikan cinta dan membangun intimacy dengan anak. Penuhi tangki cinta anak-anakmu agar mereka kuat menerjang badai kehidupan. karena Ayah, kamu adalah ayat Allah ar-Rahman ar-Rahim untuk anak-anakmu di bumi.

Mendidik Anak Perempuan Part 1

Perkataan seorang ulama Aljazair, Imam Abdul Hamid bin Badis, "Ketika kau mendidik anak laki-laki, maka kau sedang mendidik satu manusia. Namun ketika kau mendidik anak perempuan, sejatinya kau mendidik sebuah umat."

Kalau teringat perkataan ini membuat saya deg-degan. Bisa tidak ya aku mendidik anak-anakku dengan baik. Birjees berusia 10 bulan sekarang. Tak terasa sebentar lagi setahun, lalu dua tahun dan mungkin aku kaget kala tiba-tiba saja ia telah baligh. Tapi jangan sampai kekagetanku ini karena ketidaksiapanku.

Suatu ketika, ayahnya ngobrol soal masa depan Birjees. Soal bagaimana kami memilihkan jodoh yang baik untuknya dan bagaimana mendidiknya menjadi istri dari seseorang dan ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Meweklah aku. Masa baru brojol udah ngomongin sejauh itu. Huhu.

Tapi ya benar sih, Birjees gak selamanya jadi bayi lucu kayak sekarang. Ia akan tumbuh menjadi gadis dewasa kelak. Mendidik anak gak bisa sekedar 'let it flow'. Soalnya ini manusia loh. Gagal mendidik satu manusia, akibatnya bukan cuma dirinya tapi buat peradaban. Wabil khusus kalo ngomongin anak perempuan.

Dari rahim-rahimnya lah lahir penerus peradaban. Mereka adalah ibu generasi. begitupun sebaliknya. Jika para perempuan terdidik baik dengan visi-misi ukhrawi, maka ini menjadi modal besar bagi lahirnya generasi tangguh, generasi pemimpin, dan generasi khoiru ummah.

Hal ini ketika dunia berada dalam haegemoni kapitalisme, tugas mendidik anak perempuan menjadi semakin berat. Pandangan hidup sekuler menggerogoti para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Standar kesuksesan di masyarakat adalah soal capaian materi, nilai tinggi saat sekolah, dan dapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Sering kita mendengar orangtua memotivasi anaknya, "ayo sekolah yang pinter, biar nanti bisa kuliah di Univ X, dapet pekerjaan yang baik, bla bla bla..."

Ditambah lagi gempuran pemikiran rusak yang berusaha ditanamkan ke keluarga-keluarga muslim. Feminisme, liberalisme, relativisme, dan segala isme-isme asing. Kemaren childfree hari ini spirit doll. Kemarin kampanye 'gak perlu punya anak', hari ini kampanye 'adopsi boneka jadi anak'. Naudzubillah...

Ya dunia hari ini semengerikan ini. Belum lagi kalo ngomongin lingkungan tempat hidup kita yang jauh dari rasa aman. Tingginya angka kriminalitas. Pembunuhan, pemerkosaan, pedofilia, penculikan anak dan sederet kasus yang selalu menghiasi  layar kaca berita kita. Sistem hukum dan peradilan yang jauh dari kata adil. Sistem ekonomi yang jauh panggang dari menyejahterakan kita.

Tantangan mendidik anak hari ini tidak mudah. Bagaimana membentengi anak dari gempuran pemikiran rusak, mendidiknya menjadi seseorang yang paham visi misi hidupnya di dunia. Dan bagi anak perempuan, bagaimana mendidiknya menjadi calon ibu generasi khoiru ummah. Semoga Allah memudahkan dan menunjuki kita ya ayah.

Allahumma faqqih haa fid diini wa 'allimhaat ta'wiilaa 

Mencari Tempat Tinggal Yang Aman

Kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Termasuk dalam urusan tempat tinggal. Kita ingin menyediakan tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk anak bertumbuh dan berkembang. namun di era saat ini tentu semuanya begitu berbeda.

Mungkin diantara kita mengira uang adalah masalahnya. Jika punya uang bisa membeli rumah di tempat yang bagus atau membangun rumah yang aman dan membuat lingkungan yang nyaman bagi anak. Tapi ternyata tidak.

Mungkin diantara kita mengira tetangga adalah kuncinya. Jika tetanggamu baik, anak-anakmu akan baik juga sebab berada di lingkungan para tetangga yang baik. Tapi ternyata itu tidak cukup.

Mungkin diantara kita mengira hidup di kota yang low crime ratenya akan menjaga keamanan anak-anak kita. Tapi ternyata New Zealand yang terkenal sebagai negara paling aman pun tak luput dari serangan didasarkan islamophobia.

Mungkin diantara kita mengira jika lingkungan luar tak aman maka yang terbaik adalah memasukkannya ke sekolah asrama atau ke pesantren. Hingga kemudian kasus-kasus elgibiti dan bullying disana menyadarkan kita. Anak-anak tak selamanya di sana dan ia pasti akan bersinggungan dengan dunia luar. Tak mungkin mengerangkengnya bukan.

Jika dulu, pembicaraan kita soal memilih lingkungan yang tepat untuk tinggal adalah soal kotanya, soal lingkungannya, soal tetangganya, soal keamanan rumahnya, maka sebenarnya di era borderless hari ini semuanya menjadi berbeda. Kita hidup tidak lagi dibatasi secara fisik. Batas-batas kota hingga negara tiada artinya lagi, apalagi sekadar batas lingkungan dan rumah. Penemuan internet mengubah segalanya.

Hari ini anak-anak kita dididik tidak sekedar di wilayah lingkungan rumah dan tetangga kita tapi telah melewati batas-batas fisik itu.

Aku tau ini mengkhawatirkan. Sebab aku pun sebagai orang tua khawatir akan masa depan anak-anak kelak. Aku bertanya-tanya bagaimana aku akan menjaga anak-anakku dari pengaruh-pengaruh buruk diluaran sana.

Sedangkan hari ini apapun bisa diakses bahkan dari bilik-bilik istirahat kita. Referensi-referensi buruk bersliweran berusaha menghantam kita dan anak-anak kita. Jelas ini meresahkan.

Aku tahu tidak mengenalkan internet juga bukan solusi sebab hari ini internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Apakah kita akan mengirim anak-anak kita ke hutan belantara yang tak ada akses internet? Tentu itu bukan solusi pula.

KITA HARUSNYA SADAR BAHWA DI ERA BORDERLESS GAK ADA LAGI ISTILAHNYA TEMPAT YANG AMAN. Maka mencukupkan diri dengan 'ah yang penting aku tinggalnya di lingkungan yang islami', 'ah yang penting anakku sudah masuk pesantren', 'ah yang penting keluargaku paham islam semua', dan 'yang penting'-'yang penting' lainnya. Lantas dengan dalih itu kita jadi gak mau turut berjuang, turut melakukan perubahan, merasa bahwa urusan kita hanya soal keluarga kita, maka sebenarnya kita telah gagal paham bawa anak-anak kita bukan hanya bagian dari keluarga, tapi bagian dari masyarakat.

Aku tahu ini sulit. Ikut berjuang sepertinya melelahkan. Jalannya panjang dan mungkin penuh resiko. Tapi bukankah tidak melakukan apa-apa akan membuat semuanya lebih buruk. Akan berapa generasi lagi semuanya begini?

Kemaksiatan diorganisir dengan rapi demi menormalisasinya hingga anak-anak kita menerimanya sebagai hal yang lumrah. Lalu apakah kebaikan harus kita lakukan sendiri-sendiri dalam keluarga kita? Kenapa kita tidak memperjuangkan kebaikan secara terorganisir pula alih-alih berjuang sendiri-sendiri?

Maka merapat dalam barisan/jama'ah/kelompok dakwah adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh kita tinggalkan.

Jika tidak maka seperti kata Sayyidina Ali ra "kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak teroganisir".

Rabu, 28 September 2022

Ilmu dan Penuntut Ilmu

Sharing Night Bed Talk dengan ayah Birjees tiga malam lalu.
"Jika maksiat menghalangi masuknya ilmu, mengapa ada orang-orang yang beriman tapi punya ilmu dan membangun peradaban dengan teknologi maju?"

"Salah satu dampak kemaksiatan adalah terhalangnya masuknya ilmu". Nasehat ini sangat familiar terutama bagi para penuntut ilmu. Nasehat ini disampaikan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam bukunya Ad-Daa wad Dawaa. Salah satu kisah terkenal tentang 'maksiat yang menghilangkan ilmu' adalah hilangnya hafalan satu kitab Imam Syafi'i karena gak sengaja melihat aurat wanita yang tersingkap.

TAPI... "Lalu bagaimana posisi orang-orang cerdas dan berilmu tapi mereka adalah orang-orang yang tidak beriman? Bukankah tidak beriman adalah kasta tertinggi maksiat? Bukankah Thomas Alfa Edison, Einstein, Galileo Galilei adalah orang-orang yang tidak beriman tapi ternyata diberi ilmu oleh Allah?"

"Jika maksiat menghalangi masuknya ilmu, mengapa ada orang-orang tidak beriman tapi punya ilmu dan membangun peradaban dengan teknologi maju? Lihatlah bagaimana barat maju dengan ilmu pengetahuannya tanpa keimanan".

Di era sekuler hari ini, peran Tuhan dalam kehidupan dinafikan. Seolah bilang gini 'lu punya ilmu dan harta gak ada hubungannya dengan lu taat dengan Tuhan (agama) atau nggak'. Pernyataan seorang guru besar di Kalimantan yang sempat viral di FB beberapa waktu lalu ya kurang lebih menegaskan hal yang sama bahwa orang-orang yang gak taat sama perintah Tuhan ternyata pinter-pinter dan berprestasi kok.

Dari sini yang ingin disampaikan mereka sebenarnya "mengikuti perintah agama itu hanya non sense belaka". 

Sebenarnya gimana sih relasi antara ilmu dan si penuntut ilmu?

Segala ilmu dan pengetahuan yang ada di dunia ini sejatinya berasal dari Allah Al Alim. Allah Al Alim memberi ilmu kepada siapapun yang Allah kehendaki, baik itu orang beriman, taat, maupun yang maksiat. Itu adalah hak prerogatif Allah. Gak bisa kita menuntut Allah, 'ya Allah kenapa Archimedes Engkau beri ilmu tentang relasi gaya berat dan gaya apung padahal ia tidak beriman kepada-Mu'.

Ilmu dan penuntut ilmu sebenarnya tidak selalu mengimplikasi satu sama lain. Penuntut ilmu yang taat tidak selalu pasti dikaruniai ilmu dan kemudahan menuntut ilmu. Pun sebaliknya. Ilmu itu bisa merupakan KARUNIA yang membuat siempunya semakin dekat dengan Allah dan bisa pula merupakan ISTIDRAJ yang membuat siempunya semakin jauh dari Allah. Ilmu bisa menjadi jalan hidayah bisa pula menjadi jalan sesat bagi siempunya.

Kalo kita memahami ini tentu gak heran kenapa ada misionaris yang bisa hafal Al-Quran. Kenapa ada intelektual muslim tapi kerjaannya malah merekonstruksi ajaran Islam sesuai arahan musuh-musuh Islam. Disisi lain ada yang bener-bener niatnya lillah menghafal Al Quran, sudah menjaga diri dari maksiat tapi masih sulit menghafal.

Hal yang harus kita tanamkan dalam diri adalah bahwa pasti ada ibrah dibalik itu. Bisa jadi karena niat kotor dan maksiat sang penuntut ilmu, Allah beri ia ilmu agar ia semakin tersesat. Bisa jadi Allah tidak beri ilmu kepada seseorang karena Allah hendak menjaga hamba-Nya itu.

MENUNTUT adalah kewajiban dan tentu ada hisabnya. Ada rambu-rambu didalamnya yang berkaitan dengan pahala dan dosa. Ada adab-adab yang senantiasa kita junjung dalam proses menuntut ilmu. Sedang MEMPEROLEH ILMU adalah wilayah yang tidak kita kuasai, Allah lah yang Maha Berkehendak memberi ilmu itu atau tidak. 

Fokuslah pada apa yang kita kuasai. Lakukan sesuai apa yang Allah perintahkan, niatkan lillah dan jalani sesuai petunjuk-Nya. Patuhi adab-adabnya bukan semata demi mendapat ilmu tapi keberkahan proses menuntut ilmu.

Kalau ilmu dari Allah, kenapa sih orang yang tidak beriman dan orang yang maksiat juga diberi ilmu?

Sebenarnya pertanyaan ini mirip juga dengan: Kalau Rizki dari Allah, kenapa sih orang yang tidak beriman dan orang yang maksiat juga diberi Rizki?

Rizki harta, kesehatan, ilmu, keselamatan dunia, Allah beri kepada siapapun yang Allah kehendaki. Inilah bukti betapa Allah Ar-Rahman. Kasih sayangnya begitu luas meliputi seluruh makhluk-Nya. Hal ini justru harusnya membuat kita makin taat bukan malah mendurhakai-Nya. Sebab tidak ada yang menyayangi sebesar sayangnya Allah pada makhluk-Nya.

Selalu ingat bahwa menuntut ilmu adalah ibadah sebagaimana ibadah-ibadah lain yang kita lakukan untuk bertaqarrub ila Allah (mendekat pada Allah). Maka ilmu yang kita harapkan adalah ilmu yang bermanfaat. Tidaklah ilmu itu bermanfaat kecuali mengantarkan pada hidayah.

Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan "Ilmu yang bermanfaat adalah sesuatu yang dapat membuat dada terasa begitu lapang dan dapat menyingkap tirai yang menyelimuti hati. Ilmu yang paling baik adalah ilmu yang disertai rasa takut pada-Nya. Jika ilmu disertai rasa takut pada-Nya, ia akan berguna bagimu. Namun jika tidak, maka ia hanya akan menjadi petaka bagimu."


Mengapa Aku Go Abroad

Lima tahun lalu keinginanku untuk study abroad akhirnya terwujud. Setelah berkali-kali gagal hingga kesempatan itu tiba. Malam ini aku berusaha menggali memori masa lalu itu, alasan awal kenapa aku ingin sekolah keluar negeri. Walau pada perjalanannya alasan itu tentu saja berubah. Namun pemicu awal itu sesuatu yang tak bisa diabaikan.

Aku menginjak usia remaja kala itu. Seragam putih biru kukenakan dengan bangga sembari membayangkan betapa indahnya tumbuh dewasa. Bertemu dengan kawan baru hingga mungkin jika beruntung bisa jatuh cinta.

Namun, kenyataan tidak seperti ya kubayangkan. Rumah tempatku hidup yang sebelumnya penuh dengan bahagia dan memori indah dijahili atau menjahili saudara-saudara, lalu berubah.

Kehangatan itu menghilang seiring hilangnya cinta dua insan berganti benci. Semuanya pergi dengan urusannya masing-masing lalu tinggallah aku. Aku yang sedang dalam fase memasuki dunia remaja seakan ditampar keras oleh kenyataan. Kenyataan bahwa hidup itu tidak selalu berjalan seperti yang kau mau. Tapi hidup itu adalah sesuatu yang harus kau lalui siap atau tidak.

Rasanya seperti babak belur, terluka, berdarah tapi tak ada yang mampu melihatnya. Tapi hidup harus terus berjalan bukan? Alaminya manusia adalah mencari cara bahagia bagaimana pun dan dimana pun. Lalu rasa ingin pergi jauh itu pun muncul. Ya, aku harus pergi ke tempat yang jauh. Entah ke benua lain di bumi atau ke planet lain di galaksi Bima sakti. Jika Elon Musk saat itu menawariku jadi relawan ke Mars mungkin aku mengiyakan.

Saat melihat gadis kecil yang sedang tertidur di sampingku ini, aku berpikir bagaimana jika kelak ia ingin pergi karena tidak bahagia. Bagaimana aku membesarkannya tanpa trauma? Aku khawatir tentang rumah yang kami bangun untuknya. Bukan fisiknya tapi kehangatannya. Akankah menjadi rumah yang selalu ia rindu? Ataukah rumah yang ia ingin pergi darinya sejauh-jauhnya?

Anak-anak suatu saat akan pergi dari kita, orang tuanya. Tapi aku ingin memastikan mereka pergi bukan karena kesepian, bukan pula karena tidak bahagia. Semoga Allah Al Hadits senantiasa menunjuki kita dalam setiap proses pengasuhan dan pendidikan anak-anak kita serta di setiap usaha kita membangun keluarga yang hangat dan bahagia karena Allah. Aamiin.